Selasa, 16 Juni 2015

Berbicara Autoetnografi

Ini adalah tugas kuliah Penulisan Artikel Ilmiah yang ternyata hasilnya menurut saya tidak terlalu ilmiah dan masih juga dalam proses revisi untuk proyek metodologi penelitian. Saya mah emang nanggung gitu orangnya (ternyata)... Belum selesai udah dipublish aja.

Metode penelitian menggunakan autoetnografi adalah suatu metode penelitian yang masih terbilang cukup baru untuk digunakan dalam penelitian sosial terutama di Indonesia. Masih banyak perdebatan dan kritik yang ditujukan pada metode ini, antara lain adalah subjektifitasnya yang sangat tinggi, permasalahan mengenai kode etik dalam penelitian, kurang analitis, dan peneliti tidak perlu turun ke lapangan sebagaimana lazimnya suatu penelitian. Tulisan ini merupakan suatu argumentasi mengenai metode autoetnografi sebagai suatu metode penelitian yang akademis, valid, dan analitis dalam penelitian sosial, terutama dalam kajian budaya.

Kata kunci: autoetnografi, metode penelitian

Autoetnografi adalah salah satu metode penelitian yang semakin banyak digunakan dalam 15 tahun terakhir. Hal ini dinyatakan oleh Sara Delamont dalam tulisannya yang berjudul The only honest thing: autoethography, refelxivity and small crises in fieldwork yang diterbitkan pada tahun 2009. Saya sendiri baru mengenal metode penelitian ini ketika saya menempuh mata kuliah Kajian Gender pada tahun 2013. Bagi saya metode ini merupakan suatu metode penelitian yang menarik untuk digunakan karena memberi kesempatan pada peneliti atau penulisnya untuk mengekspresikan dirinya dalam karya yang dia hasilkan. Carolyn Ellis (2004), Professor dalam bidang komunikasi dan sosiologi serta pengajar di University of South Florida, dalam bukunya The Ethnographic I memberi definisi singkat mengenai autoetnografi yaitu sebagai suatu metode penulisan yang berangkat dari pengalaman pribadi penulis, dan mengamati sensasi fisik, perasaan, pikiran dan emosi. Suatu introspeksi sosiologis yang sistematis dan mengingat ulang suatu pengalaman yang emosional untuk lebih memahami pengalaman yang sudah dijalani (Ellis, 2004: xvii). Adanya kesempatan dan ruang bagi penulis untuk mengekspresikan dirinya dan pengalaman dirinya tanpa terlalu berjarak dengan tulisannya bagi saya adalah suatu nilai lebih dalam metode ini, tetapi bagi beberapa peneliti lain, hal ini malahan menghilangkan keilmiahan dari metode autoetnografi.
Heewon Chang (2008) dalam bukunya Autoethography as Method memiliki pendapat yang sejalan dengan pendapat di atas. Ia menyatakan bahwa metode ini memberi ruang dan kesempatan bagi penulis atau peneliti untuk menggunakan suara dan pengalaman pribadinya untuk lebih memahami lingkungan atau situasi budaya yang ada di sekitarnya (Chang, 2008; Wall, 2008). Selain itu, pada beberapa tulisan mengenai penggunaan metode autoetnografi juga dinyatakan bahwa penggunaan metode ini memberikan efek yang baik atau menyembuhkan diri secara mental bagi para penulisnya (Ellis, 2004: 19). Hal ini bisa dibenarkan karena dengan mengeksplorasi apa yang kita alami dan kita rasakan, kita dapat lebih memahami apa yang terjadi pada diri kita serta hal-hal apa saja yang memengaruhi pemikiran dan perasaan kita. Bagi saya yang memiliki latar belakang psikologi, saya jadi memiliki ketertarikan tersendiri terhadap kesehatan mental seseorang dan metode ini jadi memiliki nilai tambahnya tersendiri.
Di sisi lain, saya juga tidak dapat menutup mata mengenai perdebatan yang ada di balik penggunaan metode ini. Metode autoetnografi yang terbilang masih cukup baru ini juga membawa permasalahannya tersendiri. Metode ini mengangkat kisah hidup dari penulis sebagai sumber data utama dari sebuah penelitian. Hal ini menimbulkan banyak masalah dan pertanyaan. Masalah yang paling sering muncul adalah mengenai subjektivitas dari penulis itu sendiri. Apakah penggunaan data pribadi memberikan jarak yang cukup bagi penulis untuk memandang permasalahannya secara objektif? Apakah penulis akan cukup kritis untuk menganalisa permasalahan yang ada dari dalam data pribadinya? Permasalahan lain yang juga muncul adalah mengenai kualitas data, legitimasi, dan juga permasalahan kode etik (Wall, 2008: 39). Dari pertanyaan dan perdebatan ini saya ingin berangkat dan memulai perjalanan saya untuk memahami metode penelitian autoetnografi secara lebih jauh.

Autoetnografi dan Perdebatan di Sekitarnya
Sara Delamont dalam tulisannya yang berjudul Arguments againts Auto-Ethnography[1] dengan cukup keras melakukan kritik terhadap metode penelitian autoetnografi. Ia menggunakan kata yang keras yaitu ‘lazy’, malas. Delamont menyatakan bahwa pada dasarnya metode penelitian ini adalah suatu metode penelitian yang malas, baik secara harafiah maupun secara intelektual (Delamont, 2007: 2). Selain itu ia juga mengajukan ada enam keberatan mengenai metode penelitian autoetnografi yaitu:
1.     Autoetnografi tidak dapat melawan (bersikap kritis) terhadap hal-hal yang sudah umum atau sudah diterima oleh masyarakat di sekitar penulis
2.    Hampir mustahil untuk mempublikasikan kisah autoetnografi tanpa menemui permasalahan etis. Permasalahan ini terkait dengan pemberian ‘informed consent’ kepada orang-orang yang kisah hidupnya ikut menjadi data dalam cerita pribadi peneliti.
3.    Autoetnografi hanya menitikberatkan (mendasarkan) pada pengalaman dan kurang analitis
4.   Autoetnografi berfokus pada pihak yang kuat, bukan pada pihak yang lemah sebagaimana keberpihakan yang saat ini berkembang dalam bidang sosiologi
5.    Metode ini mencabut kewajiban peneliti untuk keluar dan mengumpulkan data.
6.   Diri kita tidak cukup menarik untuk dituliskan dalam jurnal, untuk diajarkan, dan mengharapkan perhatian dari pihak lain.
Delamont dalam artikel yang diterbitkan oleh jurnal Ethnography and Education pada tahun 2009, masih mengajukan enam keberatan dan argumen yang sama dalam menentang penggunaan metode autoetnografi ini sebagai metode penelitian. Di sini saya mengambil posisi yang berlawanan dengan Delamont. Saya dalam tulisan ini mencoba berargumen dan memaparkan pemahaman dan pembacaan saya mengenai metode penelitian autoetnografi sebagai suatu metode penelitian yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan.

Autoetnografi sebagai Metode Penelitian Sosial
Penelitian yang dilakukan untuk memahami diri sendiri (self-naratives) atau lingkungan tempat di mana peneliti tersebut tinggal sudah banyak dilakukan dewasa ini, Melihat pengalaman diri sendiri ini membuat peneliti menjadi peneliti sekaligus objek dari penelitian tersebut (Lincoln & Denzin, 2003: 19). Ada banyak variasi istilah yang digunakan dan berbagai metode penelitian yang dapat digunakan yang terasosiasikan dengan arti dan penggunaan dari autoetnografi seperti personal narattives, narasi tentang diri, kisah diri (self stories), auti-observasi, personal etnografi, autobiografi kritis, radical empiricism, evocative naratives, etnografi refleksif, metode biografi, indigenous anthropology, antropological poetics, dan performance ethnography (Lincoln & Denzin, 2003: 19). Lalu apa yang membedakan autoetnografi dengan model penulisan lainnya?
Istilah autoetnografi sendiri menurut David Hayano pertama kali didengarnya pada tahun 1966 dalam seminar strukturalisme Sir Raymond Firth di London School of Economis (Hayano, 1979: 99). Dalam tulisannya Auto-Ethnography: Paradigms, Problems, and Prospect ini, Hayano menyoroti tentang munculnya tren dalam bidang antropologi yang mulai banyak melakukan penulisan etnografi pada “orang-orangnya sendiri” (Hayano, 1979: 99).
Autoethnography sendiri bukanlah suatu teknik penelitian, metode, atau suatu teori yang spesifik, tetapi ia mewarnai setiap bagian dalam penelitian lapangan yang dilakukan (Hayano, 1979: 99). Heewon Chang (2008) mengawali penjelasannya mengenai metode autoetnografi dengan menyatakan bahwa bercerita atau narasi merupakan salah satu kegiatan yang sudah lama dilakukan oleh manusia, bahkan mungkin sudah ada sepanjang sejarah kehidupan manusia. Orang-orang saling menceritakan kenangan masa kecil, pembentukan atau sejarah suatu keluarga, komunitas, atau suatu suku bangsa. Dalam perkembangannya cerita-cerita mengenai kehidupan seseorang atau suatu autobiografi disebut dengan self-narative (Chang, 2008: 31).
Penulisan mengenai diri sendiri ini semakin berkembang dan banyak dilakukan pada beberapa dekade terakhir. Self-narative sendiri memiliki beberapa genre atau beberapa kategori, Chang (2008) membaginya menjadi tujuh kategori[2]. Dalam tulisan kali ini saya secara khusus akan membahas dan membicarakan mengenai penulisan autoetnografi.
Sama seperti metode penelitian yang lain, memutuskan menggunakan metode penelitian autoetnografi juga harus disesuaikan dengan tema dan tujuan penelitian yang kita lakukan. Seperti misalnya mencari korelasi atau perbedaan dua variabel akan lebih cocok dengan menggunakan metode statistik, atau melihat suatu akibat dari perlakuan dengan metode eksperimen. Sejak awal kita perlu menyadari bahwa ada tema-tema dan tujuan penelitian yang bisa diteliti dengan menggunakan metode penelitian autoetnografi dan ada juga yang tidak (Adams, Jones & Ellis, 2015: 21).
Perkembangan dari autoetnografi sendiri tidak terlepas dari tren di mana subjektivitas dan refleksifitas dari peneliti mulai dihargai dalam pandangan postmoderenisme (Chang, 2008; Wall, 2008). Sejalan dengan pandangan tersebut, Adams, Jones & Ellis (2015) menjelaskan bahwa autoetnografi adalah suatu metode kualitatif yang menawarkan adanya suatu pengetahuan yang memperlihatkan adanya perbedaan nuansa, kompleksitas, dan pengetahuan yang spesifik mengenai suatu bagian kehidupan, pengalaman, dan relasi daripada suatu informasi yang bersifat umum tentang sekelompok besar manusia.
Lebih lanjut Leon Anderson dalam tulisannya Analytic Autoethnography menjelaskan akan adanya suatu kecenderungan yang baru dalam dua dasawarsa belakangan ini dalam penelitian sosial dan kemanusiaan. Model penelitian ini merupakan suatu model penulisan dengan genre yang kabur, yang menekankan pada refleksifitas dari penulis dalam suatu penelitian etnografi, meningkatkan fokus pada emosi dalam penelitian sosial, dan adanya skeptisisme dari postmodernisme mengenai ketidakpercayaan akan adanya klaim pengetahuan yang digeneralisasikan secara luas (Anderson, 2006: 373).
Menurut saya, semua penulisan itu merupakan suatu produk yang subjektif, hal itu tercermin dari fokus penelitian yang dipilih, sudut pandang penulisan, sampai kesimpulan yang diambil. Hal ini juga diamini oleh Paula Saukko (2003) dalam bukunya Doing Research in Cultural Studies, An Introduction to Classical and New Methodological Approaches. Ia membuka bukunya dengan pernyataan bahwa argumen yang diangkatnya dalam buku ini adalah bahwa suatu penelitian atau metodologi penelitian tidak akan pernah ‘objektif’ tetapi selalu kontekstual (located), selalu dipengaruhi oleh posisi sosial dan peristiwa sejarah tertentu dan memiliki agenda atau tujuan tertentu (Saukko, 2003: 3). Dalam kasus autoetnografi permasalahan mengenai subjektivitas dari peneliti ini lebih ditunjukkan dan “dirayakan”.
Subjektivitas dalam penelitian ini saya rasakan benar dalam membaca suatu hasil penelitian ataupun dalam proses penulisan karya ilmiah itu sendiri. Sebagai contoh adalah apa yang saya alami dan rasakan dalam pengerjaan bab 2 penelitian tesis saya. Bab 2 ini saya rencanakan untuk berbicara mengenai konteks sejarah orang keturunan Cina yang ada di Indonesia. Suatu bagian yang menurut saya pada awalnya tidak akan bersentuhan dengan pengalaman pribadi saya sama sekali. Ternyata saya salah. Saya merasakan benar subjektivitas itu dari buku-buku yang saya pilih untuk dibaca, bagian-bagian yang saya baca, dan kutipan-kutipan yang saya ambil untuk saya tuliskan dalam membangun argumen saya dalam tulisan tersebut. Apa yang saya baca dan apa yang saya rencanakan untuk saya tulis dalam bab 2 saya tersebut berbeda sekali dengan bagian yang sama dalam tesis dari Alwi Atma Ardhana[3] (2013). Pada bab tersebut penulis juga membahas mengenai konteks dan sejarah orang keturunan Cina yang ada di Indonesia, tetapi buku yang dia baca dan bagian yang dituliskan sangat berbeda dengan pilihan-pilihan yang saya ambil. Di sini saya melihat bahkan untuk bagian yang tidak personal seperti konteks sejarah, kita tetap bisa melihat subjektivitas dari penulis.
Sebenarnya mengenai autoetnografi sendiri ada banyak pemahaman dan genre yang berkembang tergantung di mana seni penulisan mengenai diri ini berkembang. Penulisan kali ini mengambil pemahaman yang diangkat oleh Chang (2008) yang memahami penulisan autoetnografi sebagai penulisan kombinasi analisa budaya dan interpretasi dengan detail yang bersifat naratif. Autoetnografi adalah suatu metode penelitian yang menggunakan data autobiografi dari peneliti untuk menganalisis dan menginterpretasikan asumsi budaya mereka (their cultural assumptions) (Chang, 2008).
Ellis dan Bochner dalam Chang (2008) memberikan suatu model yang menjelaskan mengenai kompleksitas dari variasi autoetnografi. Mereka menjelaskan bahwa dalam penulisannya, autoetnografer harus selalu menyesuaikan penekanan dalam proses penelitian (graphy), pada budaya (etno), dan pada diri (auto), dan setiap hasil penulisan dari autoetnografi berada pada kontinum antara tiga aspek tersebut. Lebih lanjut Chang (2008) menyimpulkan bahwa dalam penulisan autoetnografi kita harus menjaga keseimbangan antara ketiga aspek tersebut. “I argue that autoethography should be ethnographic in its methodological orientation, cultural in its interpretive orientation, and autobiographical in its content orientation” (Chang, 2008).
Dari beberapa pemaparan di atas, dapat kita lihat bahwa autoetnografi memiliki posisinya sendiri dalam suatu penelitian. Ia memiliki kompleksitasnya sendiri dalam memandang suatu permasalahan, baik itu identitas, kehidupan, relasi, dan pengalaman personal seseorang. Untuk dapat mengungkapkan hal-hal tersebut dalam suatu desain penelitian bukanlah hal yang mudah. Suatu desain penelitian autoetnografi yang diharapkan dapat mengungkapkan kompleksitas-kompleksitas itu tidak dapat hanya dengan menggunakan rancangan penelitian yang berupa eksperimen, survei, atau daftar pertanyaan saja. Namun bagaimanapun juga autoetnografi memiliki beberapa hal yang menjadi prioritas, perhatian, cara-cara dalam melakukan penelitian (Adams, Jones & Ellis, 2015: 26). Hal itu meliputi:
1.     Mengedepankan pengalaman pribadi dalam penelitian dan penulisan
2.    Menggambarkan proses pembentukan makna
3.    Menggunakan dan menunjukkan refleksifitas
4.   Menggambarkan pengetahuan dari orang dalam (insider) dari suatu fenomena budaya/pengalaman
5.    mendeskripsikan dan mengkritisi norma budaya, pengalaman, dan kebiasaan
6.    Mencari respon dari pembaca
Lebih lanjut, dalam penjelasannya mengenai bagaimana melakukan penelitian autoetnografi, Chang (2008) mencoba menjelaskan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan baik itu sebelum maupun saat melakukan penulisan autoetnografi itu sendiri. Salah satu hal yang ditekankan dalam penulisan autoetnografi adalah mengumpulkan data kenangan.
Kenangan atau memori adalah suatu hal yang penting dalam penulisan autoetnografi. Kenangan adalah faktor pembentuk diri kita saat ini. “Recalling” atau mengingat kembali suatu kejadian dalam penelitian autoetnografi memiliki perinsip yang sama dengan apa yang dilakukan oleh penelitian etnografi dari genre yang lain (Chang, 2008: 71). Sedangkan dalam autoetnografi, penulis memiliki keuntungannya tersendiri. Sebagai penulis kita memiliki akses penuh pada pengalaman dan interpretasi kita akan apa yang terjadi di masa lalu. Selain itu kita juga menjadi tangan pertama yang bisa memilih ingatan mana yang relevan dalam penelitian yang sedang kita lakukan (Chang, 2008: 27).
Dalam mengumpulkan data kenangan ini, Chang (2008) memberikan beberapa panduan yang sudah pernah dia lakukan dalam melakukan penulisan autoetnografi yaitu menyusun kembali kenangan berdasarkan hal-hal besar yang terjadi dalam kehidupan, seperti pernikahan, kelahiran, lulus sekolah, pindah tempat tinggal atau perubahan karir. Hal lain yang digunakan dalam menyusun kenangan adalah berdasarkan perayaan tahunan atau kejadian sehari-hari, seperti perayaan hari raya keagamaan, pertemuan komunitas yang diadakan setiap minggu, rapat, sampai waktu bersama keluarga. Kegiatan keseharian inilah tempat di mana orang-orang belajar mengenai bahasa, kebiasaan, budaya dan dapat menyatu dengan pola-pola yang ada dalam masyarakat (Chang, 2008: 72-75).
Hal ini berarti bahwa walaupun dari segi isi atau data penelitian autoetnografi banyak menggunakan data yang dimiliki oleh peneliti itu sendiri tetapi tetap harus menggunakan prinsip dan disiplin dari metode penelitian etnografi. Seperti dalam pengumpulan data, penulisan data lapangan, dan penggunaan data lain untuk melakukan triangulasi validitas data (wawancara, observasi, data pustaka, dan artefak). Selain itu pada hasilnya autoetnografi tidak hanya menekankan pada kisah yang dimiliki oleh autoetnografer itu sendiri melainkan harus menghasilkan suatu analisa atau interpretasi mengenai konteks budaya dan pemahaman mengenai liyan (other) baik yang berhubungan secara langsung maupun tidak langsung. Penulis dituntut untuk memperlakukan datanya dengan kritis, analitis, dan interpretatif untuk menemukan wacana yang ada.
Dari pemaparan di atas saya memahami bahwa dalam penelitian kajian budaya di mana lived experience menjadi suatu aspek yang penting dalam penelitian, autoetnografi juga menjadi suatu model penelitian yang dapat digunakan dalam bidang ilmu kajian budaya. Autoetnografi sendiri memiliki keuntungan dalam mendapatkan data mengenai pengalaman-pengalaman yang bersifat personal, seperti pengalaman mengenai sakit, gangguan mental, relasi, atau pengalaman kehidupan terutama pada orang-orang yang termarjinalkan yeng sulit diungkapkan pada orang lain. Banyak contoh penulisan autoetnografi yang menceritakan tentang pengalaman penulisnya dalam menghadapi pengalamannya sebagai kaum minoritas baik secara kelas, gender, agama, maupun dalam pengalamannya mengenai keterbatasan fisik dan mental.
Salah satu keuntungan yang besar dari autoetnografi adalah dari pandangan bahwa self adalah suatu perpanjangan dari komunitas, alih-alih sebagai suatu individu yang bebas atau terlepas dari komunitas tersebut. Self-sufficient being, karena kemungkinan dari analisa personal bersandar pada pemahaman bahwa diri merupakan bagian dari suatu komunitas budaya. (Chang, 2008) p.26

Contoh lain dari autoetnografi adalah tulisan dari Paula Saukko dalam bukunya Anorexic Self. Di sini ia mencoba mendeligitimasi pandangan-pandangan yang selama ini ada mengenai anoreksia yang terjadi pada wanita. Ia mencoba menyatakan ketidakpuasannya akan pandangan mengenai anoreksia yang selama ini banyak diseskripsikan oleh para pskiater, media, dan para feminis. Di sini Saukko menganailisis dan mengkritisi wacana normatif mengenai perempuan dan menggambarkan kembali dari sisi yang berlawanan apa yang selama ini dianggap sebagai gangguan anoreksia (Saukko, 2008: 1-2).

Mengolah, analisa, dan interpretasi data
Lalu data seperti apakah yang kita butuhkan dalam melakukan penelitian dan penulisan dengan metode autoetnografi ini? Bagaimana kita menganalisa data tersebut? Dan sejauh apa interpretasi dilakukan dengan metode ini?
Di sini saya ingin menceritakan sedikit contoh mengenai suatu penelitian yang dilakukan oleh Michael Hemmingson yang berjudul Zona Norte: The Post-Structural Body of Erotic Dancer and Sex Worker in Tijuana, San Diego and Los Angeles: an Auto/ethnography of Desire and Addiction, Hemmingson menuliskan tentang peneltian autoetnografi yang dilakukannya di Zona Norte, suatu area prostitusi di perbatasan Amerika dan Mexico. Ia menceritakan pengalaman dan ketertarikannya pada dunia prostitusi di area itu. Dalam penelitian ini selain menceritakan pengalaman yang dialaminya dengan para penari telanjang, ia juga menceritakan bagaimana perasaannya saat melakukan penelitian itu. Bagaimana dia tertarik dengan wanita-wanita yang dianggapnya mirip seorang teman atau seorang mantan kekasih. Ia juga menceritakan mengenai kondisi sejarah, sosial, dan politik yang membentuk kota Tijuana, kota tempat di mana penelitian itu berlangsung. Pada bab ke empat dalam bukunya, dia menceritakan tentang dirinya yang kecanduan Tramadol, obat penghilang rasa sakit yang bisa dengan mudah dan murah di dapatkannya di apotek-apotek di Tijuana.
Lebih jauh, Hemmongson tidak hanya menceritakan pengalaman-pengalamannya itu, baik dengan para pelacur yang disewanya maupun pengalamannya sebagai pecandu obat penenang, tetapi dia juga mengkritisi pengalaman-pengalaman tersebut dari berbagai sudut pandang. Seperti dia menganalisis seleranya dalam memilih wanita yang akan disewanya, pendapat orang lain dan pendapat dirinya sendiri bahwa dia merupakan seorang yang kesepian hingga melakukan penelitian ini, bias-bias yang menurutnya dialaminya, sampai pada ia merasa begitu ‘jatuh’ ketika menyadari dirinya kecanduan Tramadol. Sampai akhirnya dia berusaha berhenti mengkonsumsi obat-obatan tersebut (Hemmingson, 2008).

And that is how I see myself now—a seeker of truth, a body desiring transendence and the truth. Every time I take the trolley down to the international border to get another bottle of my new reality, I am comfortable with the veracity I have embraced (Hemmingson, 2008: 104).”

Mengkritisi apa yang terjadi dalam diri sendiri dan mengkritisi hal apa saja yang membentuk dirinya. Melihat bias-bias apa saja yang dibawa. Mencari kebenaran atau pembenaran akan apa yang terjadi dan dialami.
Hemmingson dalam penelitiannya ini menggunakan narasi dalam mengisahkan pengalaman yang dialaminya. Ia menceritakan apa saja yang dialami dan dilakukannya, bagaimana pertimbangan-pertimbangan dan refleksinya, juga hal-hal apa yang dirasakan selama kejadian itu berlangsung. Ia juga memberikan setting lokasi, waktu, dan tokoh-tokoh yang terlibat di dalam kisahnya. Banyak bentuk lain yang bisa pilih dan digunakan dalam penulisan autoetnografi, ada yang menuliskan dalam bentuk puisi (Jhonson, 2014: 85), esai, ataupun fiksi (Hemmingson, 2008:)
Autoetngografi merupakan sebuah cara penulisan atau pengumpulan data dalam suatu penelitian sosial. Hemmingson (2008) dalam penelitiannya lebih jauh menggunakan metode tambahan dalam melakukan interpretasi pada penelitian yang dilakukannya. Dia menjelaskan bahwa interpretasi dalam penelitiannya ia menggunakan metode imaginasi sosiologis untuk bisa melihat dan menggambarkan kondisi sosial-ekonomi, budaya, sejarah, dan lingkungan di sekitar para pekerja sex komersial di Tijuana yang menjadi area penelitiannya (2003: 11).
Dari sini saya menyimpulkan bahwa autoetnografi tidak dapat berdiri sendiri sebagai suatu metode penelitian. Metode ini tetap membutuhkan cara yang lain agar data yang didapat bisa diinterpretasikan dan menemukan maknanya.

Kesimpulan
Autoetnografi adalah suatu metode penelitian yang tergolong baru dalam ranah akademis. Walaupun istilah dan genre ini sudah muncul cukup lama, tetapi baru dalam dua dasawarsa terakhir ini autoetnografi banyak digunakan dalam suatu penulisan akademis. Kemunculan yang tidak dapat dipungkiri menimbulkan banyak perdebatan di dalamnya mengenai subektifitas dan permasalahan etis. Bagi saya, autoetnografi adalah suatu cara saya untuk bersuara, membantu saya menyatakan diri, dan mengeluarkan saya dari posisi subaltern saya sebagai minoritas di Indonesia. Di sini saya menyatakan bahwa belum tentu posisi penulis autoetnografi adalah seseorang yang berada di posisi yang kuat seperti yang dikatan Delamont di awal tulisan ini. Mungkin iya setelah suatu tulisan autoetnografi jadi, penulisnya akan berada di posisi yang kuat dan bisa bersuara, tetapi dari mana penulis itu berasal, kita tidak dapat memastikan.
Kritik dari Delamont di awal yang menyatakan bahwa penelitian ini merupakan suatu metode yang malas dan mengambil kewajiban peneliti untuk terjun ke lapangan menurut saya adalah suatu tuduhan yang emosional dan tidak berdasar di sini. Jika peneliti itu malas karena tidak terjun ke lapangan, maka akan sangat banyak peneliti dalam bidang sastra dan filsafat yang juga malas dan semua studi pustaka yang mereka lakukan adalah produk dari kemalasan tersebut. Dapat kita lihat salah satu contohnya dalam penelitian yang dilakukan Hemmingson yang tetap terjun ke lapangan dan menemui narasumbernya dan penelitiannya juga merupakan suatu penelitian autoetnografi karena perspektif penulisan yang diambilnya.
Sama seperti metode penelitian yang lain juga, ada tema-tema yang memang cocok untuk diteliti dengan metode autoetnografi, dan ada juga yang tidak. Hal ini tidak berarti bahwa metode yang tidak dapat meneliti semua tema menjadi suatu metode yang tidak ilmiah untuk dilakukan. Tidak semua tema juga bisa diteliti menggunakan statistik, dan itu tidak membuat metode statistik menjadi suatu yang tidak ilmiah.
Mengenai masalah subjektifitas, di sini saya mengutip pernyataan dari Katrin Bandel dalam tulisannya Gender dan Posisionalitas yang dipaparkannya pada Studium Generale Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma pada 12 Desember 2012
“Sebuah tulisan akademis yang berbicara dengan suara yang sangat berjarak tanpa sekalipun mempersoalkan psosisi subjektif penulisnya, tidaklah lebih netral dan objektif daripada tulisan yang secara eksplisit berangkat dari subjektifitas penulisnya. Tulisan seperti itu hanyalah terkesan lebih objektif, sebab perspektif penulisnya tidak disadari atau tidak diakui (Bandel, 2013: 14).”

Saya ingin menutup tulisan saya ini dengan kutipan yang dituliskan oleh Hemmingson untuk mengakhiri pengantar bagian kedua dari penelitiannya,

“Kita tidak pernah benar-benar tau secara menyeluruh pengalaman yang dimiliki orang lain. Beberapa mungkin berkenan membagi pengalaman mereka, tetapi setiap orang melakukan sensor atau represi, atau mungkin tidak sepenuhnya menyadari atau memiliki kemampuan untuk mengartikulasikan aspek-aspek tertentu yang sudah dialami (Bruner dalam Hemmingson, 2008: 118).”

Saya setuju sepenuhnya dengan kata-kata Bruner di atas. Jadi mengapa kita bisa lebih menerima hasil penelitian orang lain (peneliti luar negeri misalnya) yang membuat penelitian (atau kategorisasi) atas diri kita dan menganggapnya sebagai suatu kebenaran dari pada apa yang diri kita sendiri alami dan maknai, hanya atas nama objektivitas?


Daftar Pustaka

Adams, T. E., Jones, S. H., & Ellis, C. (2015). Autoethography Understanding Qualitative Research. New York: Oxford University Press.
Anderson, L. (2006). Analytic Autoethnography. Jounal of Contemporary Ethnography , Volume 35 Number 4, 373-395.
Bandel, K. (2013). Gender dan Posisionalitas. Gender dan Posisionalitas: Merumuskan Kerja Akademis yang Sadar Gender (pp. 2-27). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Chang, H. (2008). Autoethnograpy as Method. California: Left Coast Press, Inc.
Delamont, S. (2007, February 4). Arguments againts Auto-Ethnography. Quality , pp. 2-4. (diunduh pada 1 Maret 2015)
Delamont, S. (2009). The only honest thing: autoethnography, reflexivity and small crises in fieldwork. Ethnography and Education , 51-63. (diunduh pada 1 Maret 2015)
Ellis, C. (2004). The Ethnographic I A Methodological Novel About Autoethnography. United States of America: AltaMira Press.
Hayano, D. (1979). Auto-Ethnography: Paradigms, Problems, and Prospects. Human Organization , Vol. 38, no. 1, 99-104. (diunduh pada 1 Maret 2015)
Hemmingson, M. (2008). Zona Norte: The Post-Structural Body of Erotic Dancers and Sex Workers in Tijuana, San Diego and Los Angeles: an Auto/ethnography of Desire and Addiction. Cambridge: Cambridge Scholar Publishing. (diunduh pada 28 Mei 2015)
Johnson, A. L. (2014). Negotiating More, (Mis) labeling the Body: A tale of Intersectionality. In R. M. Orbe, Critical Autoethnography (pp. 81-95). California: Left Coast Press, Inc.
Lincoln, Y. S., & Denzin, N. K. (2003). Turning points in qualitative research: tying knots in hankerchief. Walnut Creek, CA: Alta Mira Press.
Saukko, P. (2003). Doing Research in Cultural Studies, An Introduction to Classical and Ne w Methodological Approach. London: Sage Publication.
Saukko, P. (2008). The Anorexic Self, A Personal, Political Analysis of Diagnostic Discourse. Albany: State University of New York Press.
Wall, S. (2008). Easier Said than Done: Writing an Autoethnography. International Journal of Qualitative Methods , 38-53.





[1] Artikel dari Sara Delamont ini adalah tulisan yang pernah dipresentasikan pada European Sociological Association conference; ‘Advance in Qualitative Research Practice’ pada September 2006. Tulisan ini juga diterbitkan kembali di Qualiti (halaman 2-4), suatu terbitan mengenai penelitian kualitatif dari Cardiff University pada 4 Februari 2007. Artikel saya unduh pada Kamis, 12 Maret 2015 dari http://www.cardiff.ac.uk /socsi/qualiti/QualitativeResearcher/QR_Issue4_Feb07.pdf)
[2] 7 kategori tersebut adalah autoetnografi; memori dan autobiografi (MA)—rasial, etnik, dan bahasa; MA—permasalahan religius; MA—politik, konflik sosial, dan perang; MA—kenangan masa kecil, hubungan keluarga, dan pertumbuhan; MA—permasalahan gender; MA—ketidakmampuan (disability), penyakit, dan kematian (Chang, 2008: 32)
[3] Masyarakat Cina dan Kekerasan Objektif dalam Karya Sastra: Sebuah Kritik Ideologi atas Multikulturalisme, 2014, Alwi Atma Ardhana, Tesis Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma.

Selasa, 26 Mei 2015

Hoy Cino!

Sudah lama sekali saya tidak dicina-cinakan oleh orang selain teman saya. Bahkan saya sudah tidak ingat kapan saya terakhir disapa oleh orang asing dengan sebutan itu. Tapi tadi pagi hal itu terjadi di sebuah gang di Demangan situ itu.
Saya baru saja selesai dari makan sop empal dan mau berangkat ke kampus. Berhubung sop itu tempatnya mblesek jadi ya mau tidak mau saya lewat gang-gang yang ga kecil-kecil amat lah sebenernya. Naa... di gang tersebut waktu saya mau lewat, ternyata sudah ada dua mobil yang stuck di situ. Satu mercedes benz hitam ke arah timur dan satu mobil putih sedan juga yang saya nggak ngeh itu mobil jenis apa. Saya berhenti di belakang mercedes sambil melihat bagaimana kedua mobil itu bisa saling melepaskan diri. Karena gangnya bener-bener mepet untuk kedua mobil tersebut.
Lalu sopir dari mobil putih itu membuka jendela, mengeluarkan tangan dan berteriak, "Hey Cino...!" 
Saya tidak terlalu mendengar apa yang dia katakan selanjutnya, saya hanya langsung memutar motor dan mencari jalan yang lain. 
Rasanya masih membuat darah saya mendidih ketika diteriaki demikian. Saya tidak bisa memastikan 100% apakah kata itu yang dia teriakkan, ataukah kata yang lain. Apakah ditujukan kepada saya atau bukan. Saya tidak bisa memastikan itu. Tetapi otak saya menangkap demikian.
Saya lalu bertanya-tanya, mengapa dari banyak penanda dalam diri saya kata 'Cino' lah yang dipilih. Kenapa nggak 'hey mbak!' apa 'hey ndut!' Kan bisa juga ya...
Lalu saya juga berpikir lagi sesi dua, jika kata Cino itu digantinya dengan tionghoa, 'hey tionghoa!' apakah perasaan saya akan lebih baik? Rasanya nggak juga sih... Saya juga tidak yakin walaupun tidak ada konotasi negatif yang menempel pada suku lain, misalnya Jawa atau Batak, apakah ketika diteriakin seperti itu di jalan oleh entah siapa apakah akan tetap baik-baik saja ya?

Selasa, 19 Mei 2015

Cina dan Aktivisme

Tidak banyak hal yang terjadi pada tahun 1998 yang saya alami. Dalam ingatan saya yang kala itu masih 11 tahun, kekacauan yang terjadi itu berada di luar rumah, berada jauh di dalam televisi. Saya hanya ingat saya melihat pengumuman mengundurkan diri dari Presiden Soeharto di televisi dengan masih memakai seragam putih merah. Pulang sekolah setelah ujian.
Saya hanya mengingat bahwa ada beberapa tempat yang dirusak, ada rumah-rumah yang dilempari batu dan selama berbulan-bulan jendela yang tadinya tertutup kaca, menjadi tertutup lembar-lembaran tripleks. Saya hanya mengingat, kota kecil yang tempat saya tinggal ini harus kehilangan CFC, waralaba ayam goreng pertama dan satu-satunya yang buka di Temanggug, dan langsung tutup ketika ada perusakan di tahun itu, dan tidak pernah ada lagi sampai sekarang. Persentuhan paling dekat adalah ketika tetangga belakang rumah saya berlari sambil berteriak-teriak ke arah toko saya kalau ada “hura-hura” yang menuju ke arah rumah kami. Kepanikan membuatnya salah mengucapkan huru-hara.
Kami semua langsung bergegas menutup toko. Merantai drum minyak tanah di depan rumah, mengangkat minyak tanah yang masih ada di tempat penampungannya masuk ke dalam dan segera menutup toko kami sebelum huru-hara itu datang mendekat. Hanya sejauh itu yang saya ingat. Saya bahkan lupa apakah toko kami dilempari batu atau tidak, atau apa yang kami lakukan setelah toko tutup malam itu.
Saya malahan mengingat orangtua saya mengumpulkan semua emas yang kami miliki. Kalung, anting-anting saya yang hanya tinggal sebelah, perhiasan milik mama saya, cincin, dan entah apa lagi, mereka menjualnya ketika harga emas melambung begitu tinggi. Hanya menyisakan sepasang anting emas hadiah ulang tahun dari Papah buat Mamah, dan cicin kawin mereka tentunya. Penjualan yang menghasilkan uang yang cukup besar kala itu.
Jika dilihat kembali, saya tidak banyak bersentuhan dengan apa yang terjadi di Jakarta kala itu. Sejauh yang saya ingat, tidak ada berita buruk yang menimpa saudara-saudara saya yang Cina dan tinggal di Jakarta kala itu. Malah ketika beberapa bulan yang lalu saya bertanya kepada Wak saya yang tinggal di Jakarta masa itu, beliau berkata bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi. Bahkan ia yang tinggal di kawasan Kelapa Gading itu berkata kalau keadaan berjalan normal, beliau memasak dan ke pasar seperti biasa. Entah apakah memang seperti itu keadaan yang beliau alami ataukah ada salah mengingat atau tidak mau mengingat. Mungkin memang seperti itu, tetapi karena banyak berita yang sudah saya terima selama ini bahwa kerusuhan kala itu begitu mencekam maka saya jadi skeptis dengan pernyataan beliau. Saya bahakan sedikit menyalahkan usia beliau dan meragukan ingatannya. Mungkin demikian…
Tapi kejadian yang menurut saya secara objektif itu tidak saya alami, ternyata memengaruhi saya sampai sekarang ini. Dan kejadian-kejadian di IRB akhir-akhir ini membuat saya merefleksikan ini.
IRB atau kajian budaya adalah kuliah yang sepaham saya dibangun dengan semangat perlawanan. Salah satu tulisan awal yang saya baca adalah tulisan dari St. Sunardi dalam Retorik yang berjudul Pada Mulanya adalah Perlawanan. Jadi harus melawan, harus menentukan posisi, siapa yang dibela, siapa yang disuarakan, siapa yang dilawan, pihak mana yang mendapat keuntungan dari penindasan yang sudah dilakukan. Itu yang saya pelajari. Dan mau tidak mau, pada akhirnya saya terlibat dan nyemplung juga di dalamnya.
Saya sudah dikatakan sebagai ‘kiri’ sejak beberapa tahun yang lalu oleh seorang teman. Tetapi dalam benak saya, saya sebenarnya tidak berani benar-benar melawan. Saya tidak cukup percaya diri untuk bisa melawan, saya merasa tidak cukup berani, tidak cukup mampu. Sampai sekarang rasanya saya tidak banyak berubah. Ketika ada pemutaran film yang dibatalkan, ketika ada gerakan untuk membuat petisi untuk suatu advokasi dan saya terlibat di dalamnya, ini yang saya katakan, “Aku Cina, kalau aku melawan nanti aku diperkosa gimana.” Atau “Aku ki Cina, nanti kalo aku cari masalah tokoku nanti dibakar.” Itu yang muncul.
Ketakutan itu ada dalam diri saya. Saya tergerak oleh orang-orang yang ditindas korporasi, saya tergerak dengan anak-anak jalanan yang terpaksa harus tinggal di rumah petak kecil dan hamil di bawah umur. Tetapi saya tetap takut jika saya harus menghadapi ancaman parang, diculik, disiksa, atau bahkan dilenyapkan. Cuma gereja yang berani saya lawan, karena melawan Romo-romonya tidak akan membuat saya dilenyapkan. Paling tidak sepanjang pengetahuan saya Keuskupan Agung Semarang tidak mempunyai represif aparatus. Jadi mungkin aman ya…
Jika berhadapan dengan teman-teman yang berani bersuara keras dan langsung terjun ke lapangan, buat saya itu mereka tidak berpikir panjang. Saya memberi diri saya ini alasan bahwa saya ini realistis, tetapi mungkin saya hanya pengecut. Hmmm….. berat juga ya untuk mengakui diri ini pengecut dari pada megatakan orang lain itu gegabah.
Saya hanya merasa saya berada di posisi yang begitu rentan dan ada banyak orang yang berada di belakang saya jika terjadi apa-apa dengan diri saya. Saya tidak mungkin diancam dengan parang misalnya dan kembali pulang dengan mental yang tetap utuh. Ketakutan akan aparat atau penguasa itu rasanya juga sudah berakar dalam di diri saya. Orang tua saya memilih untuk sebisa mungkin menghindar jika harus berurusan dengan aparat. Ketika toko kami kemalingan pun, percakapan yang ada di rumah tidak pernah positif tentang para polisi yang mengurus kasus kami. Ketika ada barang bukti yang ditemukan, rasanya malah membahas uang tebusan yang harus dikeluarkan untuk menebus barang-barang tersebut. Jika bisa menghindari masalah, kenapa juga harus dikonfrontasi.
Jadi, rasanya sampai sekarang, ketika urusannya bukan sampai nyawa atau kehidupan, rasanya saya begitu enggan untuk ikut berjuang. Jika hanya berurusan dengan pelarangan diskusi atau menonton film dan harus berurusan dengan RSA, rasanya buat apa begitu keras untuk berjuang dan melawan. Jika kemungkinannya adalah diperkosa, toko dibakar, diculik, atau dilenyapkan, rasanya memang harus banyak pertimbangan untuk melakukan perlawanan. Memilih apa yang benar-benar mau diperjuangkan dan meluangkan waktu untuk melakukan persiapan. Paling tidak jika sampai harus terlihat dalam perlawanan, saya ingin memastikan saya cukup senjata untuk bisa melukai bahkan mematikan lawan. Jadi membuat petisi tanpa persiapan, buat saya itu masih kebodohan.

Senin, 04 Mei 2015

Katanya pada Mulanya adalah Perlawanan…

Mulai sekolah di sekolahan yang saya jalani ini, pada mula pelajaran saya sudah dihadapkan pada artikel yang berjudul demikian, “Pada Mulanya adalah Perlawanan…” Ceritanya, kalau saya nggak salah inget dan gagal pahan, tulisan ini menunjukkan bahwa pada awal mula pembentukan kajian budaya adalah adanya perlawanan atau resistensi dari kelompok-kelompok budaya tertentu. Di mana ada suatu hegemoni atau kekuasaan maka disitulah kajian budaya akan ada dan bersuara. Di mana ada ketertindasan di situlah seharusnya orang yang bisa bersuara menyuarakan suaranya sendiri atau menyuarakan suara-suara orang lain yang tertindas. Suara orang yang mendapatkan double colonisation. Bahkan salah satu sarat yang harus dipenuhi dalam membuat tema penelitian tesis salah satunya adalah adanya perlawanan dari tema yang diangkat tersebut. Ada kaum yang dibela atau suaranya disuarakan dalam penelitian tersebut. Itu retorikanya.

Selasa, 31 Maret 2015

Autoetnografi apaan sih?

Berbulan-bulan ini saya sedang bergulat dengan satu istilah ini, autoetnografi. Istilah yang menghantui saya dan membuat saya berdebat dengan beberapa orang mengenai kesahihan penggunaan istilah ini. Lalu apaan sih sebenarnya autoetnografi ini? 
Ambil dari sini http://doingautoethnography.org

Autoetnografi sendiri adalah suatu merode penelitian yang meneliti manusia tetapi fokusnya adalah pada diri sendiri. Pada kisah hidup penulisnya sendiri sesuai tema yang diangkat. Hal ini sebenarnya sudah terlihat dari asal katanya itu sendiri, penulisan autoetnografi adalah penulisan yang memberikan penekanan dalam proses penelitian (graphy), pada budaya (ethno), dan pada diri (auto) (Heewon Chang, 2008).
Lalu kemudian apa yang menjadi masalahnya dengan ini. Saya kurang begitu paham sebenarnya dengan maksud dibalik istilah-istilah ini, tapi begini kata teman-teman dan buku mengenai perdebatan seputar metode ini, 
"Bagi orang-orang yang beraliran positivistik, metode ini dianggap sebagai suatu metode yang tidak dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya karena sangat subjektif. Sangat sulit untuk membiarkan diri tetap netral dan berjarak ketika kita meneliti diri kita sendiri atau lingkungan di mana kita hidup selama ini. Singkat kata, penelitian ini tidak objektif." 
Salah satu kritik yang saya baca adalah kritik dari Sara Delamont dalam artikelnya yang berjudul Arguments againts Auto-Ethnography. Tulisan ini adalah tulisan yang pernah dipresentasikan oleh Delamont pada European Sociological Association conference; ‘Advance in Qualitative Research Practice’ pada September 2006. Tulisan ini juga diterbitkan kembali di Qualiti (halaman 2-4), suatu terbitan mengenai penelitian kualitatif dari Cardiff University pada 4 Februari 2007 (artikel saya unduh pada Kamis, 12 Maret 2015 dari sini). Dalam artikel ini Delamont melakukan kritik yang cukup keras terhadap metode autoetnografi ini, dia mengatakan bahwa metode ini adalah metode yang malas, malas membaca dan malas meneliti (literally lazy and also intellectually lazy). Metode ini juga dikatakannya sebagai metode yang mengambil kewajiban para peneliti karena peneliti itu seharusnya terjun ke lapangan dan bukan malah meneliti diri sendiri di rumah saja. Ya tidak saya kutip dengan tepat di sini, tapi kira-kira begitulah isinya.
Lalu kemudian saya yang tadinya hanya sekadar ingin menggunakan metode ini, mau tidak mau harus mulai memelajarinya dengan lebih sungguh-sungguh agar saya bisa mempertanggungjawabkannya di depan publik. Bahkan dosen pembimbing dua saya saja tidak menyetujui penggunaan metode ini. Main-main sekali kan ya hidup saya ini. Tapi untuk mendebat pernyataan mbak Delamont ini, atau mbak-mbak dan mas-mas yang lain, saya merasa tidak sanggup. Ya... siapalah saya ini. Saya belum lama belajar mengenai metode ini, saya belum pernah menggunakan metode ini untuk melakukan penelitian. Baru saya mau pakai sekali ini saja, saya diperdebatkan. Tapi ya sutralah, maju terus saja. Kata Mbak Katrin, Ibu Dosen Pembimbing, karena sudah dinyatakan dengan eksplisit dalam proposal dan sudah diloloskan, berarti boleh. Alhamdulilah ya...

Naaa... lalu beginilah kira-kira penelusuran saya, tapi untuk tulisan kali ini saya akan lebih banyak refleksinya, soalnya ini blog curhat bukan blog yang ngilmiah.

Saya tidak tau ada masalah apa antara orang-orang yang positivis dengan orang-orang postmodernisme, yang pasti, ketika katanya orang-orang positivis menentang penggunaan metode yang dianggap menye-menye dan emosional ini, metode autoetnografi malah tumbuh di atmosfer postmodernisme. Begini katanya Chang (2008) Perkembangan dari autoetnografi tidak terlepas dari trend di mana subjektivitas dan refleksifitas dari peneliti mulai dihargai dalam pandangan postmoderenisme (Chang, 2008; Wall, 2008). Nah! Saya ini kan cuma mahasiswa ndeso yang nggak tau apa-apa dan harus terseret-seret dalam pertentangan kedua kubu ini. Kubu yang eksistesinya saja tidak saya pahami dan tidak saya ketahui. 
Omongan mengenai tulisan itu subjektif juga diamini oleh Paula Saukko. Semua tulisan itu ya subjektif, nggak ada yang objektif, pasti punya agendanya sendiri, punya sudut pandangnya sendiri (Saukko, 2003: 3). Saukko sendiri pernah menulis pengalaman pribadinya mengenai dirinya sebagai orang yang menderita anorexia, judulnya adalah The Anorexic Self. Tapi saya nggak berani ngomong soal buku ini soalnya saya bacanya belum beneran. 
Tetapi ya, mengenai masalah subjektifitas ini saya juga setuju sebenarnya. Coba beberapa orang diberi masalah penelitian yang sama dan suru mengerjakan sendiri-sendiri, pasti hasilnya akan berbeda. Saya dan teman saya Mas Alwi itu sama-sama meneliti mengenai orang Cina di Indonesia, tetapi apa yang saya baca tidak sama dengan apa yang dia baca. Sudut pandang dia yang bukan orang Cina, dengan sudut pandang saya yang Cina, juga pasti akan membuat perbedaan di tulisan. Minat dia yang sastra dan minat saya yang suka makan, pasti juga akan membuat penelitian dengan tema yang sama ini akan bermuara di tempat yang berbeda. Kata Saukko dalam bukunya Doing Research in Cultural Studies perbedaan-perbedaan dan pengetahuan yang sudah kita bawa itu namanya sosial baggage.
Lalu kemarin ketika saya melihat pertunjukan teater dari Tony Broer yang sepemahaman saya, pertunjukan itu merupakan bahan dari desertasinya, saya jadi bertanya, bukankah itu juga auto? Entah pakai kata etnografi apa bukan tapi autonya. Mas Tony, dan mungkin juga penelitian dalam bidang seni lainnya, dituntut untuk menghasilkan karya dalam tugas ilmiah yang mereka lakukan. Dan selain produk pertunjukkan atau karya, juga pasti ada produk tertulisnya kan ya? Lalu apakah itu juga dipertanyakan keilmiahannya? Kan itu malah bikin karya sendiri, dianalisis sendiri. Iya bukan sih? Apa saya yang gagal paham ya? Apakah kita bisa bilang itu ilmiah jika di dunia seni tetapi tidak ilmiah dari sudut pandang yang lain? Kalau gitu berarti autoetnografi juga pasti memiliki ruang ilmiahnya sendiri kan ya kalau pandangannya begitu. Mungkin tidak ilmiah di sudut pandang antropologi tapi ilmiah di astronomi, siapa juga yang menentukan kan ya? Lalu ilmiah itu yang kaya apa sih sebenarnya? Saya juga ga yakin...
Hal lain yang diangkat adalah izin penelitian atau publikasi (informed consent) dari orang yang kisahnya kita masukkan dalam cerita. Sebagai contoh yang diangkat Mbak Delamont (2007) adalah jika penulis menceritakan tentang ibunya yang mengalami gangguan mental, pasti penulis itu tidak meminta izin terlebih dahulu sama ibunya kalau dirinya akan dimasukkan dalam penelitian. Tapi, sejauh yang saya ketahui, jika saya mewawancara seseorang, sebut saja Bunga, maka saya akan meminta izin dan memberikan informed consent itu pada si Bunga. Perkara di situ nanti Bunga menceritakan tentang ibunya, neneknya, tetangganya, atau pacarnya kan itu termasuk data dari si Bunga kan ya? Saya nggak usah meminta izin juga pada neneknya atau pacarnya karena mereka ada dalam kehidupan Bunga. Tapi itu saya juga nggak yakin, itu cuma pikiran saya semata, belum ada bukti tertulisnya, makanya saya nulisnya di sini bukan di Artikel Ilmiah yang saya tulis.
Lalu kemudian kalau ada yang bilang metode ini malas, pasti para pelakunya sangat tidak setuju dengan hal ini. Ini memang kisah hidup, tetapi kisah hidup ini tidak hanya kita sajikan dan tidak kita apa-apakan lagi. Beberapa penelitian akan mencari apa wacana yang ada di balik kisah hidupnya. Beberapa menggunakan pengalaman prbadinya untuk menentang wacana dominan yang ada. Sebagai contoh penelitian mengenai jilbab pada akhirnya sampai pada permasalahan gender dan feminisme, tidak hanya bagaimana orang tersebut mendapatkan hidayah lalu memakai jilbabnya begitu saja. Dan kesulitannya adalah sama seperti yang banyak diperdebatkan selama ini, bagaimana caranya kita bisa menganalisis itu semua dan mengambil jarak dari apa yang terjadi. Kami sadar kami ini nyemplung dalam permasalahan dan kondisi yang seperti apa. Kami harus terus menerus menyadari bahwa ada jarak yang harus diambil. Bahwa ketika analisa dimulai, data adalah data. Bisakah? Saya belum mencoba...
Autoetnografi ini memang bukan metode penelitian yang pas untuk semua tema. Sama dengan statistik yang tidak bisa untuk mengungkap ideologi, atau metode wawancara untuk membuktikan pertumbuhan mikroba. Tema-tema apa saja yang pas? Na itu saya juga belum yakin, kalau saya tau saya sudah akan melakukan revisi di bab 1 saya. Yang pasti beberapa masalah mengenai religiusitas, relasi, pengalaman kebertubuhan, gangguan mental, dan permasalahan ras sudah banyak diteliti dalam metode ini. Dan datanya sejauh yang saya tau adalah berupa kisah atau narasi. Boleh hanya diri penulis, boleh juga dibandingkan dengan pengalaman yang sama dari pihak lainnya. Ilmiah atau tidak, Carolyn Ellis sudah jadi profesor dengan penelitian model ini dan mengajarkannya ke mana-mana. Mungkin beliau bisa membantu saya berargumen mengenai masalah ini. Yang pasti, Ellis (2004), menyatakan bahwa metode ini juga memiliki efek menyembuhkan bagi penulisnya. Pernyataan yang diamini beberapa pelaku penelitian autoetnografi lainnya. Dan sosial baggage yang saya miliki adalah saya orang psikologi, saya peduli dengan kesehatan mental, baik mental saya yang tidak baik, maupun mental orang-orang lain. Saya ingin ini bisa dipakai sebagai salah satu alternatif metode penelitian di bidang psikologi, walaupun orang-orang psikologi lebih suka mencari hubungan dan perbedaan dengan uji t. Tapi apa salahnya kan ya jika kita mencoba. Lebih Mudah Dikatakan daripada Dilakukan, begitu kata Sarah Wall seperti yang bisa kita lihat di bawah ini.