Rabu, 01 Oktober 2014

Semester Neraka

Ahhh... bagaimanapun juga ini terasa sebagai semester neraka buat saya dan mungkin buat teman-teman saya yang lain juga. Neraka dengan nama proposal tesis. 
Semester ini ada tiga mata kuliah yang isi mata kuliahnya hanya mengublek-ublek proposal kami masing-masing. Mengumpulkan tulisan, membaca, mendiskusikan, dicecar dan dibongkar lagi idenya, dibongkar lagi tulisannya, membaca buku lain lagi, rasanya siklusnya seperti itu terus menerus. Baik bagi yang sudah mendapatkan pertanyaan penelitian yang sudah pasti, tetapi bagi yang masih mbingungi kaya saya ini, kuliah ini jadi mulai terasa menyiksa. Satu jam dicecar di kelas, dibolak-balik logikanya itu lelah, Sodara.
Kami ini sudah mulai merasa terkuras. Banyak dari kami yang mulai membolos karena kelelahan dan ketakutan pastinya. Saya juga. Mulai ada yang menghilangkan dompet, melupakan kunci motor, dan yang pasti jam tidur kami mulai bertambah panjang. Withdrawl mungkin ya kalau menurut mekanisme pertahanan diri psikologi.
Kemudian apa yang kami tuliskan juga harus mengikuti dosen-dosen yang membimbing kami, dengan gaya dan dasar pemikiran mereka masing-masing juga pastinya. Ada dosen yang mengarahkan pada ketertarikan dulu, yang membuat hasrat kita sebagai peneliti mengawang ke mana-mana. Di kubu yang lain ada dosen yang menekankan pada literatur yang kami baca, bahwa penelitian itu ya hanya dalam tataran akademis, belumlah masuk ke lapangan dan menyelesaikan masalah. Jadi tugasnya adalah bagaimana kami menyatukan semuanya dalam sebuah proposal penelitian.
Masih juga buat saya ada tambahan kuliah pilihan yang belum ditempuh semester-semester yang lalu. Kuliah yang jelas menuntut tugasnya masing-masing. Tampaknya ada yang akan berakhir dengan seminar, ada yang satu semester ini harus membaca (teorinya) 17 buku. Satu buku setiap minggu yang harus diberi review.
Melihat tumpukan ini malah membuat saya freeze. Saya membeku dan tidak bisa berkutik. Membaca juga tidak selesai-selesai rasanya, menulis juga masih belum bisa memutuskan akan menulis apa. Dan melihat teman-teman yang sudah maju, saya tambah galau. Hicks...
Intinya saya galau akademis.....

Minggu, 07 September 2014

Kalo Bosen, Enaknya Ngapain Eeaaa???

 Akhir-akhir ini saya sering mendapat curhat teman-teman yang temanya mirip-mirip lah. Paling banyak adalah bosan dengan hidup dan kerjaannya. Ya bukan berarti si teman ini bosen dan pengen pindah dari hidup yang sekarang ke hidup yang lain sih. Tapi lebih bosen dengan apa yang dilakukan sekarang ini. Bosen dengan rutinitas dan hidup sehari-hari yang dirasa begitu-gitu melulu. Bangun pagi, ngantor, pulang, persiapan buat ngator, tidur, dan begitu terus. Masih mending kalau ada kegiatan yang lain di luar kantor. Paling nggak ada kegiatan yang bikin hidup terasa lebih berwarna. Masih mendingan kalau gajinya besar di kantor, paling ngga bosennya nggak sia-sia, dan kalau luang ada kesibukan buat menghabiskan uang yang didapat. Tragisnya kalau udah bosen, terus kerja lembur terus nggak sempet ngapa-ngapain lagi, terus gajinya ngepas pulak. Plus di kator dapet abuse dari atasan, sudahlah…

Senin, 25 Agustus 2014

TK Kyai Mojo

Pendidikan di Indonesia ini memang memiliki beragam rupa. Saya secara kebetulan bergaul dan kecempung dalam lingkungan yang nggak jauh-jauh dari masalah pendidikan dan perkembangan anak-anak ini. Terutama anak-anak di taman kanak-kanak dan pendidikan dasar. Dari pergaulan saya ini saya jadi akrab dan cukup tau dengan beberapa macam pendidikan yang berkembang atau tidak berkembang saat ini. 
Beberapa sekolah menjual kurikulum impor, inklusi, bilingual atau trilingual, dan memiliki berbagai fasilitas yang kelas satu. Beberapa sekolah lain masih berjibaku dengan jumlah murid yang semakin menipis, dan kondisi keuangan yang juga tipis. Kali ini saya berdiri di sisi TK Kyai Mojo, sekolah dengan murid dan keadaan yang begitulah...

Emang Kami Misa?

Beberapa hari ini saya mengikuti persiapan seorang teman dalam mempersiapkan Ekaristi Kaum Muda atau EKM di desanya. Persiapan dan segala hal tentang EKM ini membawa ingatan saya pada sebuah EKM yang saya ikuti beberapa bulan yang lalu yang menimbulkan perdebatan dan meriah dengan berbagai artikel pro-kontra yang mengikutinya. Saya sendiri nggak dong dengan masalah Liturgi yang diperdebatkan.
Saya dan OMK saya di Temanggung bertaun-tahun yang lalu juga pernah membuat EKM kami sendiri. Dua yang saya ingat betul. Satu untuk tahun baru 2006, satu lagi untuk hari Valentine 2006.

Analisis Artikel Jokowi dan Perpustakaan

Ini adalah tulisan yang dikumpulkan kepada Bapak Haryatmoko sebagai tugas akhir semester mata kuliah Hermeneutika.


JJ Rizal, Sejarawan, @JJRizal, Majalah Gatra, 19-25 Juni 2014

diambil dari twitter @JJRizal



Adakah cara yang paling gampang untuk mengukur sebuah kota beradab atau tidak? Pertanyaan ini muncul pada hari mulia, World Book Day, di Museum Nasional Jakarta 23 April lalu dalam diskusi memperingati Kartini. Siapapun tahu, Kartini dan buku seperti gigi dengan gusi; dekat sekali.