Selasa, 25 Agustus 2015

Standarisasi dan Akreditasi dalam Pendidikan Tinggi


Sabtu, 11 April 2015 adalah salah satu hari bersejarah di Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya (IRB) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Hari itu IRB mendapat kunjungan dari dua orang assesor dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Seorang dari Universitas Hasannudin, Makasar; dan seorang lagi dari Universitas Indonesia Jakarta. Kunjungan yang menghebohkan seluruh fakultas dari hari Rabu, hari di mana pemberitahuan akan visitasi tersebut datang.
Tiga hari sejak hari pemberitahuan itu datang, IRB jadi penuh dengan keriuhan. Semua mahasiswa, dosen, dan karyawan berbondong-bondong mempersiapkan diri untuk kunjungan tersebut. Mulai dari memeriksa ulang borang akreditasi yang sudah dibuat pada bulan November 2014, menata kelas yang akan digunakan untuk pertemuan, mempersiapkan berkas-berkas administrasi dan bukti-bukti yang dibutuhakan, sampai mencari hotel dan mobil untuk mobilitas kedua assesor yang akan datang tersebut.

Senin, 24 Agustus 2015

Tesis Hari ini

Sudah beberapa lama ini jari-jari saya membisu. Tidak ada tulisan yang saya hasilkan, baik yang seriusan apalagi yang hanya galau-galau beginian. Untuk orang yang gaya-gayanya hidup dengan dan dari menulis, sudah terlalu lama saya tidak menghidupi diri saya sendiri. Rasa-rasanya begitu mampet dan buntet. 
Hari-hari saya terasa begitu letoy, seakan saya terus menerus tertidur dan melesak di kasur dengan banyak bantal yang bertebaran. Otak saya mampet...
Seharusnya saat ini, atau mungkin bukan seharusnya ya... sebaiknya, atau yang baik bagi saya saat ini sebenarnya adalah menyelesaikan kewajiban  utama sebagai seorang mahasiswa yaitu menulis sesuatu yang bernama tesis. Tetapi dalam waktu sekiranya dua bulan ini, saya selalu menemukan banyak hal yang bisa saya lakukan selain menulis untuk tesis itu.

Senin, 10 Agustus 2015

Kemarahan-kemarahan ini

Marah-marah sebenarnya bukan problem baru dalam hidup saya. Bagi banyak orang yang mengenal dan mengikuti kehidupan saya sampai sekarang, pasti banyak yang sudah pernah melihat saya marah atau menjadi sasaran kemarahan saya. Sekarang hal ini mulai terasa menggangu saya dan saya perlu berbicara untuk memahami ini dan berharap menyelesaikannya.
Banyak hal yang membuat saya marah dan menaikkan darah ke kepala dan membuat saya menaikkan nada bicara saya dan melontarkan banyak kata-kata yang menyerang orang lain. Percayalah, saya ahli dengan hal itu. Salah satu hal yang paling membuat saya marah adalah ketika ada orang yang memaksa saya melakukan sesuatu dengan alasan demi kebaikan saya, dan ketika saya menolak, saya masih dipaksa juga. Ada satu kejadian yang sampai sekarang kalau saya mengingatnya saya masih merasakan tercekat di tenggorokan ini karena masih pengen marah juga. Ketika itu seorang teman memaksa saya untuk ke Bali dan memaksa saya dengan ancaman. Saya sudah menolak dengan baik dengan beberapa alasan. Dan saya tidak punya uang untuk membiayai perjalanan itu. Dan saya masih diminta untuk melakukan perjalanan itu. Maka meledaklah saya. Itu perjalanan yang saya lakukan, waktu yang saya miliki, dengan anggaran yang saya punya. Jika saya punya waktu, punya dana, ya saya akan berangkat. Kenapa harus dipaksa sih? Jadi karena hal itu, dan karena darah ngeyel saya yang mengglegak dalam diri saya. Ada masa-masa yang cukup lama di mana saya tidak mau ke Bali hanya karena saya tidak mau manut sama teman saya itu. 
Saya pernah meledak lagi karena ada teman yang janji-janji palsu. Sebut saja Joko dan ini bukan nama sebenarnya. Si Joko ini menjanjikan untuk mencetak poster. Hari ini dia bilang besok. Keesokan harinya Joko bilang nanti sore, sore harinya, dia bilang sedang melihat kura-kura. Jadi sebenarnya kalau mengingat ini, saya tidak menyesali alasan saya untuk marah dengan si Joko ini. Yang selalu saya sesali adalah produknya.
Saya marah lagi kalau ada orang yang bagi saya tidak logis. Contoh paling dekat adalah masalah toilet degan seorang teman yang lain lagi. Kita sebut saja dia Mawar. Saat itu kami masih di kampus dan saat akan naik motor, Mawar yang posisinya membonceng saya itu minta untuk berhenti di pom bensin dalam perjalanan karena kepengen pipis. Dan saya walaupun tidak meledak, saya mengeras kala itu. Bagi saya tidak logis untuk harus berhenti lagi di pom bensin karena mau ke toilet, sedangkan kampus itu berisi sangat banyak toilet dengan air yang banyak dan bersih dan boleh dipakai siapa saja. 
Lain waktu saya marah lagi karena ada teman saya yang merasa tidak layak berteman dengan saya karena dia merasa tidak cukup pintar. Atau saya marah lagi karena si Joko ini berusaha menghindar. Atau saya marah lagi karena ada orang yang menginginkan sesuatu tapi tidak mau mencoba atau berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Atau saya marah lagi atau biasanya berusaha mengabaikan, orang yang selalu minta diyakinkan bahwa keputusannya atau apapun itu tidak apa-apa dia lakukan. 
Ada beberapa kasus kemarahan saya adalah berupa ledakan begitu saja yang tidak dapat saya kendalikan sampai ke produknya. Suara saya akan naik dan saya akan menyalak begitu saja. Di lain waktu saya sadar saya tidak suka dan saya langsung mengeras begitu saja. Saya marah tapi nggak keluar itu ya untuk sasaran orang-orang tertentu saja sih kayanya.
Yang membuat saya agak aneh adalah kejadian kemarin ketika saya tabrakan sama motor lain. Ketika itu saya akan membelok ke kanan, masuk gang dan saya ditabrak dari kanan. Saya dan mbak-mbak yang nabrak saya ini sama-sama jatuh. Saya ya jatuh aja begitu di aspalan. Alhamdulilahnya, saya pakai helm yang biasanya sudah langsung saya copot kalau masuk daerah yang aspalnya nggak ada garis-garisnya. Begitu terbangun, saya melihat mbaknya, dengan posisi masih duduk di aspal dengan sandal copot sebelah entah ke mana, saya bertanya, "Aku riting ngga ya tadi?" Dan si mbak menjawab tidak. Lalu berikutnya saya melihat motor saya dan lampu sen saya yang sebelah kanan masih ketip-ketip. Dan cerita ini berakhir begitu saja, kami sama-sama berdiri dibantumas-mas dari warung di sebrang gang. Saya dikasi air minum, dan bubar begitu saja.
Dan yang saya dapati adalah teman-teman saya heran dengan apa yang saya lakukan. Saya menangkap, teman saya si Joko ini menduga bahwa saya pasti akan langsung marah-marah sama mbak yang nabrak saya itu. Teman lain tampaknya heran karena saya tidak melanjutkan urusan dengan mbak penabrak. Saya tidak tahu dan tidak paham bagaimana sebenarnya prosedur tabrakan yang baik. Apakah saya harus bertanggung jawab atau meminta tanggung jawab? Yang pasti saya tidak marah pada saat tabrakan itu terjadi, saya tidak marah sampai dua hari kemudian saat saya mebuat tulisan ini. Saya juga bilang dengan teman saya Mas Mbek, kalau ini nama sebenarnya, kalau saya lebih marah dengan orang yang merasa tidak layak dari pada dengan orang yang nabrak saya. 
Saya juga tidak marah-marah sama Kenzie yang menyebarkan remah-remah di kamar saya, atau menumpahkan air ketika dia berusaha minum sendiri dari gelas. Tapi saya pasti marah-marah kalau yang rantap-rantap itu simbok atau bapaknya Kenzie. Jadi juga tergantung siapa pelakunya dan apa kelakuannya.
Jadi begitu kira-kira kisahnya ketika saya mencoba memahami dan menjawab pertanyaan dari seorang sahabat sekaligus pembimbing rohani sekaligus tukang bully saya. Pertanyaan: apa kecenderunganmu? Apa akar masalahnya?
Sering kali atau malah pada hampir setiap kemarahan saya akan menyesali apa yang sudah saya perbuat dan saya katakan. Walau demikian, mungkin juga ini hanya mencoba mencari pembenaran, saya merasa benar dengan alasan-alasan saya untuk tidak suka atau tidak setuju terhadap suatu hal. Saya jelas tidak setuju dengan janji-janji yang tidak bertanggung jawab dari si Joko yang bukan nama sebenarnya itu. 
Saya selalu merasa tidak cukup sabar dan tidak cukup rendah hati (jangan-jangan kalimat ini juga sudah sombong ya). Saya juga sering merasa bahwa saya akan mencoba lebih baik di kesempatan yang lain. Tapi kadang ketika kesempatan itu datang, saya menemukan alasan lain untuk marah. Atau bagaimana jika tidak ada kesempatan lainnya. Pada beberapa orang, saya merasa saya sudah tidak memiliki kesempatan lagi. 
Yang saya pikirkan sekarang adalah bagaimana produk dari kemarahan saya bisa keluar dengan cara yang lebih baik atau lebih lembut paling tidak lah ya... Atau kadang saya hanya merasa perlu untuk memastikan bahwa ada alasan yang benar dan kuat di balik kemarahan saya. Atau terkadang saya juga merasa tidak apa-apa untuk marah karena banyak orang di sekitar saya juga mengungkapkan kemarahan-kemarahannya. Sama seperti Simbok saya yang juga marah kepada teman-temannya, saya juga kadang merasa benar untuk marah. Di sisi lain, buat saya marah juga berarti meposisikan diri lebih tinggi dari orang lain, lebih benar, dan itu adalah hal yang bagi saya juga tidak benar. Ya saya memang ruwet begini adanya. Saya harap, ini hanyalah sebuah fase saja, suatu tahapan yang akan berakhir dan berlalu. Saya harap...

Selasa, 16 Juni 2015

Berbicara Autoetnografi

Ini adalah tugas kuliah Penulisan Artikel Ilmiah yang ternyata hasilnya menurut saya tidak terlalu ilmiah dan masih juga dalam proses revisi untuk proyek metodologi penelitian. Saya mah emang nanggung gitu orangnya (ternyata)... Belum selesai udah dipublish aja.

Metode penelitian menggunakan autoetnografi adalah suatu metode penelitian yang masih terbilang cukup baru untuk digunakan dalam penelitian sosial terutama di Indonesia. Masih banyak perdebatan dan kritik yang ditujukan pada metode ini, antara lain adalah subjektifitasnya yang sangat tinggi, permasalahan mengenai kode etik dalam penelitian, kurang analitis, dan peneliti tidak perlu turun ke lapangan sebagaimana lazimnya suatu penelitian. Tulisan ini merupakan suatu argumentasi mengenai metode autoetnografi sebagai suatu metode penelitian yang akademis, valid, dan analitis dalam penelitian sosial, terutama dalam kajian budaya.

Kata kunci: autoetnografi, metode penelitian

Autoetnografi adalah salah satu metode penelitian yang semakin banyak digunakan dalam 15 tahun terakhir. Hal ini dinyatakan oleh Sara Delamont dalam tulisannya yang berjudul The only honest thing: autoethography, refelxivity and small crises in fieldwork yang diterbitkan pada tahun 2009. Saya sendiri baru mengenal metode penelitian ini ketika saya menempuh mata kuliah Kajian Gender pada tahun 2013. Bagi saya metode ini merupakan suatu metode penelitian yang menarik untuk digunakan karena memberi kesempatan pada peneliti atau penulisnya untuk mengekspresikan dirinya dalam karya yang dia hasilkan. Carolyn Ellis (2004), Professor dalam bidang komunikasi dan sosiologi serta pengajar di University of South Florida, dalam bukunya The Ethnographic I memberi definisi singkat mengenai autoetnografi yaitu sebagai suatu metode penulisan yang berangkat dari pengalaman pribadi penulis, dan mengamati sensasi fisik, perasaan, pikiran dan emosi. Suatu introspeksi sosiologis yang sistematis dan mengingat ulang suatu pengalaman yang emosional untuk lebih memahami pengalaman yang sudah dijalani (Ellis, 2004: xvii). Adanya kesempatan dan ruang bagi penulis untuk mengekspresikan dirinya dan pengalaman dirinya tanpa terlalu berjarak dengan tulisannya bagi saya adalah suatu nilai lebih dalam metode ini, tetapi bagi beberapa peneliti lain, hal ini malahan menghilangkan keilmiahan dari metode autoetnografi.
Heewon Chang (2008) dalam bukunya Autoethography as Method memiliki pendapat yang sejalan dengan pendapat di atas. Ia menyatakan bahwa metode ini memberi ruang dan kesempatan bagi penulis atau peneliti untuk menggunakan suara dan pengalaman pribadinya untuk lebih memahami lingkungan atau situasi budaya yang ada di sekitarnya (Chang, 2008; Wall, 2008). Selain itu, pada beberapa tulisan mengenai penggunaan metode autoetnografi juga dinyatakan bahwa penggunaan metode ini memberikan efek yang baik atau menyembuhkan diri secara mental bagi para penulisnya (Ellis, 2004: 19). Hal ini bisa dibenarkan karena dengan mengeksplorasi apa yang kita alami dan kita rasakan, kita dapat lebih memahami apa yang terjadi pada diri kita serta hal-hal apa saja yang memengaruhi pemikiran dan perasaan kita. Bagi saya yang memiliki latar belakang psikologi, saya jadi memiliki ketertarikan tersendiri terhadap kesehatan mental seseorang dan metode ini jadi memiliki nilai tambahnya tersendiri.
Di sisi lain, saya juga tidak dapat menutup mata mengenai perdebatan yang ada di balik penggunaan metode ini. Metode autoetnografi yang terbilang masih cukup baru ini juga membawa permasalahannya tersendiri. Metode ini mengangkat kisah hidup dari penulis sebagai sumber data utama dari sebuah penelitian. Hal ini menimbulkan banyak masalah dan pertanyaan. Masalah yang paling sering muncul adalah mengenai subjektivitas dari penulis itu sendiri. Apakah penggunaan data pribadi memberikan jarak yang cukup bagi penulis untuk memandang permasalahannya secara objektif? Apakah penulis akan cukup kritis untuk menganalisa permasalahan yang ada dari dalam data pribadinya? Permasalahan lain yang juga muncul adalah mengenai kualitas data, legitimasi, dan juga permasalahan kode etik (Wall, 2008: 39). Dari pertanyaan dan perdebatan ini saya ingin berangkat dan memulai perjalanan saya untuk memahami metode penelitian autoetnografi secara lebih jauh.

Autoetnografi dan Perdebatan di Sekitarnya
Sara Delamont dalam tulisannya yang berjudul Arguments againts Auto-Ethnography[1] dengan cukup keras melakukan kritik terhadap metode penelitian autoetnografi. Ia menggunakan kata yang keras yaitu ‘lazy’, malas. Delamont menyatakan bahwa pada dasarnya metode penelitian ini adalah suatu metode penelitian yang malas, baik secara harafiah maupun secara intelektual (Delamont, 2007: 2). Selain itu ia juga mengajukan ada enam keberatan mengenai metode penelitian autoetnografi yaitu:
1.     Autoetnografi tidak dapat melawan (bersikap kritis) terhadap hal-hal yang sudah umum atau sudah diterima oleh masyarakat di sekitar penulis
2.    Hampir mustahil untuk mempublikasikan kisah autoetnografi tanpa menemui permasalahan etis. Permasalahan ini terkait dengan pemberian ‘informed consent’ kepada orang-orang yang kisah hidupnya ikut menjadi data dalam cerita pribadi peneliti.
3.    Autoetnografi hanya menitikberatkan (mendasarkan) pada pengalaman dan kurang analitis
4.   Autoetnografi berfokus pada pihak yang kuat, bukan pada pihak yang lemah sebagaimana keberpihakan yang saat ini berkembang dalam bidang sosiologi
5.    Metode ini mencabut kewajiban peneliti untuk keluar dan mengumpulkan data.
6.   Diri kita tidak cukup menarik untuk dituliskan dalam jurnal, untuk diajarkan, dan mengharapkan perhatian dari pihak lain.
Delamont dalam artikel yang diterbitkan oleh jurnal Ethnography and Education pada tahun 2009, masih mengajukan enam keberatan dan argumen yang sama dalam menentang penggunaan metode autoetnografi ini sebagai metode penelitian. Di sini saya mengambil posisi yang berlawanan dengan Delamont. Saya dalam tulisan ini mencoba berargumen dan memaparkan pemahaman dan pembacaan saya mengenai metode penelitian autoetnografi sebagai suatu metode penelitian yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan.

Autoetnografi sebagai Metode Penelitian Sosial
Penelitian yang dilakukan untuk memahami diri sendiri (self-naratives) atau lingkungan tempat di mana peneliti tersebut tinggal sudah banyak dilakukan dewasa ini, Melihat pengalaman diri sendiri ini membuat peneliti menjadi peneliti sekaligus objek dari penelitian tersebut (Lincoln & Denzin, 2003: 19). Ada banyak variasi istilah yang digunakan dan berbagai metode penelitian yang dapat digunakan yang terasosiasikan dengan arti dan penggunaan dari autoetnografi seperti personal narattives, narasi tentang diri, kisah diri (self stories), auti-observasi, personal etnografi, autobiografi kritis, radical empiricism, evocative naratives, etnografi refleksif, metode biografi, indigenous anthropology, antropological poetics, dan performance ethnography (Lincoln & Denzin, 2003: 19). Lalu apa yang membedakan autoetnografi dengan model penulisan lainnya?
Istilah autoetnografi sendiri menurut David Hayano pertama kali didengarnya pada tahun 1966 dalam seminar strukturalisme Sir Raymond Firth di London School of Economis (Hayano, 1979: 99). Dalam tulisannya Auto-Ethnography: Paradigms, Problems, and Prospect ini, Hayano menyoroti tentang munculnya tren dalam bidang antropologi yang mulai banyak melakukan penulisan etnografi pada “orang-orangnya sendiri” (Hayano, 1979: 99).
Autoethnography sendiri bukanlah suatu teknik penelitian, metode, atau suatu teori yang spesifik, tetapi ia mewarnai setiap bagian dalam penelitian lapangan yang dilakukan (Hayano, 1979: 99). Heewon Chang (2008) mengawali penjelasannya mengenai metode autoetnografi dengan menyatakan bahwa bercerita atau narasi merupakan salah satu kegiatan yang sudah lama dilakukan oleh manusia, bahkan mungkin sudah ada sepanjang sejarah kehidupan manusia. Orang-orang saling menceritakan kenangan masa kecil, pembentukan atau sejarah suatu keluarga, komunitas, atau suatu suku bangsa. Dalam perkembangannya cerita-cerita mengenai kehidupan seseorang atau suatu autobiografi disebut dengan self-narative (Chang, 2008: 31).
Penulisan mengenai diri sendiri ini semakin berkembang dan banyak dilakukan pada beberapa dekade terakhir. Self-narative sendiri memiliki beberapa genre atau beberapa kategori, Chang (2008) membaginya menjadi tujuh kategori[2]. Dalam tulisan kali ini saya secara khusus akan membahas dan membicarakan mengenai penulisan autoetnografi.
Sama seperti metode penelitian yang lain, memutuskan menggunakan metode penelitian autoetnografi juga harus disesuaikan dengan tema dan tujuan penelitian yang kita lakukan. Seperti misalnya mencari korelasi atau perbedaan dua variabel akan lebih cocok dengan menggunakan metode statistik, atau melihat suatu akibat dari perlakuan dengan metode eksperimen. Sejak awal kita perlu menyadari bahwa ada tema-tema dan tujuan penelitian yang bisa diteliti dengan menggunakan metode penelitian autoetnografi dan ada juga yang tidak (Adams, Jones & Ellis, 2015: 21).
Perkembangan dari autoetnografi sendiri tidak terlepas dari tren di mana subjektivitas dan refleksifitas dari peneliti mulai dihargai dalam pandangan postmoderenisme (Chang, 2008; Wall, 2008). Sejalan dengan pandangan tersebut, Adams, Jones & Ellis (2015) menjelaskan bahwa autoetnografi adalah suatu metode kualitatif yang menawarkan adanya suatu pengetahuan yang memperlihatkan adanya perbedaan nuansa, kompleksitas, dan pengetahuan yang spesifik mengenai suatu bagian kehidupan, pengalaman, dan relasi daripada suatu informasi yang bersifat umum tentang sekelompok besar manusia.
Lebih lanjut Leon Anderson dalam tulisannya Analytic Autoethnography menjelaskan akan adanya suatu kecenderungan yang baru dalam dua dasawarsa belakangan ini dalam penelitian sosial dan kemanusiaan. Model penelitian ini merupakan suatu model penulisan dengan genre yang kabur, yang menekankan pada refleksifitas dari penulis dalam suatu penelitian etnografi, meningkatkan fokus pada emosi dalam penelitian sosial, dan adanya skeptisisme dari postmodernisme mengenai ketidakpercayaan akan adanya klaim pengetahuan yang digeneralisasikan secara luas (Anderson, 2006: 373).
Menurut saya, semua penulisan itu merupakan suatu produk yang subjektif, hal itu tercermin dari fokus penelitian yang dipilih, sudut pandang penulisan, sampai kesimpulan yang diambil. Hal ini juga diamini oleh Paula Saukko (2003) dalam bukunya Doing Research in Cultural Studies, An Introduction to Classical and New Methodological Approaches. Ia membuka bukunya dengan pernyataan bahwa argumen yang diangkatnya dalam buku ini adalah bahwa suatu penelitian atau metodologi penelitian tidak akan pernah ‘objektif’ tetapi selalu kontekstual (located), selalu dipengaruhi oleh posisi sosial dan peristiwa sejarah tertentu dan memiliki agenda atau tujuan tertentu (Saukko, 2003: 3). Dalam kasus autoetnografi permasalahan mengenai subjektivitas dari peneliti ini lebih ditunjukkan dan “dirayakan”.
Subjektivitas dalam penelitian ini saya rasakan benar dalam membaca suatu hasil penelitian ataupun dalam proses penulisan karya ilmiah itu sendiri. Sebagai contoh adalah apa yang saya alami dan rasakan dalam pengerjaan bab 2 penelitian tesis saya. Bab 2 ini saya rencanakan untuk berbicara mengenai konteks sejarah orang keturunan Cina yang ada di Indonesia. Suatu bagian yang menurut saya pada awalnya tidak akan bersentuhan dengan pengalaman pribadi saya sama sekali. Ternyata saya salah. Saya merasakan benar subjektivitas itu dari buku-buku yang saya pilih untuk dibaca, bagian-bagian yang saya baca, dan kutipan-kutipan yang saya ambil untuk saya tuliskan dalam membangun argumen saya dalam tulisan tersebut. Apa yang saya baca dan apa yang saya rencanakan untuk saya tulis dalam bab 2 saya tersebut berbeda sekali dengan bagian yang sama dalam tesis dari Alwi Atma Ardhana[3] (2013). Pada bab tersebut penulis juga membahas mengenai konteks dan sejarah orang keturunan Cina yang ada di Indonesia, tetapi buku yang dia baca dan bagian yang dituliskan sangat berbeda dengan pilihan-pilihan yang saya ambil. Di sini saya melihat bahkan untuk bagian yang tidak personal seperti konteks sejarah, kita tetap bisa melihat subjektivitas dari penulis.
Sebenarnya mengenai autoetnografi sendiri ada banyak pemahaman dan genre yang berkembang tergantung di mana seni penulisan mengenai diri ini berkembang. Penulisan kali ini mengambil pemahaman yang diangkat oleh Chang (2008) yang memahami penulisan autoetnografi sebagai penulisan kombinasi analisa budaya dan interpretasi dengan detail yang bersifat naratif. Autoetnografi adalah suatu metode penelitian yang menggunakan data autobiografi dari peneliti untuk menganalisis dan menginterpretasikan asumsi budaya mereka (their cultural assumptions) (Chang, 2008).
Ellis dan Bochner dalam Chang (2008) memberikan suatu model yang menjelaskan mengenai kompleksitas dari variasi autoetnografi. Mereka menjelaskan bahwa dalam penulisannya, autoetnografer harus selalu menyesuaikan penekanan dalam proses penelitian (graphy), pada budaya (etno), dan pada diri (auto), dan setiap hasil penulisan dari autoetnografi berada pada kontinum antara tiga aspek tersebut. Lebih lanjut Chang (2008) menyimpulkan bahwa dalam penulisan autoetnografi kita harus menjaga keseimbangan antara ketiga aspek tersebut. “I argue that autoethography should be ethnographic in its methodological orientation, cultural in its interpretive orientation, and autobiographical in its content orientation” (Chang, 2008).
Dari beberapa pemaparan di atas, dapat kita lihat bahwa autoetnografi memiliki posisinya sendiri dalam suatu penelitian. Ia memiliki kompleksitasnya sendiri dalam memandang suatu permasalahan, baik itu identitas, kehidupan, relasi, dan pengalaman personal seseorang. Untuk dapat mengungkapkan hal-hal tersebut dalam suatu desain penelitian bukanlah hal yang mudah. Suatu desain penelitian autoetnografi yang diharapkan dapat mengungkapkan kompleksitas-kompleksitas itu tidak dapat hanya dengan menggunakan rancangan penelitian yang berupa eksperimen, survei, atau daftar pertanyaan saja. Namun bagaimanapun juga autoetnografi memiliki beberapa hal yang menjadi prioritas, perhatian, cara-cara dalam melakukan penelitian (Adams, Jones & Ellis, 2015: 26). Hal itu meliputi:
1.     Mengedepankan pengalaman pribadi dalam penelitian dan penulisan
2.    Menggambarkan proses pembentukan makna
3.    Menggunakan dan menunjukkan refleksifitas
4.   Menggambarkan pengetahuan dari orang dalam (insider) dari suatu fenomena budaya/pengalaman
5.    mendeskripsikan dan mengkritisi norma budaya, pengalaman, dan kebiasaan
6.    Mencari respon dari pembaca
Lebih lanjut, dalam penjelasannya mengenai bagaimana melakukan penelitian autoetnografi, Chang (2008) mencoba menjelaskan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan baik itu sebelum maupun saat melakukan penulisan autoetnografi itu sendiri. Salah satu hal yang ditekankan dalam penulisan autoetnografi adalah mengumpulkan data kenangan.
Kenangan atau memori adalah suatu hal yang penting dalam penulisan autoetnografi. Kenangan adalah faktor pembentuk diri kita saat ini. “Recalling” atau mengingat kembali suatu kejadian dalam penelitian autoetnografi memiliki perinsip yang sama dengan apa yang dilakukan oleh penelitian etnografi dari genre yang lain (Chang, 2008: 71). Sedangkan dalam autoetnografi, penulis memiliki keuntungannya tersendiri. Sebagai penulis kita memiliki akses penuh pada pengalaman dan interpretasi kita akan apa yang terjadi di masa lalu. Selain itu kita juga menjadi tangan pertama yang bisa memilih ingatan mana yang relevan dalam penelitian yang sedang kita lakukan (Chang, 2008: 27).
Dalam mengumpulkan data kenangan ini, Chang (2008) memberikan beberapa panduan yang sudah pernah dia lakukan dalam melakukan penulisan autoetnografi yaitu menyusun kembali kenangan berdasarkan hal-hal besar yang terjadi dalam kehidupan, seperti pernikahan, kelahiran, lulus sekolah, pindah tempat tinggal atau perubahan karir. Hal lain yang digunakan dalam menyusun kenangan adalah berdasarkan perayaan tahunan atau kejadian sehari-hari, seperti perayaan hari raya keagamaan, pertemuan komunitas yang diadakan setiap minggu, rapat, sampai waktu bersama keluarga. Kegiatan keseharian inilah tempat di mana orang-orang belajar mengenai bahasa, kebiasaan, budaya dan dapat menyatu dengan pola-pola yang ada dalam masyarakat (Chang, 2008: 72-75).
Hal ini berarti bahwa walaupun dari segi isi atau data penelitian autoetnografi banyak menggunakan data yang dimiliki oleh peneliti itu sendiri tetapi tetap harus menggunakan prinsip dan disiplin dari metode penelitian etnografi. Seperti dalam pengumpulan data, penulisan data lapangan, dan penggunaan data lain untuk melakukan triangulasi validitas data (wawancara, observasi, data pustaka, dan artefak). Selain itu pada hasilnya autoetnografi tidak hanya menekankan pada kisah yang dimiliki oleh autoetnografer itu sendiri melainkan harus menghasilkan suatu analisa atau interpretasi mengenai konteks budaya dan pemahaman mengenai liyan (other) baik yang berhubungan secara langsung maupun tidak langsung. Penulis dituntut untuk memperlakukan datanya dengan kritis, analitis, dan interpretatif untuk menemukan wacana yang ada.
Dari pemaparan di atas saya memahami bahwa dalam penelitian kajian budaya di mana lived experience menjadi suatu aspek yang penting dalam penelitian, autoetnografi juga menjadi suatu model penelitian yang dapat digunakan dalam bidang ilmu kajian budaya. Autoetnografi sendiri memiliki keuntungan dalam mendapatkan data mengenai pengalaman-pengalaman yang bersifat personal, seperti pengalaman mengenai sakit, gangguan mental, relasi, atau pengalaman kehidupan terutama pada orang-orang yang termarjinalkan yeng sulit diungkapkan pada orang lain. Banyak contoh penulisan autoetnografi yang menceritakan tentang pengalaman penulisnya dalam menghadapi pengalamannya sebagai kaum minoritas baik secara kelas, gender, agama, maupun dalam pengalamannya mengenai keterbatasan fisik dan mental.
Salah satu keuntungan yang besar dari autoetnografi adalah dari pandangan bahwa self adalah suatu perpanjangan dari komunitas, alih-alih sebagai suatu individu yang bebas atau terlepas dari komunitas tersebut. Self-sufficient being, karena kemungkinan dari analisa personal bersandar pada pemahaman bahwa diri merupakan bagian dari suatu komunitas budaya. (Chang, 2008) p.26

Contoh lain dari autoetnografi adalah tulisan dari Paula Saukko dalam bukunya Anorexic Self. Di sini ia mencoba mendeligitimasi pandangan-pandangan yang selama ini ada mengenai anoreksia yang terjadi pada wanita. Ia mencoba menyatakan ketidakpuasannya akan pandangan mengenai anoreksia yang selama ini banyak diseskripsikan oleh para pskiater, media, dan para feminis. Di sini Saukko menganailisis dan mengkritisi wacana normatif mengenai perempuan dan menggambarkan kembali dari sisi yang berlawanan apa yang selama ini dianggap sebagai gangguan anoreksia (Saukko, 2008: 1-2).

Mengolah, analisa, dan interpretasi data
Lalu data seperti apakah yang kita butuhkan dalam melakukan penelitian dan penulisan dengan metode autoetnografi ini? Bagaimana kita menganalisa data tersebut? Dan sejauh apa interpretasi dilakukan dengan metode ini?
Di sini saya ingin menceritakan sedikit contoh mengenai suatu penelitian yang dilakukan oleh Michael Hemmingson yang berjudul Zona Norte: The Post-Structural Body of Erotic Dancer and Sex Worker in Tijuana, San Diego and Los Angeles: an Auto/ethnography of Desire and Addiction, Hemmingson menuliskan tentang peneltian autoetnografi yang dilakukannya di Zona Norte, suatu area prostitusi di perbatasan Amerika dan Mexico. Ia menceritakan pengalaman dan ketertarikannya pada dunia prostitusi di area itu. Dalam penelitian ini selain menceritakan pengalaman yang dialaminya dengan para penari telanjang, ia juga menceritakan bagaimana perasaannya saat melakukan penelitian itu. Bagaimana dia tertarik dengan wanita-wanita yang dianggapnya mirip seorang teman atau seorang mantan kekasih. Ia juga menceritakan mengenai kondisi sejarah, sosial, dan politik yang membentuk kota Tijuana, kota tempat di mana penelitian itu berlangsung. Pada bab ke empat dalam bukunya, dia menceritakan tentang dirinya yang kecanduan Tramadol, obat penghilang rasa sakit yang bisa dengan mudah dan murah di dapatkannya di apotek-apotek di Tijuana.
Lebih jauh, Hemmongson tidak hanya menceritakan pengalaman-pengalamannya itu, baik dengan para pelacur yang disewanya maupun pengalamannya sebagai pecandu obat penenang, tetapi dia juga mengkritisi pengalaman-pengalaman tersebut dari berbagai sudut pandang. Seperti dia menganalisis seleranya dalam memilih wanita yang akan disewanya, pendapat orang lain dan pendapat dirinya sendiri bahwa dia merupakan seorang yang kesepian hingga melakukan penelitian ini, bias-bias yang menurutnya dialaminya, sampai pada ia merasa begitu ‘jatuh’ ketika menyadari dirinya kecanduan Tramadol. Sampai akhirnya dia berusaha berhenti mengkonsumsi obat-obatan tersebut (Hemmingson, 2008).

And that is how I see myself now—a seeker of truth, a body desiring transendence and the truth. Every time I take the trolley down to the international border to get another bottle of my new reality, I am comfortable with the veracity I have embraced (Hemmingson, 2008: 104).”

Mengkritisi apa yang terjadi dalam diri sendiri dan mengkritisi hal apa saja yang membentuk dirinya. Melihat bias-bias apa saja yang dibawa. Mencari kebenaran atau pembenaran akan apa yang terjadi dan dialami.
Hemmingson dalam penelitiannya ini menggunakan narasi dalam mengisahkan pengalaman yang dialaminya. Ia menceritakan apa saja yang dialami dan dilakukannya, bagaimana pertimbangan-pertimbangan dan refleksinya, juga hal-hal apa yang dirasakan selama kejadian itu berlangsung. Ia juga memberikan setting lokasi, waktu, dan tokoh-tokoh yang terlibat di dalam kisahnya. Banyak bentuk lain yang bisa pilih dan digunakan dalam penulisan autoetnografi, ada yang menuliskan dalam bentuk puisi (Jhonson, 2014: 85), esai, ataupun fiksi (Hemmingson, 2008:)
Autoetngografi merupakan sebuah cara penulisan atau pengumpulan data dalam suatu penelitian sosial. Hemmingson (2008) dalam penelitiannya lebih jauh menggunakan metode tambahan dalam melakukan interpretasi pada penelitian yang dilakukannya. Dia menjelaskan bahwa interpretasi dalam penelitiannya ia menggunakan metode imaginasi sosiologis untuk bisa melihat dan menggambarkan kondisi sosial-ekonomi, budaya, sejarah, dan lingkungan di sekitar para pekerja sex komersial di Tijuana yang menjadi area penelitiannya (2003: 11).
Dari sini saya menyimpulkan bahwa autoetnografi tidak dapat berdiri sendiri sebagai suatu metode penelitian. Metode ini tetap membutuhkan cara yang lain agar data yang didapat bisa diinterpretasikan dan menemukan maknanya.

Kesimpulan
Autoetnografi adalah suatu metode penelitian yang tergolong baru dalam ranah akademis. Walaupun istilah dan genre ini sudah muncul cukup lama, tetapi baru dalam dua dasawarsa terakhir ini autoetnografi banyak digunakan dalam suatu penulisan akademis. Kemunculan yang tidak dapat dipungkiri menimbulkan banyak perdebatan di dalamnya mengenai subektifitas dan permasalahan etis. Bagi saya, autoetnografi adalah suatu cara saya untuk bersuara, membantu saya menyatakan diri, dan mengeluarkan saya dari posisi subaltern saya sebagai minoritas di Indonesia. Di sini saya menyatakan bahwa belum tentu posisi penulis autoetnografi adalah seseorang yang berada di posisi yang kuat seperti yang dikatan Delamont di awal tulisan ini. Mungkin iya setelah suatu tulisan autoetnografi jadi, penulisnya akan berada di posisi yang kuat dan bisa bersuara, tetapi dari mana penulis itu berasal, kita tidak dapat memastikan.
Kritik dari Delamont di awal yang menyatakan bahwa penelitian ini merupakan suatu metode yang malas dan mengambil kewajiban peneliti untuk terjun ke lapangan menurut saya adalah suatu tuduhan yang emosional dan tidak berdasar di sini. Jika peneliti itu malas karena tidak terjun ke lapangan, maka akan sangat banyak peneliti dalam bidang sastra dan filsafat yang juga malas dan semua studi pustaka yang mereka lakukan adalah produk dari kemalasan tersebut. Dapat kita lihat salah satu contohnya dalam penelitian yang dilakukan Hemmingson yang tetap terjun ke lapangan dan menemui narasumbernya dan penelitiannya juga merupakan suatu penelitian autoetnografi karena perspektif penulisan yang diambilnya.
Sama seperti metode penelitian yang lain juga, ada tema-tema yang memang cocok untuk diteliti dengan metode autoetnografi, dan ada juga yang tidak. Hal ini tidak berarti bahwa metode yang tidak dapat meneliti semua tema menjadi suatu metode yang tidak ilmiah untuk dilakukan. Tidak semua tema juga bisa diteliti menggunakan statistik, dan itu tidak membuat metode statistik menjadi suatu yang tidak ilmiah.
Mengenai masalah subjektifitas, di sini saya mengutip pernyataan dari Katrin Bandel dalam tulisannya Gender dan Posisionalitas yang dipaparkannya pada Studium Generale Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma pada 12 Desember 2012
“Sebuah tulisan akademis yang berbicara dengan suara yang sangat berjarak tanpa sekalipun mempersoalkan psosisi subjektif penulisnya, tidaklah lebih netral dan objektif daripada tulisan yang secara eksplisit berangkat dari subjektifitas penulisnya. Tulisan seperti itu hanyalah terkesan lebih objektif, sebab perspektif penulisnya tidak disadari atau tidak diakui (Bandel, 2013: 14).”

Saya ingin menutup tulisan saya ini dengan kutipan yang dituliskan oleh Hemmingson untuk mengakhiri pengantar bagian kedua dari penelitiannya,

“Kita tidak pernah benar-benar tau secara menyeluruh pengalaman yang dimiliki orang lain. Beberapa mungkin berkenan membagi pengalaman mereka, tetapi setiap orang melakukan sensor atau represi, atau mungkin tidak sepenuhnya menyadari atau memiliki kemampuan untuk mengartikulasikan aspek-aspek tertentu yang sudah dialami (Bruner dalam Hemmingson, 2008: 118).”

Saya setuju sepenuhnya dengan kata-kata Bruner di atas. Jadi mengapa kita bisa lebih menerima hasil penelitian orang lain (peneliti luar negeri misalnya) yang membuat penelitian (atau kategorisasi) atas diri kita dan menganggapnya sebagai suatu kebenaran dari pada apa yang diri kita sendiri alami dan maknai, hanya atas nama objektivitas?


Daftar Pustaka

Adams, T. E., Jones, S. H., & Ellis, C. (2015). Autoethography Understanding Qualitative Research. New York: Oxford University Press.
Anderson, L. (2006). Analytic Autoethnography. Jounal of Contemporary Ethnography , Volume 35 Number 4, 373-395.
Bandel, K. (2013). Gender dan Posisionalitas. Gender dan Posisionalitas: Merumuskan Kerja Akademis yang Sadar Gender (pp. 2-27). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Chang, H. (2008). Autoethnograpy as Method. California: Left Coast Press, Inc.
Delamont, S. (2007, February 4). Arguments againts Auto-Ethnography. Quality , pp. 2-4. (diunduh pada 1 Maret 2015)
Delamont, S. (2009). The only honest thing: autoethnography, reflexivity and small crises in fieldwork. Ethnography and Education , 51-63. (diunduh pada 1 Maret 2015)
Ellis, C. (2004). The Ethnographic I A Methodological Novel About Autoethnography. United States of America: AltaMira Press.
Hayano, D. (1979). Auto-Ethnography: Paradigms, Problems, and Prospects. Human Organization , Vol. 38, no. 1, 99-104. (diunduh pada 1 Maret 2015)
Hemmingson, M. (2008). Zona Norte: The Post-Structural Body of Erotic Dancers and Sex Workers in Tijuana, San Diego and Los Angeles: an Auto/ethnography of Desire and Addiction. Cambridge: Cambridge Scholar Publishing. (diunduh pada 28 Mei 2015)
Johnson, A. L. (2014). Negotiating More, (Mis) labeling the Body: A tale of Intersectionality. In R. M. Orbe, Critical Autoethnography (pp. 81-95). California: Left Coast Press, Inc.
Lincoln, Y. S., & Denzin, N. K. (2003). Turning points in qualitative research: tying knots in hankerchief. Walnut Creek, CA: Alta Mira Press.
Saukko, P. (2003). Doing Research in Cultural Studies, An Introduction to Classical and Ne w Methodological Approach. London: Sage Publication.
Saukko, P. (2008). The Anorexic Self, A Personal, Political Analysis of Diagnostic Discourse. Albany: State University of New York Press.
Wall, S. (2008). Easier Said than Done: Writing an Autoethnography. International Journal of Qualitative Methods , 38-53.





[1] Artikel dari Sara Delamont ini adalah tulisan yang pernah dipresentasikan pada European Sociological Association conference; ‘Advance in Qualitative Research Practice’ pada September 2006. Tulisan ini juga diterbitkan kembali di Qualiti (halaman 2-4), suatu terbitan mengenai penelitian kualitatif dari Cardiff University pada 4 Februari 2007. Artikel saya unduh pada Kamis, 12 Maret 2015 dari http://www.cardiff.ac.uk /socsi/qualiti/QualitativeResearcher/QR_Issue4_Feb07.pdf)
[2] 7 kategori tersebut adalah autoetnografi; memori dan autobiografi (MA)—rasial, etnik, dan bahasa; MA—permasalahan religius; MA—politik, konflik sosial, dan perang; MA—kenangan masa kecil, hubungan keluarga, dan pertumbuhan; MA—permasalahan gender; MA—ketidakmampuan (disability), penyakit, dan kematian (Chang, 2008: 32)
[3] Masyarakat Cina dan Kekerasan Objektif dalam Karya Sastra: Sebuah Kritik Ideologi atas Multikulturalisme, 2014, Alwi Atma Ardhana, Tesis Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma.

Selasa, 26 Mei 2015

Hoy Cino!

Sudah lama sekali saya tidak dicina-cinakan oleh orang selain teman saya. Bahkan saya sudah tidak ingat kapan saya terakhir disapa oleh orang asing dengan sebutan itu. Tapi tadi pagi hal itu terjadi di sebuah gang di Demangan situ itu.
Saya baru saja selesai dari makan sop empal dan mau berangkat ke kampus. Berhubung sop itu tempatnya mblesek jadi ya mau tidak mau saya lewat gang-gang yang ga kecil-kecil amat lah sebenernya. Naa... di gang tersebut waktu saya mau lewat, ternyata sudah ada dua mobil yang stuck di situ. Satu mercedes benz hitam ke arah timur dan satu mobil putih sedan juga yang saya nggak ngeh itu mobil jenis apa. Saya berhenti di belakang mercedes sambil melihat bagaimana kedua mobil itu bisa saling melepaskan diri. Karena gangnya bener-bener mepet untuk kedua mobil tersebut.
Lalu sopir dari mobil putih itu membuka jendela, mengeluarkan tangan dan berteriak, "Hey Cino...!" 
Saya tidak terlalu mendengar apa yang dia katakan selanjutnya, saya hanya langsung memutar motor dan mencari jalan yang lain. 
Rasanya masih membuat darah saya mendidih ketika diteriaki demikian. Saya tidak bisa memastikan 100% apakah kata itu yang dia teriakkan, ataukah kata yang lain. Apakah ditujukan kepada saya atau bukan. Saya tidak bisa memastikan itu. Tetapi otak saya menangkap demikian.
Saya lalu bertanya-tanya, mengapa dari banyak penanda dalam diri saya kata 'Cino' lah yang dipilih. Kenapa nggak 'hey mbak!' apa 'hey ndut!' Kan bisa juga ya...
Lalu saya juga berpikir lagi sesi dua, jika kata Cino itu digantinya dengan tionghoa, 'hey tionghoa!' apakah perasaan saya akan lebih baik? Rasanya nggak juga sih... Saya juga tidak yakin walaupun tidak ada konotasi negatif yang menempel pada suku lain, misalnya Jawa atau Batak, apakah ketika diteriakin seperti itu di jalan oleh entah siapa apakah akan tetap baik-baik saja ya?