Laman

Selasa, 20 Oktober 2015

Tes Rorschach: Antara Manual dan Kenyataan


Bagi orang-orang yang sudah mengenal ilmu psikologi, tes kepribadian yang satu ini bisa jadi merupakan sesuatu yang sudah akrab di telinga, walaupun mungkin tidak semuanya tahu bagaimana cara mengadministrasikan tes ini. Tes ini merupakan salah satu jenis tes proyektif yang dimaksudkan untuk mengungkap aspek-aspek kepribadian seseorang. Seperti kemampuan intelegensi, fungsi efo, dan aspek afeksi dari orang tersebut. Tes ini menggunakan stimulus berupa bercak tinta. Bagaimana bercak tinta itu dibuat? Ya seperti ketika kita masih di TK dan main-main dengan tinta yang diteteskan di kertas dan kertasnya dilipat dan kemudian akan muncul pola di kertas tersebut. Seperti itulah kira-kira stimulus dalam tes Rorschach ini.
Tes Rorschach atau sebelumnya dikenal sebagai tes bercak tinta sendiri pertama kali dikenal di Tubingen, Jerman oleh seorang yang bernama Justinus Kerner pada tahun 1857. Kerner menyadari bahwa dia dapat melihat berbagai objek dalam bercak tinta tersebut. Kemudian pada tahun 1895, Alfred Binet menyarankan untuk menggunakan bercak tinta tersebut untuk melihat kemampuan imajinasi dan melihat kecenderungan kepribadian seseorang. Setelah itu, beberapa ahli lain juga melihat dan mengembangkan penggunaan bercak tinta sebagai alat untuk melakukan tes kepribadian seseorang (Klopfer & Davidson, 1962).

Sedangkan Hermann Rorschach yang namanya sekarang digunakan untuk tes bercak tinta ini adalah seorang pskiater kelahiran Zurich, Swiss, tahun 1884. Sepuluh kartu yang digunakan saat ini adalah hasil seleksi dari beribu-ribu kartu yang telah dicobakan dan sudah diklasifikasikan dengan kedua syarat berikut, yaitu bentuk bercak yang relatif simetris dan distribusi bercak harus memenuhi persyaratan komposisi tertentu (Subandi & Wulan, 2013). Teknik Rorschach ini kemudian juga dikembangkan oleh beberapa ahli, dua orang yang saya kenal dan saya gunakan untuk melakukan tes ini adalah Bruno Klopfer dan Aronov.
Saya sendiri mengalami empat semester dengan Tes Rorschach ini. Pertama kali sebagai mahasiswa, dan kemudian sebagai asisten yang membantu proses praktikum. Pada awalnya saya jadi asisten juga merupakan suatu kecelakaan belaka. Setelah saya kuliah Rorschach kalau tidak salah tahun 2009, mata kuliah tes ini kemudian tidak diadakan lagi selama beberapa semester. Entah karena kurangnya peminat atau hal lain, saya tidak tahu. Kemudian tes itu diadakan lagi dan teman seangkatan saya di mata kuliah tersebut sudah habis pada lulus. Hanya tersisa saya seorang. Jadi apa boleh buat, saya yang maju jalan untuk menemani dua puluh anak berproses.
Ternyata pada kesempatan pertama saya menjadi asisten itu, Bapak Dosen membuat perubahan kebijakan dengan menganti acuan yang tadinya menurut versi Aronov menjadi versi Klopfer dengan tetap menggunakan administrasi dan lembar-lembar versi Aronov—ah… saya mulai tidak berbicara dengan bahasa manusia ini tampaknya. Begitu juga pada kesempatan kedua saya juga belajar dengan versi campuran atau hibrid antara Aronov dan Klopfer. Pada kesempatan ketiga ini karena Bapak Dosen langganan sedang menimba ilmu kembali maka diganti oleh Mbak Dosen dengan tradisi Klopfer beneran. Maka ada lagi yang berubah dalam proses administrasi dan skoringnya.
Pada dasarnya, menurut manual, tes ini sebenarnya sederhana, testee atau orang yang dites hanya diminta untuk mengatakan apa yang dia lihat dari bercak tersebut. Saya sendiri baru mengalami dua kali praktikum resmi ketika kuliah, dan satu kali ngetes-ngetesan ketika harus belajar lagi sebagai asisten. Tes yang dilakukan di kos dengan alat tes di dalam laptop. Ini tidak ideal, jadi jangan ditiru ya… Jawaban yang didapat bisa sangat beragam dan sangat banyak, walaupun bisa juga didapatkan jawaban populer atau jawaban yang sering muncul. Kemudian pada tahap selanjutnya akan ditanyakan kembali kepada testee bagaimana dari pola bercak tinta tersebut bisa terlihat suatu objek, misalnya saja orang sedang jongkok sambil merokok. Mengapa bisa terlihat demikian? Jawaban-jawaban tersebut yang kemudian akan dituliskan untuk kemudian dilakukan skoring.
Selama ini sejauh pengalaman saya ngetes sendiri dan menunggui orang-orang ngetes, biasanya tidak ada masalah berarti dalam proses administrasi. Pada umumnya testee bisa menjawab dengan baik pada setiap kartunya. Saya belum pernah menemukan testee yang sampai tidak dapat memberikan satupun jawaban pada bercak tertentu, atau sampai perlu dilakukan tes analogi atau testing the limit (ini juga bukan bahasa manusia, bisa membaca referensi jika tertarik untuk memahami lebih jauh). Masalah pada tahap andministrasi ini sebagian besar muncul karena testernya yang mahasiswa itu terlalu tegang sehingga blank dan lupa dengan apa yang harus dikatakan. Hal ini juga dikarenakan adanya banyak hal yang harus dilakukan, menunjukkan kartu, mengukur waktu, dan mencatat jawaban, jadi memang ribet.
Sedangkan asisten hanya perlu berjalan-jalan, mendengarkan, memasang tampang tidak senang, dan menilai, seakan-akan apa yang akan dikatakan memengaruhi nasib dari orang yang ngetes. Yah… bahkan jika salah administrasi sekalipun, testee juga tidak akan terpengaruh apa-apa kok. Ya memang menjadi tidak valid hasil tesnya, tapi semua orang juga tahu kan kalau kita ini hanya mahasiswa S1 dan ini adalah praktikum pertama, interpretasinya tidak akan ada harganya kok untuk menilai kepribadian seseorang. Bagi saya, yang penting semua orang paham apa yang harus dilakukan dan semua senang, keahlian bisa dipoles kemudian. Toh nanti beda institusi juga beda tokoh yang dianut dan beda pula caranya.
Menjadi masalah dan menjadi begitu ribetnya adalah pemberian skor. Untuk skor lokasi biasanya lebih mudah, kita hanya perlu melihat seberapa besar bercak yang digunakan, apakah bercak bagian yang bertinta atau bagian putihnya. Menjadi agak rumit jika testee menjawab ini kebun binatang dan ini adalah gajah, lalu ini ular, lalu ini harimau. Apakah satu jawaban atau banyak jawaban, apakah perlu pakai kurung kurawal atau tidak? Apakah lokasi itu cukup besar untuk diberi skor W cut atau D saja? Ataukah di, de, dr?
Ya… kira-kira begitulah dalam memberikan skor untuk jawaban-jawaban yang diberikan testee. Ada banyak syarat dan ketentuan yang harus diperhatikan untuk memutuskan skor apa yang akan diberikan. Sebagai contoh, gerakan manusia akan mendapatkan skor M, sedangkan gerakan hewan akan mendapatkan skor FM. Bagaimana jika yang bergerak adalah ikan duyung? Apakah akan mendapatkan skor M atau FM? Belum lagi masalah Form Level Rating dengan syarat yang sangat mendetail untuk setiap tambahan poin yang perlu diberikan. Dua orang yang sedang menari akan mendapatkan tambahan setengah, sedangkan dua orang saja bisa jadi tidak mendapatkan tambahan skor organisasi. Hidung yang mancung bisa mendapatkan skor spesifikasi, sedangkan topi merah tidak mendapatkan tambahan skor spesifikasi. Sejauh praktek yang saya lakukan ini, ada mahasiswa yang sudah mengganti skor FLR-nya sampai empat kali karena perbedaan pandangan soal penambahan skor.
Tes Rorschach ini menurut saya memang unik. Jika tes Tematic Aperseption Test atau TAT itu merupakan tes proyektif yang murni kualitatif dan subjektif, pada Tes Rorschach tidak demikian. Jawaban-jawaban yang berbentuk kualitatif ini akan diberikan skor dan pemberian skor ini dengan cukup subjektif. Skor tersebut kemudian akan dijumlahkan dan dimasukkan dalam proses perhitungan yang kuantitatif. Hasil dari perhitungan tersebut yang kemudian akan dikualitatifkan lagi dengan melihat standar-standar yang ada. Seperti misalnya jika dari seluruh respon yang muncul, testee tersebut memunculkan sepuluh gerakan manusia maka berarti orang tersebut memiliki daya imajinasi yang cukup baik, misalnya demikian. Dengan proses yang seperti ini, validitasnya memang hanya dapat diukur dari kemampuan testernya. Apakah tester melakukan tes sesuai dengan standar, melakukan elaborasi pada tahap kedua dengan benar. Apakah tester benar-benar paham bagaimana memberikan skor pada lokasi, determinan, isi, dan FLR? Jika tidak, ya memang bubar jalan.
Bagi saya tes ini merupakan tes yang cukup akurat, tes ini mencoba menjelaskan bagaimana cara pandang seseorang dalam memandang suatu masalah, bagaimana keruntutan seseorang dalam berpikir, bagaimana daya imajinasinya, bagaimana responnya terhadap stimulus emosi atau lingkungan sosialnya. Tes ini tidak hanya melihat bahwa garis yang tebal menandakan kepercayaan diri dan gambar yang melewati batas adalah seorang yang ekspansif. Tes ini melihat dibalik itu. Dan selalu menarik ketika kita bisa menemukan sebuah kesimpulan yang tepat dari kecenderungan seseorang dengan hanya melihat seberapa luas bercaknya dan apa determinan yang muncul di situ.
Sampai sekarang Tes Rorschach selalu berhasil mengulik rasa ingin tahu saya. Tes yang membuat saya selalu bersedia untuk kembali berproses dan sama-sama belajar lagi. Menghadapi berbagai jawaban yang pada akhirnya tidak dapat kita skor dengan pasti. Banyak jawaban yang tidak dapat ditemukan apa skornya begitu saja di manual-manual yang saya pegang, dan saya memegang lebih dari satu manual. Skor yang akhirnya didapatkan dengan kesepakatan bersama dan diskusi terus menerus. Apakah seseorang menggenakan baju berwarna biru akan mendapatkan tambahan FLR 0,5 atau apakah orang bercermin akan mendapatkan skor FK? Jawabannya mungkin akan sangat bebeda-beda, tergantung siapa yang menilai dan standar siapa yang dipakainya.
Jadi manakah yang benar? Apakah Aronov ataukah Klopfer? Atau malah ada ahli lain yang tidak saya kenal, dan menurut saya pasti ada di luar sana? Lalu kepribadian menurut siapakah yang benar? Rasanya pertanyaan itu salah malahan kalau diajukan. Yang benar ya kepribadian manusia menurut manusia itu sendiri. Standar selalu dibuat sebagai sarana untuk memudahkan komunikasi para ahli, untuk bisa mengkomunikasikan pasien-pasien mereka, data-data yang mereka peroleh. Standar adalah bahasa yang disepakati bersama agar memudahkan komunikas para pelakunya. Standar ya hanyalah standar, penyederhanaan besar-besaran dari apa yang sebenarnya ada di kenyataan. Jadi, janganlah malah melakukan self fullfiling prophercy yang malah menyamakan kepribadian dan perilaku kita dengan standar dan kategorisasi dari para ahli. Ini hanya sekadar administrasi, jadi santai saja…


NB: Daftar pustaka akan ditambahkan kemudian atau bisa ditanyakan kalau pengen tau. Saya lupa bawa bukunya... hicks...


  

Rabu, 07 Oktober 2015

Manusia Tidak Dapat Hidup Hanya dari Ayam Penyet Saja

Tahun ini adalah tahun ke-13 saya hidup merantau dan menjadi anak kos di Jogjakarta yang walaupun sering macet hebat tetapi masih saya rasa menjadi rumah yang nyaman bagi saya. Salah satu hal yang sangat menjadi pertanyaan setiap harinya sebagai anak kos adalah, “Mau makan apa hari ini?”

Selasa, 25 Agustus 2015

Standarisasi dan Akreditasi dalam Pendidikan Tinggi


Sabtu, 11 April 2015 adalah salah satu hari bersejarah di Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya (IRB) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Hari itu IRB mendapat kunjungan dari dua orang assesor dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Seorang dari Universitas Hasannudin, Makasar; dan seorang lagi dari Universitas Indonesia Jakarta. Kunjungan yang menghebohkan seluruh fakultas dari hari Rabu, hari di mana pemberitahuan akan visitasi tersebut datang.
Tiga hari sejak hari pemberitahuan itu datang, IRB jadi penuh dengan keriuhan. Semua mahasiswa, dosen, dan karyawan berbondong-bondong mempersiapkan diri untuk kunjungan tersebut. Mulai dari memeriksa ulang borang akreditasi yang sudah dibuat pada bulan November 2014, menata kelas yang akan digunakan untuk pertemuan, mempersiapkan berkas-berkas administrasi dan bukti-bukti yang dibutuhakan, sampai mencari hotel dan mobil untuk mobilitas kedua assesor yang akan datang tersebut.

Senin, 24 Agustus 2015

Tesis Hari ini

Sudah beberapa lama ini jari-jari saya membisu. Tidak ada tulisan yang saya hasilkan, baik yang seriusan apalagi yang hanya galau-galau beginian. Untuk orang yang gaya-gayanya hidup dengan dan dari menulis, sudah terlalu lama saya tidak menghidupi diri saya sendiri. Rasa-rasanya begitu mampet dan buntet. 
Hari-hari saya terasa begitu letoy, seakan saya terus menerus tertidur dan melesak di kasur dengan banyak bantal yang bertebaran. Otak saya mampet...
Seharusnya saat ini, atau mungkin bukan seharusnya ya... sebaiknya, atau yang baik bagi saya saat ini sebenarnya adalah menyelesaikan kewajiban  utama sebagai seorang mahasiswa yaitu menulis sesuatu yang bernama tesis. Tetapi dalam waktu sekiranya dua bulan ini, saya selalu menemukan banyak hal yang bisa saya lakukan selain menulis untuk tesis itu.

Senin, 10 Agustus 2015

Kemarahan-kemarahan ini

Marah-marah sebenarnya bukan problem baru dalam hidup saya. Bagi banyak orang yang mengenal dan mengikuti kehidupan saya sampai sekarang, pasti banyak yang sudah pernah melihat saya marah atau menjadi sasaran kemarahan saya. Sekarang hal ini mulai terasa menggangu saya dan saya perlu berbicara untuk memahami ini dan berharap menyelesaikannya.
Banyak hal yang membuat saya marah dan menaikkan darah ke kepala dan membuat saya menaikkan nada bicara saya dan melontarkan banyak kata-kata yang menyerang orang lain. Percayalah, saya ahli dengan hal itu. Salah satu hal yang paling membuat saya marah adalah ketika ada orang yang memaksa saya melakukan sesuatu dengan alasan demi kebaikan saya, dan ketika saya menolak, saya masih dipaksa juga. Ada satu kejadian yang sampai sekarang kalau saya mengingatnya saya masih merasakan tercekat di tenggorokan ini karena masih pengen marah juga. Ketika itu seorang teman memaksa saya untuk ke Bali dan memaksa saya dengan ancaman. Saya sudah menolak dengan baik dengan beberapa alasan. Dan saya tidak punya uang untuk membiayai perjalanan itu. Dan saya masih diminta untuk melakukan perjalanan itu. Maka meledaklah saya. Itu perjalanan yang saya lakukan, waktu yang saya miliki, dengan anggaran yang saya punya. Jika saya punya waktu, punya dana, ya saya akan berangkat. Kenapa harus dipaksa sih? Jadi karena hal itu, dan karena darah ngeyel saya yang mengglegak dalam diri saya. Ada masa-masa yang cukup lama di mana saya tidak mau ke Bali hanya karena saya tidak mau manut sama teman saya itu. 
Saya pernah meledak lagi karena ada teman yang janji-janji palsu. Sebut saja Joko dan ini bukan nama sebenarnya. Si Joko ini menjanjikan untuk mencetak poster. Hari ini dia bilang besok. Keesokan harinya Joko bilang nanti sore, sore harinya, dia bilang sedang melihat kura-kura. Jadi sebenarnya kalau mengingat ini, saya tidak menyesali alasan saya untuk marah dengan si Joko ini. Yang selalu saya sesali adalah produknya.
Saya marah lagi kalau ada orang yang bagi saya tidak logis. Contoh paling dekat adalah masalah toilet degan seorang teman yang lain lagi. Kita sebut saja dia Mawar. Saat itu kami masih di kampus dan saat akan naik motor, Mawar yang posisinya membonceng saya itu minta untuk berhenti di pom bensin dalam perjalanan karena kepengen pipis. Dan saya walaupun tidak meledak, saya mengeras kala itu. Bagi saya tidak logis untuk harus berhenti lagi di pom bensin karena mau ke toilet, sedangkan kampus itu berisi sangat banyak toilet dengan air yang banyak dan bersih dan boleh dipakai siapa saja. 
Lain waktu saya marah lagi karena ada teman saya yang merasa tidak layak berteman dengan saya karena dia merasa tidak cukup pintar. Atau saya marah lagi karena si Joko ini berusaha menghindar. Atau saya marah lagi karena ada orang yang menginginkan sesuatu tapi tidak mau mencoba atau berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Atau saya marah lagi atau biasanya berusaha mengabaikan, orang yang selalu minta diyakinkan bahwa keputusannya atau apapun itu tidak apa-apa dia lakukan. 
Ada beberapa kasus kemarahan saya adalah berupa ledakan begitu saja yang tidak dapat saya kendalikan sampai ke produknya. Suara saya akan naik dan saya akan menyalak begitu saja. Di lain waktu saya sadar saya tidak suka dan saya langsung mengeras begitu saja. Saya marah tapi nggak keluar itu ya untuk sasaran orang-orang tertentu saja sih kayanya.
Yang membuat saya agak aneh adalah kejadian kemarin ketika saya tabrakan sama motor lain. Ketika itu saya akan membelok ke kanan, masuk gang dan saya ditabrak dari kanan. Saya dan mbak-mbak yang nabrak saya ini sama-sama jatuh. Saya ya jatuh aja begitu di aspalan. Alhamdulilahnya, saya pakai helm yang biasanya sudah langsung saya copot kalau masuk daerah yang aspalnya nggak ada garis-garisnya. Begitu terbangun, saya melihat mbaknya, dengan posisi masih duduk di aspal dengan sandal copot sebelah entah ke mana, saya bertanya, "Aku riting ngga ya tadi?" Dan si mbak menjawab tidak. Lalu berikutnya saya melihat motor saya dan lampu sen saya yang sebelah kanan masih ketip-ketip. Dan cerita ini berakhir begitu saja, kami sama-sama berdiri dibantumas-mas dari warung di sebrang gang. Saya dikasi air minum, dan bubar begitu saja.
Dan yang saya dapati adalah teman-teman saya heran dengan apa yang saya lakukan. Saya menangkap, teman saya si Joko ini menduga bahwa saya pasti akan langsung marah-marah sama mbak yang nabrak saya itu. Teman lain tampaknya heran karena saya tidak melanjutkan urusan dengan mbak penabrak. Saya tidak tahu dan tidak paham bagaimana sebenarnya prosedur tabrakan yang baik. Apakah saya harus bertanggung jawab atau meminta tanggung jawab? Yang pasti saya tidak marah pada saat tabrakan itu terjadi, saya tidak marah sampai dua hari kemudian saat saya mebuat tulisan ini. Saya juga bilang dengan teman saya Mas Mbek, kalau ini nama sebenarnya, kalau saya lebih marah dengan orang yang merasa tidak layak dari pada dengan orang yang nabrak saya. 
Saya juga tidak marah-marah sama Kenzie yang menyebarkan remah-remah di kamar saya, atau menumpahkan air ketika dia berusaha minum sendiri dari gelas. Tapi saya pasti marah-marah kalau yang rantap-rantap itu simbok atau bapaknya Kenzie. Jadi juga tergantung siapa pelakunya dan apa kelakuannya.
Jadi begitu kira-kira kisahnya ketika saya mencoba memahami dan menjawab pertanyaan dari seorang sahabat sekaligus pembimbing rohani sekaligus tukang bully saya. Pertanyaan: apa kecenderunganmu? Apa akar masalahnya?
Sering kali atau malah pada hampir setiap kemarahan saya akan menyesali apa yang sudah saya perbuat dan saya katakan. Walau demikian, mungkin juga ini hanya mencoba mencari pembenaran, saya merasa benar dengan alasan-alasan saya untuk tidak suka atau tidak setuju terhadap suatu hal. Saya jelas tidak setuju dengan janji-janji yang tidak bertanggung jawab dari si Joko yang bukan nama sebenarnya itu. 
Saya selalu merasa tidak cukup sabar dan tidak cukup rendah hati (jangan-jangan kalimat ini juga sudah sombong ya). Saya juga sering merasa bahwa saya akan mencoba lebih baik di kesempatan yang lain. Tapi kadang ketika kesempatan itu datang, saya menemukan alasan lain untuk marah. Atau bagaimana jika tidak ada kesempatan lainnya. Pada beberapa orang, saya merasa saya sudah tidak memiliki kesempatan lagi. 
Yang saya pikirkan sekarang adalah bagaimana produk dari kemarahan saya bisa keluar dengan cara yang lebih baik atau lebih lembut paling tidak lah ya... Atau kadang saya hanya merasa perlu untuk memastikan bahwa ada alasan yang benar dan kuat di balik kemarahan saya. Atau terkadang saya juga merasa tidak apa-apa untuk marah karena banyak orang di sekitar saya juga mengungkapkan kemarahan-kemarahannya. Sama seperti Simbok saya yang juga marah kepada teman-temannya, saya juga kadang merasa benar untuk marah. Di sisi lain, buat saya marah juga berarti meposisikan diri lebih tinggi dari orang lain, lebih benar, dan itu adalah hal yang bagi saya juga tidak benar. Ya saya memang ruwet begini adanya. Saya harap, ini hanyalah sebuah fase saja, suatu tahapan yang akan berakhir dan berlalu. Saya harap...