Postingan

Normal yang Selalu Baru

Gambar
Seperti yang sedang banyak dibicarakan semua orang sekarang ini di mana Indonesia sedang dalam tahap memulai normal baru atau tatanan baru dalam menghadapi pandemi covid-19. Kalau pakai istilah tatanan baru rasanya seperti lihat film di mana penjahatnya entah berupa monster, alien, atau ideologi yang ingin mengubah kondisi lama dan menciptakan tatanan baru yang lebih sempurna bagi kehidupan umat manusia. Semacam Thanos yang mencoba membuat bumi lebih baik dengan menghilangkan setengah populasinya. Semacam itu pulalah yang sedang diusahakan Indonesia dan juga semua negara lain di dunia ini dalam menjalani kehidupan pasca-covid-19 ini. Kebijakan kali ini seperti banyak kebijakan lain yang dikeluarkan pemerintah, ada yang mendukung dan banyak juga yang mengkritik kebijakan ini. Rasanya masih ada saja orang yang tidak menyadari bahayanya covid-19 ini dan tidak bergerak dengan kewaspadaan, rasanya keadaan di negara ini juga masih gamang. Apakah datanya benar seperti yang ditampilkan atauk…

Pandemi dan Berbagai Ritual yang Hilang Bersamanya

Gambar
Hari kedua Idul Fitri 2020, dua bulan setelah semua pembatasan skala besar mulai dilakukan, baik resmi maupun lockdown mandiri, saya memutuskan untuk pada akhirnya mengeksekusi niat yang sudah ada sekian lama untuk sowan Ibuk di Sendangsono. Mengatasi berbagai memeng karena jauh, rute yang naik turun begitulah, dan kondisi pandemi yang tidak menentu ini. Jika gereja tutup, sebenarnya bisa dipastikan tempat itu juga tutup. Pernah saya tanyakan kepada seorang kenalan yang tempat tinggalnya dekat lokasi apakah bisa masuk, katanya untuk doa pribadi masih bisa masuk. Satu lagi alasan saya berangkat karena saya disuruh berangkat oleh sahabat setelah saya sambati. Saya yang sudah ingin menyerah saja, yang apinya sudah tidak lagi bisa saya rasakan nyalanya, yang rasanya hidup menjadi rutinitas yang menyenangkan untuk dijalani, tapi tetap saja menjadi rutin. Saya lelah, saya ingin menyerah. Rencana awalnya saya berangkat Sabtu lalu, tapi karena satu dan lain hal saya urungkan menjadi hari Sen…

Ini bukan waktu menunggu

Gambar
Sudah berjalan cukup lama sejak virus ini mengambil alih dunia yang kita ketahui selama ini menjadi sebuah dunia yang menuntut adaptasi habis-habisan. Virus yang bergerak dengan kontak antar manusia ini membuat banyak hal harus dilakukan dan disesuaikan untuk membatasi atau mengurangi penyebarannya. Pariwisata jelas nomor satu terkena imbasnya, perjalanan dihentikan, tidak ada lagi perjalanan tidak perlu yang layak untuk dilakukan dalam situasi seperti ini. Semua kegiatan yang menghasilkan kerumunan praktis dihentikan, para pekerja seni menjadi salah satu yang terkena imbas besarnya. Covid dan ancaman akan kematian membuat apa yang layak dan tidak layak menjadi sangat jauh berubah. Berangkat ke sekolah, berangkat ke tempat kerja, nongkrong bersama teman, beribadah bersama, resepsi pernikahan, ternyata semua itu bisa tidak dilakukan, begitu saja. Gerakan menjaga jarak satu sama lain, bekerja dari rumah, meliburkan sekolah dan lembaga pendidikan lain, ternyata bisa dilakukan. Memang tid…

Gejayan Memanggil

Gambar
Empat belas tahun menjadi mahasiswa di Yogyakarta dan baru kemarin saya merasakan salah satu kebanggaan sebagai mahasiswa, ikutan demo. #GejayanMemanggil yang tiba-tiba ramai di sosial media selama beberapa hari yang mengundang mahasiswa dan semua elemen masyarakat untuk turun ke jalan menyuarakan aspirasinya karena berbagai hal tidak jelas yang berturut-turut terjadi di Indonesia hanya dalam beberapa minggu saja. Permasalahan Papua, kebakaran hutan, berbagai undang-undang bermasalah yang beresiko mengkriminalisasi siapa saja, dan banyak hal lain yang saya sendiri tidak yakin saya paham. Berita berseliweran ke sana ke mari sejak Minggu malam. Saya sudah share poster Gejayan Memanggil dan berniat untuk datang dan melihat apa yang terjadi. Pagi harinya dua orang teman sudah mempertanyakan poster tersebut dan menanyakan apakah saya paham dengan apa yang terjadi, diikuti dengan imbauan dari hierarki bahwa gerakan tersebut bisa berakibat kekacauan. Belum lagi menyusul selebaran dari rekt…

(Masih) Menjadi Cina

Gambar
Hari ini, salah satu permasalahan dalam diri yang saya kira sudah selesai dan tidak lagi menjadi masalah, ternyata tidak demikian. Dalam percakapan dengan seorang kanca plek sore tadi, saya baru menyadari betapa menjadi Cina itu masih menjadi ketakutan dan beban yang belum bisa saya lepaskan. Ternyata ada banyak lapisan mengenai persekusi atau diskriminasi, atau apapun lah namanya dari menjadi Cina, dan akhir-akhir ini juga menjadi Kristen. Tidak saja mengenai diejek sipit atau pokil, tidak hanya mengenai kesempatan yang tidak sama, tetapi ternyata ini mengenai kelangsungan hidup dan kebebasan saya, keluarga saya, dan habitat yang saya kenal. Sesuatu yang sering kali saya bicarakan, terkadang dengan nada yang terasa begitu biasa saja. Bagaimana misalnya kalau kami berbicara salah kepada orang yang salah. Bagaimana kalau kami melewati garis yang ternyata digariskan oleh orang lain dan tidak boleh kami lewati. Menjadi Cina tidak bisa sembarangan menjawab, bertindak, atau melawan. Taru…

Milly & Mamet, ini Bukan Cinta dan Rangga (Spoiler)

Berada di lingkungan yang banyak orang-orang film, dari aktor layar lebar, film maker, sampai kritikus film, mau ngomongin film tu kok rasanya jadi gagu ya. Apalagi saya ini bukan orang yang getol-getol amat nonton filmnya, tapi berhubung ini salah satu orang yang karyanya saya ikuti sejak awal, jadi saya kali ini mau berbagi sedikit pengalaman menonton filmnya. Ernest Prakasa adalah salah satu sutradara Indonesia yang karya-karyanya dianggap berkualitas dan selain Ngenest, tiap filmnya pasti sudah dipastikan ditonton oleh lebih dari satu juta penonton, termasuk akuh. Film-film dari Ernest selalu mengambil genre drama komedi dengan latar belakang keluarga. Saya tidak banyak menonton atau memahami bagaimana teknis suatu pembuatan film, jadi saya hanya ingin sedikit berbagi mengenai pengalaman dan pendapat saya setelah menonton film terakhir dari Ernest Prakasa ini, Milliy dan Mamet (ini bukan Cinta dan Rangga). Film Milly dan Mamet ini sedikit berbeda dari film-film yang sebelumnya k…

Dilema Menjadi Hijau

Setiap orang pasti memiliki ketakutan terhadap sesuatu, entah apapun itu. Salah satu ketakutan yang saya miliki adalah takut kalau bumi ini kehabisan sumber dayanya. Saya paling tidak suka melihat berita penebangan hutan, beruang kutub yang kelelahan karena kehabisan es yang mengapung di lautan. Atau di saat saya sedang berada di tengah mall dan penuh lampu, rasanya menakutkan ketika disadari berapa banyak listrik yang digunakan untuk menyalakan semua lampu, mesin kopi, AC, dan entah apa lagi. Walaupun saya pada akhirnya berusaha untuk mengabaikan karena suka dengan mall dan AC. Naaa... sebagai seorang yang punya ketakutan kehabisan sumber daya begini. Saya kemudian jadi suka dan memilih untuk mengambil gaya hidup yang cenderung hijau. Beberapa di antaranya seperti memakai pembalut kain, memakai tas belanja, membawa tempat minum, dan baru saja terjadi adalah membeli sedotan stainless dalam rangka mengurangi pemakaian sedotan plastik. Semua hal tersebut dengan catatan kalau ingat, kal…