Conclave dan aku yang suka mengamuk
Disclaimer: Bukan review film tapi spoiler.
Sebagai
orang yang senang sekali dengan film Spotlight, suka juga dengan Two Pope, saya
penasaran dengan film Conclave. Apalagi setelah mendengar review dari Cine Crib,
jadi langsung memantapkan diri untuk nonton walau mata masih burem banget waktu
itu. Habis pendarahan. Jadinya nonton filmnya sama setengah burem dan tidak
yakin teksnya kebaca.
Ternyata
sesuai dugaan, saya senang banget sama filmnya. Rasanya ada orang dengan posisi
yang sama dengan saya dalam memandang gereja dan mempertontonkannya di layar
lebar. Conclave yang menceritakan tentang bagaimana pemilihan Paus dengan semua
intrik politiknya. Bagaimana ada Kardinal yang sudah menjadi calon kuat,
ternyata sudah memiliki anak dengan seorang suster. Ada lagi Kardinal yang
memiliki pandangan konservatif yang ingin memerangi Islam, apalagi ada
pembomban yang dilakukan oleh teroris pada saat yang sama, dan tentu saja
digambarkan dilakukan oleh teroris Islam. Kardinal lain memang berniat sekali
jadi Paus, sampai menggalang banyak dukungan dari Kardinal lain, dengan
melakukan politik uang dan membuka rahasia dari Kardinal lain.
Buat saya,
dan mungkin buat banyak orang Katolik lain, kondisi ini bukan hal yang baru
untuk dilihat. Pastor dengan skandal seksual atau skandal keuangan adalah hal
yang jamak didengar dari berbaga tingkatan. Dan biasanya hanya dimaklumi,
dipindah sebentar, lalu kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Sebagaimana juga
yang diceritakan di dalam film, di mana Adeyemi tidak bisa lagi dicalonkan
menjadi Paus karena sudah memiliki anak. Tapi tampaknya alasannya dia tidak
lagi bisa mencalonkan diri menjadi Paus, lebih karena menghindari skandal yang
lebih besar, menjaga nama baik. Kayanya itu Adeyemi balik lagi ke negaranya,
dan bakal lanjut jadi Kardinal dengan damai dan sejahtera. Suster yang adalah
Ibu dari anaknya, mungkin juga akan ditempatkan jauh-jauh dari si Kardinal.
Di
Indonesia sendiri, sekitar tahun 2019-2020 yang lalu, sempat marak beberapa media
yang memberitakan berbagai kasus pelecehan seksual yang terjadi dalam gereja
Katolik. Sesuatu yang sempat saya obrolkan juga dengan Romo Benny, Provinsial SJ.
Kata beliau, gereja dan media itu seperti Daud dan Goliath, Gereja Goliathnya.
Dalam pertarungan jangka panjang, gereja tetap yang akan menang. Dan melihat
perkembangannya, bisa jadi memang demikian adanya. Sekarang berita-berita itu
juga lenyap begitu saja digantikan isu negara yang lebih riuh dan menegangkan.
Dari
kenyataan ini, saya akhirnya harus setuju bahwa Gereja Katolik memang terlalu besar
untuk digoyang dengan hanya satu dua berita mengenai sekandal seksual yang ada
di dalamnya. Mereka organisasi yang besar dengan banyak sumber daya dan
pengalaman panjang untuk mengatasi masalah demikian—walaupun rasanya aneh
mengatakan seakan skandal seksual adalah hal yang lumrah. Namun, saya pernah
menjawab juga dalam suatu surat, bisa jadi Goliathnya ini sekarang menderita
diabetes jika masalah seperti ini tidak diatasi. Sesuatu yang merusak dari
dalam dan akan menyebabkan komplikasi. Penyakit yang akan membuat burem mata
atau kaki diamputasi.
Beberapa
tahun bergelut dengan permasalahan skandal seksual di gereja sampai akhirnya
memilih menyerah karena membuat leher berasa kenceng terus menerus, membuat
saya belajar dan mempertanyakan banyak hal. Kenapa ketika ada Pastor yang
melakukan skandal seksual, ternyata tidak mengakibatkan dia batal imamatnya?
Hal ini sering saya komparasi, walau tidak apel to apel dengan anak yang
mencontek. Bisa jadi ketika masuk ke sekolah, anak itu sudah sepakat kalau ketahuan
mencotek akan dikelurakan dari sekolah, maka itulah yang terjadi. Tapi bukankah
imamat juga mensyaratkan selibat? Kenapa kalau tidak sampai ada kejahatan
berat, tidak sampai membuat imamatnya dicabut?
Sampai
sekarang, masih bingung dengan standar gandanya. Sampai sekarang rasanya masih
tidak terima mengingat diajari segala peraturan oleh siapa, dan bagaimana
peraturan itu diterapkan di kalangan sendiri yang tidak terlihat memberikan
akibat yang sama kerasnya. Saya masih ingat dengan jelas teman-teman Pamong
yang bangga melakukan pendisiplinan siswa dengan menyuruh anak itu memotong
rumput dengan gunting kertas. Kayanya mereka keren sekali sudah memikirkan
hukuman itu. Tapi saya tidak melihat ada Pastor yang dikenai hukuman semacam
itu karena misalnya, mencium paksa umat perempuan. Skandal seksual semacam ini
juga sulit jika misalnya dilaporkan ke pihak kepolisian. Satu karena sama saja
misoginisnya. Kedua, biasanya kasus skandal seksual yang terjadi tidak melibatkan
kekerasan fisik atau melibatkan anak-anak.
Saya dulu sekali,
waktu era HP belum ngetren seperti sekarang, saya punya teman dekat yang
sekolah di Seminari, dan saya bersurat dengannya. Kami tau kalau surat itu akan
mengalami sensorship oleh Pamongnya. Jadi saya pernah iseng nulis di kartu pos
dengan tulisan yang berputar-putar, iseng saja gitu. Lalu aturan sekeras itu,
ke mana ketika Pastornya menjadi dewasa dan malah melakukan sesuatu yang seakan
di masa pendidikan begitu terlarang? Kata mantan delegat safeguarding yang saya
pernah ajak curhat, katanya, kan mereka juga manusia yang butuh keintiman, jadi
punya relasi intim, ya boleh saja. Rasanya, ketika sedang menegakkan disiplin,
mereka membawa Tuhan, namun ketika harus dikenai, manusianya yang dikedepankan.
Kemanusiaan
para Pastor ini memang sering membuat gegar sebenarnya. Sebagai orang dari desa
yang ketemu Pastor cuma saat misa saja, saya pernah menjadi manusia umum yang
melihat Pastor itu ya, walau banyak menyebalkannya di Paroki, tapi ya lumayan
suci lah. Sampai ketika banyak main ke Pingit, ikut mengurusi beberapa hal.
Saya jadi ketemu sisi menyebalkannya lebih banyak. Rasanya dalam periode tidak
lama, saya sudah mengamuk beberapa kali ke Frater-frater masa itu. Soal bantuan
Merapi, di mana saya merasa orang yang mengurusi meremehkan orang yang meminta
bantuan. Ya dengan segala alasannya lah ya mereka, takut bantuan disalahgunakan,
dan saya dengan pandangan, orang sudah minta bantuan itu kan ya sudah kepepet.
Saya memang lugu dan polos. Tapi kami sama-sama tidak ada bukti kayanya apakah
yang minta bantuan beneran butuh atau nipu, kenapa tidak memilih berprasangka
baik saja.
Mengamuk
berikutnya karena ada kerja bakti yang batal di Pingit. Masa-masa di mana sebelumnya
para volunteer sudah melihat ada gap antar pengurus. Saya sampai menunjuk muka
salah satu pengurusnya yang sempat saya ajak bicara. Di mata saya, dia jegal rekan
komunitasnya. Bisa jadi tidak demikian, setelah berjarak, saya melihat, dari
sisi sebelahnya juga tidak bijaksana dengan bercerita ke pada saya yang masih
lugu dan polos waktu itu. Mengamuk yang ternyata terus berlanjut sampai
sekarang, dari mengamuk sama frater, sampai terakhir kalau mau marah-marah, langsung
ke Romo Provinsial, lumayan juga ternyata peningkatan karir mengamuk saya.
Sekarang, saya
memilih untuk berjarak dengan tempat di mana pernah saya sebut sebagai rumah.
Saya tidak tahu apakah mengamuk saya ada gunanya. Saya melihatnya, khusus untuk
permasalahan seksual, ini permasalahan sudah sangat lama, penelitian sudah
sangat banyak, tuntutan untuk perubahan juga saya pikir tidak kurang. Namun
terakhir saya ngobrol dengan rekan frater, dia masih memandang perempuan sebagai
objek yang disalahkan ketika nilai keluarga tradisional mulai bergeser. Ada
jarak pengetahuan yang sangat lebar dari beberapa orang yang saya ajak bicara
terutama soal gender equality.
Melihat
kondisi masyarakatnya, sebenarnya itu bukan hal yang aneh. Jika para Pastor ini
adalah perwakilan dari masyarkat, maka produknya tidak akan membaik jika
pandangan masyarakatnya tidak berubah. Di sisi lain, sumber daya pendidikan untuk
mereka jelas tidak kurang, jadi buat saya, ketika data sudah disajikan dan
tidak mau berubah, ya bebal saja. Status quo sebagai anak dewa itu memang enak,
kenapa harus dibuang untuk gender equality.
Saya juga
menyadari, bahwa saya tidak punya akses dan banyak pengetahuan mengenai
perubahan apa yang sudah terjadi. Seperti sekarang sudah ada beberapa perempuan,
biarawati tampaknya yang memegang jabatan tinggi di Vatican. Bisa jadi sudah
ada perubahan di pendidikan atau kurikulumnya, walau gosip terakhir, saya
dengar ada pelatihan mengenai kesetaraan gender yang dilakukan ditertawakan
oleh pesertanya. Tapi hasil dari pendidikan itu sendiri, bisa jadi baru bisa
dilihat 20 tahun dari sekarang. Jadi yang mari ditunggu saja.
Akhir dari
film Conclave yang menjadikan Kardinal Benitez sebagai Paus, mungkin menjadi harapan
dari penulisnya. Akhir yang membuat saya merasa, bisa jadi ini yang dibutuhkan
oleh gereja Katolik, dipimpin oleh seseorang yang memiliki Kerahiman.
Komentar
Posting Komentar