Laman

Selasa, 06 September 2016

Apa Agama Saya?

Beberapa hari yang lalu saya sedang berada di sebuah tempat perawatan kecantikan dan berencana untuk melakukan pembersihan wajah di sana. Saat mendaftar ternyata untuk bisa melakukan perawatan di tempat itu harus tercatat sebagai anggota. Maka dimintalah kartu identitas yang saya miliki. Karena KTP saya saat itu sendang menjadi jaminan meminjam buku di perpustakaan, maka saya menyerahkan SIM. Saya juga dimina untuk mengisi formulir pendaftaran dan mengisikan data diri saya seperti alamat dan tempat tanggal lahir. Kemudian data tersebut dipindahkan ke komputer, saat itu saya kemudian ditanya, agama saya apa.
Rasanya langsung ada suatu tombol yang menyala di kepala saya. Apa relevansinya menanyakan agama di salon kecantikan? Saya masih menanyakan relevansi tersebut dan teman saya akhirnya yang menjawabkan apa agama saya. Perdebatan yang kemudian masih saya panjang-panjangkan lagi di sosial media. Ada yang kemudian berkata agar saya tidak negatif thinking dahulu dengan pertanyaan tersebut, nanti saya tidak cantik katanya, karena kecantikan itu berasal dari dalam diri.
Saya kemudian memikirkan apa yang saya rasakan mengenai pertanyaan ini. Ada ketidakterimaan dalam diri saya mengenai pertanyaan tentang agama di sebuah salon kecantikan. Saya heran dan penasaran mengenai apa relevansi dan dan kepentingan dari salon tersebut akan data agama ini. Apakah akan ada pembedaan perlakuan, ataukah akan ada promo yang terkait dengan agama? Dalam benak saya, ya hanya itu pentingnya data agama di salon kecantikan.
Beda urusan jika tempat itu adalah kantor pemerintahan, sekolah, atau rumah sakit. Agama menjadi faktor penting untuk tempat-tempat ini. Sekolah sebagai sarana penyalur ideologi, dan rumah sakit menjadi tempat di mana banyak negosiasi dengan Tuhan dilakukan. Maka tahu agama dari para penggunanya adalah suatu faktor yang perlu diperhitungkan.
Saya ini orang yang memang berada di sekolahan yang mempermasalahkan hal-hal yang lumrah semacam memasukkan data agama di KTP. Saya belajar untuk mempertanyakan itu. Jika data agama dibutuhkan untuk mengisi KTP, maka adalah lumrah untuk menanyakan apa agama seseorang di salon kecantikan. Tidak. Buat saya itu tidak lumrah.
KTP di Indonesia pernah menjadi sarana jahat untuk menandai seseorang dan melakukan diskriminasi pelayanan. Pada suatu masa KTP itu menjadi penanda apakah seseorang itu seorang ekstapol atau orang keturunan Cina. Efeknya, ada yang membayar lebih mahal untuk jasa tertentu, ada pelayanan yang tidak bisa diberikan untuk orang dengan kode tertentu, ada tempat-tempat atau posisi yang tidak bisa diperoleh dengan KTP bertanda tersebut.
Lebih jauh lagi saya kemudian memertimbangkan diri saya ini, jika tahun 1965 itu tidak pernah ada, dan kemudian pemerintah tidak memberikan undang-undang agar semua warga negaranya memeluk agama dari lima agama yang diakui negara, bisa jadi, saat ini saya beragama Kong Hu Chu. Bisa jadi akan ada banyak agama lain yang beragam dan mewarnai Indonesia. Bisa jadi juga akan terjadi perpecahan yang lebih semarak, bisa jadi.
Ternyata apa yang menjadi pilihan dari diri kita itu tidak bisa benar-benar bebas kita pilih begitu saja. Ada banyak faktor tidak langsung yang ternyata berpengaruh besar dalam menentukan jalan hidup saya. Segbagai contoh dalam hal agama ini, saya menjadi Katolik ya karena agama orangtua saya Katolik. Orangtua saya Katolik karena Kong Hu Chu dilarang waktu itu yang kemudian semua warga negara harus mencantumkan apa agamanya dari lima agama yang diakui itu. Bagaimana jika misalnya ada yang bersikeras untuk tidak memilih satu dari kelima agama tersebut? Efeknya akan panjang pastinya.
Jika tidak beragama atau memilih agama yang diakui, maka KTP tidak bisa diisi, atau diisi dengan kebohongan. Jika menikah tidak sesuai dengan lembaga-lembaga yang diakui tersebut, maka pernikahan yang dilakukan tidak akan diakui negara. Itu berarti tidak akan mendapatkan surat nikah, itu juga berarti anak yang lahir akan lebih sulit dalam mendapatkan akte kelahiran, jika bisa dapat setatusnya adalah anak yang lahir di luar pernikahan. Jika tidak punya akte maka sekolah akan lebih sulit lagi. Dan anak yang tanpa agama pasti akan menjadi rebutan para Ideological State Aparatus untuk mengajaknya bergabung dengan salah satu lembaga tersebut. Tanpa agama, seseorang akan dianggap tersesat dalam perjalanannya di dunia ini. Mmm… mungkin bukan di dunia, tapi di Indonesia.
Saya sendiri merasa bahwa agama yang saya jalani sekarang sudah menjadi pilihan bebas saya. Saya pernah menimbang lagi dan pilihan saya tidak berubah. Tapi apakah benar ini pilihan bebas saya? Terlalu banyak faktor yang terlibat, dari budaya dan gaya hidup yang sudah saya jalani selama ini, pandangan orang-orang dekat saya, pandangan orang-orang sekitar saya, pola pikir yang membentuk saya, sampai relasi saya pribadi dengan Tuhan dalam benak saya. Itu bukan suatu hal yang mudah untuk dilepaskan dari pertimbangan. Belum lagi minimnya akses pengetahuan untuk mempelajari ajaran yang lain. Saat saya sedikit belajar tentang ajaran Budha, saya merasakan papan-papan yang membuat kotak di kepala saya berderak-derak terpaksa membuka, dan itu bukan hal yang nyaman. Mengetahui ada konsep benar lain selain apa yang saya tau selama ini. Mengetahui bahwa ada superego jenis lain yang bisa dipilih dan itu juga benar.
Sampai saat ini, bagi saya sendiri, dengan semua pertarungannya, agama itu merupakan suatu hal yang penting dalam hidup saya, terlepas itu memilih atau dipilihkan. Tapi di sisi lain, saya sebagai orang yang sering diminoritas-minoritaskan ini merasakan betapa tidak enaknya dikotak-kotakkan karena sesuatu hal yang sulit kita ubah, karena suatu hal besar yang menjadi penanda identitas diri saya. Jadi bagi saya, selama tidak usah dikotakan, tidak perlulah menambah kotak dan golongan. Jadilah saja suatu tempat penanda gaya hidup yang kapitalis sajalah dan biarkan penanda-penanda itu menjadi urusan pribadi masing-masing.



Kamis, 25 Agustus 2016

Sekolah untuk siapa?

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang nenek yang bertanya kepada saya apakah saya tahu seseorang atau suatu lembaga yang bisa membantu pembayaran sekolah cucunya yang duduk di bangku SMP. Nenek ini bercerita bahwa mereka membutuhkan bantuan untuk membayar sekolah itu. Beliau sudah mencari benatuan ke suatu lembaga, tetapi disyaratkan surat keterangan tidak mampu yang keluhnya tidak diberikan oleh RT dan RW setempat tempatnya tinggal. Dari sekolah mereka mendapatkan bantuan untuk potongan uang sekolah, tetapi juga tidak banyak dan masih terasa beratnya.
Saya pun menanyakan lebih lanjut tentang sekolah si cucu ini. Ternyata si cucu ini bersekolah di sekolah swasta katolik dengan asrama, dan biaya yang harus dikeluarkan untuk uang sekolah setiap bulannya adalah sekitar satu juta tujuh ratus ribu rupiah. Saya cukup terkesan dengan angka itu, saya sendiri sekarang bersekolah dengan biaya dua juta satu semester, jadi angka yang disebutkan nenek itu memang mengesankan.
Usulan pertama saya mendengar hal tersebut adalah, pindahkan sekolahnya atau keluarkan dari asrama. Toh mereka juga tinggal di satu kota dan di Jogja ini saya yakin ada lebih banyak sekolah dengan harga yang lebih murah. Tetapi nenek tersebut menolak usulan tersebut karena dia merasa sangat disayangkan jika cucunya harus dikeluarkan dari sekolah itu, dan tinggal di asrama membuat cucunya itu belajar dengan lebih baik. 
Saya kemudian menyatakan demikian ke si Nenek: 
"Akan sangat sulit mendapatkan bantuan jika cucu si nenek tetap bersekolah di tempat itu dan tinggal di asrama. Terutama jika beasiswanya untuk anak yang tidak mampu."
Selain itu ternyata si cucu ini juga sudah mendapatkab beasiswa tetapi turunnya empat bulan sekali dan hal itu dirasa tidak mencukupi juga. Kata Simbok saya ketika saya bercarita mengenai hal ini, ini hanya mengenai masalah gengsi dan bukan masalah pendidikan si anak. Sedikit banyak saya menyetujui hal ini juga, apalagi jika saya pikirkan lebih lanjut, memang lebih banyak sekolah dengan prestasi yang lebih baik dari sekolah si cucu di Jogja ini.
Pemikiran saya ini kemudian mengejutkan diri saya sendiri. Saya ini termasuk orang yang 'merasa' berpihak pada kesetaraan pendidikan bagi semua orang. Saya ini merasa saya 'memperjuangkan' pendidikan bagi semua orang termasuk orang yang tidak bisa memperolehnya, ternyata saya tidak demikian.
Dari apa yang saya bicarakan dan saya pikirkan dengan si nenek ini, ternyata ada pemikiran bahwa pendidikan yang baik itu adalah pendidikan yang bisa dijangkau dengan membayar sesuai yang disyaratkan sekolah, dan jika tidak mampu ya tidak usah bersekolah di tempat itu. Bersekolahlah di tempat yang lebih murah, dan itu bagi saya saat itu langsung terpikir bahwa sekolah itu pasti sekolah yang lebih buruk dari sekolah si cucu sekarang, walaupun ternyata belum tentu demikian. Saya sendiri ternyata masih belum memercayai akan kesetaraan dalam pendidikan bagi semua orang.
Jadi saya cuma mau bilang, saya masih perlu belajar untuk menjadi adil sejak dalam pikiran.

Senin, 08 Agustus 2016

Menerima itu Memberi

Salah satu buku yang saya suka baca dan saya baca berulang-ulang adalah buku dengan judul 29 pemberian. Buku berwarna ungu yang pertama kali saya tau dari teman kos. Buku ini menceritakan tentang pengalaman penulisnya, Cami Walker yang menderita multiple skleriosis dan kecanduan obat-obatan penghilang sakit. Suatu hari dia bertemu dengan sorang teman yang juga merupakan penasihat spiritualnya bernama Mbali. Mbali kemudian menyarankan Cami untuk melakukan suatu ritual buang sial dan mulai melakukan pemberian selama 29 hari berturut-turut. Dalam penjelasannya, kalau tidak salah ingat, karena cuma pakai ingatan dan ngga ngadep buku, pemberian yang dilakukan ini tidak mementingkan apa yang diberikan dan sejumlah apa. Yang penting dari perilaku memberi yang dilakukan ini adalah kesadaran dalam memberi dan bagaimana energi yang terkumpul dari memberi itu dan bagaimana kita terhubung dengan orang lain dalam proses memberi tersebut.

Galau Surup Disorder

Sebelum membaca lebih lanjut tulisan ini, saya peringatkan sebelumnya kalau ini benar-benar cuma nyampah (kaya biasanya ngga aja). Buang uneg-uneg, buang stress, buang sial. 
Beberapa bulan yang lalu, setelah bangun dari bobok siang yang kesorean saya mulai mengalami serangan rasa sedih tanpa sebab yang spesifik, Leher terasa kenceng, manteng. Saya telisik-telisik, rasanya hari ini saya sehat-sehat saja. Tidak ada kejadian yang bikin galau, rasanya juga sedang tidak ada adegan yang tidak membuat semedhot, tapi rasanya sedih dan kesepian. 

Minggu, 08 Mei 2016

Sekolah Membuatku Patuh


Judul di atas sebenarnya adalah judul hasil plagiat dari tulisan teman saya di dalam buku Pendidikan Boneka. Claudius Hans dalam tulisannya di buku tersebut, bercerita tentang pengalamannya selama dia bersekolah di SMA dan masa-masa perkuliahan S1-nya. Bukan suatu pengalaman yang menyenangkan jika kita mau jujur mengakui. Pada tulisannya, kita akan menemukan adanya ketidakpuasan, bahkan kekecewaan Hans dengan sistem pendidikan yang dia alami.
Terlahir di sebuah kota kecil, Hans tidak memiliki banyak pilihan dalam bersekolah. Sekolah terbaik di daerahnya ya sekolah itu. Preferensi agama membuat pilihan sekolah bagi Hans semakin tidak banyak lagi. Masa SMA-nya dijalani dalam sebuah sekolah yang terkenal dengan kedisiplinannya. Hans yang dalam tulisan ini berbicara murni sebagai siswa merasa bahwa apa yang dia alami di sekolah tersebut bukanlah suatu perlakuan yang adil dan memanusiakannya sebagai manusia.