Minggu, 13 April 2014

Para Sahabat...

Bagaimana menggambarkan ini ya....
Ini adalah saat-saat kacau yang terjadi dalam hidup saya. Kuliah dan beberapa masalah lain yang datang dalam waktu yang bersamaan. Keadaan yang membuat kondisi diri saya menjadi terasa begitu kacau. Rasanya semuanya menumpuk dan tidak ada yang bisa saya selesaikan. Saya tidak paham apa yang saya baca, saya harus menolak permintaan simbok saya untuk menemani beliau ke Jakarta dan mengalihkan kegiatan itu pada kakak saya. Penolakan yang mengambyarkan diri saya sendiri... Yang agak parah saya jadi beberapa kali mendapatkan serangan tangis yang sporadis, sewaktu-waktu, di mana saja dan kapan saja. Itu membuat saya agak repot memang.
Kondisi ini membuat saya harus belajar untuk mengisolasi afek agar saya tetap bisa berfungsi dengan cukup normal lah minimal. Paling nggak saya tidak mungkin menangis heboh di tengah-tengah kuliah. Saya belajar untuk menggurung emosi saya agar bisa meledak di waktu yang saya inginkan. Bisa saya lakukan, tapi itu membuat tubuh saya rasanya seperti dipukuli dan biasanya saya langsung teler ketika pulang kuliah. Habis energi, terkuras! Ada satu suara kecil dalam kepala saya yang berharap saya bisa ambruk atau pingsan saja, agar saya punya alasan untuk berhenti, atau melarikan diri dari kenyataan. Agar saya punya alasan untuk meminta perhatian.
Tapi bagaimanapun juga saya tidak bisa mengklaim kalau saya ini sendirian dan tidak diperhatikan. Di tengah semua kekacauan ini, teman-teman yang dari luar kota sedang banyak berkunjung ke Jogja. Dalam beberapa minggu ini saya jadi banyak bermain dan bersenang-senang. Menonton film di bioskop, karaoke, makan di tempat-tempat yang baru, ngobrol, dan bermain sampai tengah malam. Berapa tahun sudah saya nggak main dan bersenang-senang dengan serombongan teman-teman wanita dan tertawa-tawa sampai tersedak.
Saya diingatkan bahwa ada cara bersenang-senang yang sudah lama tidak saya rasakan, karena rasa-rasanya beberapa bulan ini saya terisolasi dalam suasana yang terasa begitu menekan dan muram. Jadi saya bersyukur, bahwa di tengah semua kemuraman dan situasi yang menekan ini, saya terus ditemani.
Seperti dahulu pernah terjadi, kali ini Tuhan juga tidak membiarkan saya sendiri. Saya masih punya teman yang roh kudusnya menyala yang selalu datang tanpa diduga dan mengisi penuh baterai saya. Saya masih punya teman yang begitu hafal dengan karakter saya dan mengiyakan pemikiran dan keputusan aneh yang saya ambil. Saya masih bertemu dengan sahabat yang memarahi ide aneh yang saya lontarkan. Saya masih punya sahabat yang membully saya dan mengizinkan saya bermain-main dengan anaknya yang begitu bunder. Saya masih memiliki teman-teman yang memberikan saya pertimbangan yang baik dan memarahi saya karena pilihan-pilihan saya yang cenderung masokis. Saya masih punya psikolog yang walaupun menyebalkan memberi saya suatu perspektif waras. Saya masih dibela dan dieman.
Mungkin sahabat-sahabat saya ini tidak membuat saya mengambil keputusan yang berbeda karena saya memang begitu ngeyelnya. Saya mungkin masih akan kembali terjun ke lubang yang sama, dan karena saya melakukan itu dengan kesadaran, maka saya juga tidak akan berpura-pura menjadi korban. Tapi paling tidak, selama ada mereka, saya berani untuk terjun tanpa perlu berpikir panjang. Saya bisa terjun tanpa takut saya jatuh, terempas, dan remuk. Saya bisa terjun dan remuk sesuka saya, karena ada mereka semua. Orang-orang yang akan selalu ada dan menemani saya mengumpulkan serpih, menyusun bagian-bagiannya, dan mengelemnya lagi satu demi satu.
Semoga mereka belum bosan dengan rutinitas ini...

Minggu, 06 April 2014

Kuliah yang Menyekaratkan

Gila aku tidak bisa, waras aku tidak pantas
Bisaku hanya neurotik

Semester dua kuliah kali ini sudah berjalan setengahnya dan saya mulai merasakan atmosfer yang begitu menyesakkan di kampus. Pembicaraan-pembicaraan yang semakin berbau materi dan teori—becanda pun pakainya teori (tensor, suprastruktur, sublim, objek a, opoh jaalll?), status-status yang mulai curhat dari merasa tidak memahami materi sampai merasa mulai gila dan sekarat, seperti status teman sekelas saya di atas. Orang-orang yang mulai kuliah dengan mata yang mengantuk dan lingkaran mata yang hitam pekat. Sampai kelelahan akut dan histeria yang mulai terjadi di sana sini. Beberapa sudah mulai tampak seperti tubuh tanpa nyawa dan tanpa ekspresi, mati rasa katanya.
Ada apakah gerangan? Kenapa keadaannya jadi tampak begitu menggalaukan?

Senin, 17 Maret 2014

Tuhan, Terima Kasih Sudah Menciptakan Jesuit

Sebenarnya saya isin banget mau nulis tulisan ini. Ya… teman-teman juga pasti tahu kalau saya itu isinan. Tapi karena baru tadi pagi saya belajar metode penelitian yang berbicara mengenai menjadi peneliti yang baik maka saya nekat untuk menulis ini. Sebuah penelitian yang baik itu harus mempunyai refleksifitas dari peneliti, menjadi lebih otentik terhadap pengalaman hidup, dan menentukan posisionalitas, jadi dalam tulisan ini saya mencoba untuk melakukan itu. Ya nggak yakin juga sebenarnya apakah ada hubungannya antara metode penelitian dengan tulisan saya kali ini.
Hari ini saya disadarkan betapa banyak peran para Jesuit dan karya-karya Jesuit dalam hidup saya dalam empat tahun belakangan ini. Dan pengalaman saya hari ini yaitu dibantu bikin presentasi dan diajakin nonton film sama para Jesuit, membuat saya merunut kembali sejarah hidup saya ke belakang.
Awal perkenalan saya secara langsung dengan manusia yang berlabel Jesuit ini

Selasa, 11 Maret 2014

Manusia Berkarakter

"Karakter yang kuat membuat seseorang menjadi pribadi yang utuh dan tangguh. Mereka tidak tergantung pada lingkungan, tetapi menjadi pemimpin dan pembaru bagi lingkungannya. Karakter merupakan inti dari manusia yang unggul dan bermartabat. Dengan karakter yang kuat, anak-anak akan mampu mengatasi berbagai tantangan hidup ini." 

Sebagai seorang yang pernah bergumul di bidang pendidikan anak-anak, visi dan harapan seperti di atas adalah hal yang sangat akrab untuk saya. Di Pingit kami, para volunteer, juga memiliki harapan dan keinginan agar anak-anak menjadi seorang yang memiliki karakter yang baik. Namun karena Pingit merupakan salah satu kasus khusus, jangankan menjadi pemimpin dan membuat perubahan untuk lingkungan, pada satu titik kami hanya ingin anak-anak itu bisa bersikap baik dan sopan terhadap orang lain. 
Masalah pendidikan karakter ini sendiri

Senin, 10 Maret 2014

Setelah Sebungkus Lotek

Hanya sebuah catatan galau...

Kemarin, siang-siang, panas-panas, saya baru pulang kuliah dan jajan lotek di dekat perempatan, dan dalam perjalanan pulang bersama sebungkus lotek itu tiba-tiba muncul pertanyaan yang nggak jelas dalam kepala saya. Hidup itu ngapain sih sebenarnya?
Saya kemudian melihat lagi sehari-hari saya ngapain ya...
Pada umumnya dalam beberapa bulan terakhir ini aktivitas saya adalah kuliah, dolan, cari makan, bekerja kadang-kadang. Ya hanya seputar-putar itu saja kegiatan saya. Kegiatan simbok saya di rumah malah lebih tidak variatif lagi. Bangun, buka toko, tutup toko, buka toko lagi, tutup toko lagi, nonton TV, terus bobo. Ya diselingi mandi, makan, dan berkebun sesekali. Tapi ya hanya begitu-begitu saja tampaknya. Terus ngapain sebenarnya saya ini jalan-jalan di dunia ini, menghabiskan tempat dan oksigen?