Laman

Kamis, 25 Agustus 2016

Sekolah untuk siapa?

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang nenek yang bertanya kepada saya apakah saya tahu seseorang atau suatu lembaga yang bisa membantu pembayaran sekolah cucunya yang duduk di bangku SMP. Nenek ini bercerita bahwa mereka membutuhkan bantuan untuk membayar sekolah itu. Beliau sudah mencari benatuan ke suatu lembaga, tetapi disyaratkan surat keterangan tidak mampu yang keluhnya tidak diberikan oleh RT dan RW setempat tempatnya tinggal. Dari sekolah mereka mendapatkan bantuan untuk potongan uang sekolah, tetapi juga tidak banyak dan masih terasa beratnya.
Saya pun menanyakan lebih lanjut tentang sekolah si cucu ini. Ternyata si cucu ini bersekolah di sekolah swasta katolik dengan asrama, dan biaya yang harus dikeluarkan untuk uang sekolah setiap bulannya adalah sekitar satu juta tujuh ratus ribu rupiah. Saya cukup terkesan dengan angka itu, saya sendiri sekarang bersekolah dengan biaya dua juta satu semester, jadi angka yang disebutkan nenek itu memang mengesankan.
Usulan pertama saya mendengar hal tersebut adalah, pindahkan sekolahnya atau keluarkan dari asrama. Toh mereka juga tinggal di satu kota dan di Jogja ini saya yakin ada lebih banyak sekolah dengan harga yang lebih murah. Tetapi nenek tersebut menolak usulan tersebut karena dia merasa sangat disayangkan jika cucunya harus dikeluarkan dari sekolah itu, dan tinggal di asrama membuat cucunya itu belajar dengan lebih baik. 
Saya kemudian menyatakan demikian ke si Nenek: 
"Akan sangat sulit mendapatkan bantuan jika cucu si nenek tetap bersekolah di tempat itu dan tinggal di asrama. Terutama jika beasiswanya untuk anak yang tidak mampu."
Selain itu ternyata si cucu ini juga sudah mendapatkab beasiswa tetapi turunnya empat bulan sekali dan hal itu dirasa tidak mencukupi juga. Kata Simbok saya ketika saya bercarita mengenai hal ini, ini hanya mengenai masalah gengsi dan bukan masalah pendidikan si anak. Sedikit banyak saya menyetujui hal ini juga, apalagi jika saya pikirkan lebih lanjut, memang lebih banyak sekolah dengan prestasi yang lebih baik dari sekolah si cucu di Jogja ini.
Pemikiran saya ini kemudian mengejutkan diri saya sendiri. Saya ini termasuk orang yang 'merasa' berpihak pada kesetaraan pendidikan bagi semua orang. Saya ini merasa saya 'memperjuangkan' pendidikan bagi semua orang termasuk orang yang tidak bisa memperolehnya, ternyata saya tidak demikian.
Dari apa yang saya bicarakan dan saya pikirkan dengan si nenek ini, ternyata ada pemikiran bahwa pendidikan yang baik itu adalah pendidikan yang bisa dijangkau dengan membayar sesuai yang disyaratkan sekolah, dan jika tidak mampu ya tidak usah bersekolah di tempat itu. Bersekolahlah di tempat yang lebih murah, dan itu bagi saya saat itu langsung terpikir bahwa sekolah itu pasti sekolah yang lebih buruk dari sekolah si cucu sekarang, walaupun ternyata belum tentu demikian. Saya sendiri ternyata masih belum memercayai akan kesetaraan dalam pendidikan bagi semua orang.
Jadi saya cuma mau bilang, saya masih perlu belajar untuk menjadi adil sejak dalam pikiran.

Senin, 08 Agustus 2016

Menerima itu Memberi

Salah satu buku yang saya suka baca dan saya baca berulang-ulang adalah buku dengan judul 29 pemberian. Buku berwarna ungu yang pertama kali saya tau dari teman kos. Buku ini menceritakan tentang pengalaman penulisnya, Cami Walker yang menderita multiple skleriosis dan kecanduan obat-obatan penghilang sakit. Suatu hari dia bertemu dengan sorang teman yang juga merupakan penasihat spiritualnya bernama Mbali. Mbali kemudian menyarankan Cami untuk melakukan suatu ritual buang sial dan mulai melakukan pemberian selama 29 hari berturut-turut. Dalam penjelasannya, kalau tidak salah ingat, karena cuma pakai ingatan dan ngga ngadep buku, pemberian yang dilakukan ini tidak mementingkan apa yang diberikan dan sejumlah apa. Yang penting dari perilaku memberi yang dilakukan ini adalah kesadaran dalam memberi dan bagaimana energi yang terkumpul dari memberi itu dan bagaimana kita terhubung dengan orang lain dalam proses memberi tersebut.

Galau Surup Disorder

Sebelum membaca lebih lanjut tulisan ini, saya peringatkan sebelumnya kalau ini benar-benar cuma nyampah (kaya biasanya ngga aja). Buang uneg-uneg, buang stress, buang sial. 
Beberapa bulan yang lalu, setelah bangun dari bobok siang yang kesorean saya mulai mengalami serangan rasa sedih tanpa sebab yang spesifik, Leher terasa kenceng, manteng. Saya telisik-telisik, rasanya hari ini saya sehat-sehat saja. Tidak ada kejadian yang bikin galau, rasanya juga sedang tidak ada adegan yang tidak membuat semedhot, tapi rasanya sedih dan kesepian. 

Minggu, 08 Mei 2016

Sekolah Membuatku Patuh


Judul di atas sebenarnya adalah judul hasil plagiat dari tulisan teman saya di dalam buku Pendidikan Boneka. Claudius Hans dalam tulisannya di buku tersebut, bercerita tentang pengalamannya selama dia bersekolah di SMA dan masa-masa perkuliahan S1-nya. Bukan suatu pengalaman yang menyenangkan jika kita mau jujur mengakui. Pada tulisannya, kita akan menemukan adanya ketidakpuasan, bahkan kekecewaan Hans dengan sistem pendidikan yang dia alami.
Terlahir di sebuah kota kecil, Hans tidak memiliki banyak pilihan dalam bersekolah. Sekolah terbaik di daerahnya ya sekolah itu. Preferensi agama membuat pilihan sekolah bagi Hans semakin tidak banyak lagi. Masa SMA-nya dijalani dalam sebuah sekolah yang terkenal dengan kedisiplinannya. Hans yang dalam tulisan ini berbicara murni sebagai siswa merasa bahwa apa yang dia alami di sekolah tersebut bukanlah suatu perlakuan yang adil dan memanusiakannya sebagai manusia.

Rabu, 17 Februari 2016

Gong Xi Fat Cai, pa?

Kalau biasanya Dewi Lestari atau Dee memberikan nukilan bukunya yang akan terbit di buku-bukunya yang lama, maka ini juga nukilan cerita dari tulisan yang saya harap akan jadi segera. Belum tentu untuk diterbitkan sih, tapi paling tidak akan diujikan. Entah kapan, jangan ditanya! Karena penelitian saya adalah autoetnografi, maka data pribadi menjadi isi dari bab 2 penelitian saya ini, dan ini adalah sepenggal darinya. Ini adalah pengalaman saya di malam Imlek kemarin, karena pengalaman ini masih segar dan ternyata masih terasa emosi dan ketidaksenangannya, kalau tidak mau dibilang marah, jadi sama Bu Dosen disuruh mengevaluasi lagi setelah bisa ambil jarak. Jadi daripada dibuang sia-sia, maka saya taruh sini saja.