Selasa, 26 Mei 2015

Hoy Cino!

Sudah lama sekali saya tidak dicina-cinakan oleh orang selain teman saya. Bahkan saya sudah tidak ingat kapan saya terakhir disapa oleh orang asing dengan sebutan itu. Tapi tadi pagi hal itu terjadi di sebuah gang di Demangan situ itu.
Saya baru saja selesai dari makan sop empal dan mau berangkat ke kampus. Berhubung sop itu tempatnya mblesek jadi ya mau tidak mau saya lewat gang-gang yang ga kecil-kecil amat lah sebenernya. Naa... di gang tersebut waktu saya mau lewat, ternyata sudah ada dua mobil yang stuck di situ. Satu mercedes benz hitam ke arah timur dan satu mobil putih sedan juga yang saya nggak ngeh itu mobil jenis apa. Saya berhenti di belakang mercedes sambil melihat bagaimana kedua mobil itu bisa saling melepaskan diri. Karena gangnya bener-bener mepet untuk kedua mobil tersebut.
Lalu sopir dari mobil putih itu membuka jendela, mengeluarkan tangan dan berteriak, "Hey Cino...!" 
Saya tidak terlalu mendengar apa yang dia katakan selanjutnya, saya hanya langsung memutar motor dan mencari jalan yang lain. 
Rasanya masih membuat darah saya mendidih ketika diteriaki demikian. Saya tidak bisa memastikan 100% apakah kata itu yang dia teriakkan, ataukah kata yang lain. Apakah ditujukan kepada saya atau bukan. Saya tidak bisa memastikan itu. Tetapi otak saya menangkap demikian.
Saya lalu bertanya-tanya, mengapa dari banyak penanda dalam diri saya kata 'Cino' lah yang dipilih. Kenapa nggak 'hey mbak!' apa 'hey ndut!' Kan bisa juga ya...
Lalu saya juga berpikir lagi sesi dua, jika kata Cino itu digantinya dengan tionghoa, 'hey tionghoa!' apakah perasaan saya akan lebih baik? Rasanya nggak juga sih... Saya juga tidak yakin walaupun tidak ada konotasi negatif yang menempel pada suku lain, misalnya Jawa atau Batak, apakah ketika diteriakin seperti itu di jalan oleh entah siapa apakah akan tetap baik-baik saja ya?

Selasa, 19 Mei 2015

Cina dan Aktivisme

Tidak banyak hal yang terjadi pada tahun 1998 yang saya alami. Dalam ingatan saya yang kala itu masih 11 tahun, kekacauan yang terjadi itu berada di luar rumah, berada jauh di dalam televisi. Saya hanya ingat saya melihat pengumuman mengundurkan diri dari Presiden Soeharto di televisi dengan masih memakai seragam putih merah. Pulang sekolah setelah ujian.
Saya hanya mengingat bahwa ada beberapa tempat yang dirusak, ada rumah-rumah yang dilempari batu dan selama berbulan-bulan jendela yang tadinya tertutup kaca, menjadi tertutup lembar-lembaran tripleks. Saya hanya mengingat, kota kecil yang tempat saya tinggal ini harus kehilangan CFC, waralaba ayam goreng pertama dan satu-satunya yang buka di Temanggug, dan langsung tutup ketika ada perusakan di tahun itu, dan tidak pernah ada lagi sampai sekarang. Persentuhan paling dekat adalah ketika tetangga belakang rumah saya berlari sambil berteriak-teriak ke arah toko saya kalau ada “hura-hura” yang menuju ke arah rumah kami. Kepanikan membuatnya salah mengucapkan huru-hara.
Kami semua langsung bergegas menutup toko. Merantai drum minyak tanah di depan rumah, mengangkat minyak tanah yang masih ada di tempat penampungannya masuk ke dalam dan segera menutup toko kami sebelum huru-hara itu datang mendekat. Hanya sejauh itu yang saya ingat. Saya bahkan lupa apakah toko kami dilempari batu atau tidak, atau apa yang kami lakukan setelah toko tutup malam itu.
Saya malahan mengingat orangtua saya mengumpulkan semua emas yang kami miliki. Kalung, anting-anting saya yang hanya tinggal sebelah, perhiasan milik mama saya, cincin, dan entah apa lagi, mereka menjualnya ketika harga emas melambung begitu tinggi. Hanya menyisakan sepasang anting emas hadiah ulang tahun dari Papah buat Mamah, dan cicin kawin mereka tentunya. Penjualan yang menghasilkan uang yang cukup besar kala itu.
Jika dilihat kembali, saya tidak banyak bersentuhan dengan apa yang terjadi di Jakarta kala itu. Sejauh yang saya ingat, tidak ada berita buruk yang menimpa saudara-saudara saya yang Cina dan tinggal di Jakarta kala itu. Malah ketika beberapa bulan yang lalu saya bertanya kepada Wak saya yang tinggal di Jakarta masa itu, beliau berkata bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi. Bahkan ia yang tinggal di kawasan Kelapa Gading itu berkata kalau keadaan berjalan normal, beliau memasak dan ke pasar seperti biasa. Entah apakah memang seperti itu keadaan yang beliau alami ataukah ada salah mengingat atau tidak mau mengingat. Mungkin memang seperti itu, tetapi karena banyak berita yang sudah saya terima selama ini bahwa kerusuhan kala itu begitu mencekam maka saya jadi skeptis dengan pernyataan beliau. Saya bahakan sedikit menyalahkan usia beliau dan meragukan ingatannya. Mungkin demikian…
Tapi kejadian yang menurut saya secara objektif itu tidak saya alami, ternyata memengaruhi saya sampai sekarang ini. Dan kejadian-kejadian di IRB akhir-akhir ini membuat saya merefleksikan ini.
IRB atau kajian budaya adalah kuliah yang sepaham saya dibangun dengan semangat perlawanan. Salah satu tulisan awal yang saya baca adalah tulisan dari St. Sunardi dalam Retorik yang berjudul Pada Mulanya adalah Perlawanan. Jadi harus melawan, harus menentukan posisi, siapa yang dibela, siapa yang disuarakan, siapa yang dilawan, pihak mana yang mendapat keuntungan dari penindasan yang sudah dilakukan. Itu yang saya pelajari. Dan mau tidak mau, pada akhirnya saya terlibat dan nyemplung juga di dalamnya.
Saya sudah dikatakan sebagai ‘kiri’ sejak beberapa tahun yang lalu oleh seorang teman. Tetapi dalam benak saya, saya sebenarnya tidak berani benar-benar melawan. Saya tidak cukup percaya diri untuk bisa melawan, saya merasa tidak cukup berani, tidak cukup mampu. Sampai sekarang rasanya saya tidak banyak berubah. Ketika ada pemutaran film yang dibatalkan, ketika ada gerakan untuk membuat petisi untuk suatu advokasi dan saya terlibat di dalamnya, ini yang saya katakan, “Aku Cina, kalau aku melawan nanti aku diperkosa gimana.” Atau “Aku ki Cina, nanti kalo aku cari masalah tokoku nanti dibakar.” Itu yang muncul.
Ketakutan itu ada dalam diri saya. Saya tergerak oleh orang-orang yang ditindas korporasi, saya tergerak dengan anak-anak jalanan yang terpaksa harus tinggal di rumah petak kecil dan hamil di bawah umur. Tetapi saya tetap takut jika saya harus menghadapi ancaman parang, diculik, disiksa, atau bahkan dilenyapkan. Cuma gereja yang berani saya lawan, karena melawan Romo-romonya tidak akan membuat saya dilenyapkan. Paling tidak sepanjang pengetahuan saya Keuskupan Agung Semarang tidak mempunyai represif aparatus. Jadi mungkin aman ya…
Jika berhadapan dengan teman-teman yang berani bersuara keras dan langsung terjun ke lapangan, buat saya itu mereka tidak berpikir panjang. Saya memberi diri saya ini alasan bahwa saya ini realistis, tetapi mungkin saya hanya pengecut. Hmmm….. berat juga ya untuk mengakui diri ini pengecut dari pada megatakan orang lain itu gegabah.
Saya hanya merasa saya berada di posisi yang begitu rentan dan ada banyak orang yang berada di belakang saya jika terjadi apa-apa dengan diri saya. Saya tidak mungkin diancam dengan parang misalnya dan kembali pulang dengan mental yang tetap utuh. Ketakutan akan aparat atau penguasa itu rasanya juga sudah berakar dalam di diri saya. Orang tua saya memilih untuk sebisa mungkin menghindar jika harus berurusan dengan aparat. Ketika toko kami kemalingan pun, percakapan yang ada di rumah tidak pernah positif tentang para polisi yang mengurus kasus kami. Ketika ada barang bukti yang ditemukan, rasanya malah membahas uang tebusan yang harus dikeluarkan untuk menebus barang-barang tersebut. Jika bisa menghindari masalah, kenapa juga harus dikonfrontasi.
Jadi, rasanya sampai sekarang, ketika urusannya bukan sampai nyawa atau kehidupan, rasanya saya begitu enggan untuk ikut berjuang. Jika hanya berurusan dengan pelarangan diskusi atau menonton film dan harus berurusan dengan RSA, rasanya buat apa begitu keras untuk berjuang dan melawan. Jika kemungkinannya adalah diperkosa, toko dibakar, diculik, atau dilenyapkan, rasanya memang harus banyak pertimbangan untuk melakukan perlawanan. Memilih apa yang benar-benar mau diperjuangkan dan meluangkan waktu untuk melakukan persiapan. Paling tidak jika sampai harus terlihat dalam perlawanan, saya ingin memastikan saya cukup senjata untuk bisa melukai bahkan mematikan lawan. Jadi membuat petisi tanpa persiapan, buat saya itu masih kebodohan.

Senin, 04 Mei 2015

Katanya pada Mulanya adalah Perlawanan…

Mulai sekolah di sekolahan yang saya jalani ini, pada mula pelajaran saya sudah dihadapkan pada artikel yang berjudul demikian, “Pada Mulanya adalah Perlawanan…” Ceritanya, kalau saya nggak salah inget dan gagal pahan, tulisan ini menunjukkan bahwa pada awal mula pembentukan kajian budaya adalah adanya perlawanan atau resistensi dari kelompok-kelompok budaya tertentu. Di mana ada suatu hegemoni atau kekuasaan maka disitulah kajian budaya akan ada dan bersuara. Di mana ada ketertindasan di situlah seharusnya orang yang bisa bersuara menyuarakan suaranya sendiri atau menyuarakan suara-suara orang lain yang tertindas. Suara orang yang mendapatkan double colonisation. Bahkan salah satu sarat yang harus dipenuhi dalam membuat tema penelitian tesis salah satunya adalah adanya perlawanan dari tema yang diangkat tersebut. Ada kaum yang dibela atau suaranya disuarakan dalam penelitian tersebut. Itu retorikanya.

Selasa, 31 Maret 2015

Autoetnografi apaan sih?

Berbulan-bulan ini saya sedang bergulat dengan satu istilah ini, autoetnografi. Istilah yang menghantui saya dan membuat saya berdebat dengan beberapa orang mengenai kesahihan penggunaan istilah ini. Lalu apaan sih sebenarnya autoetnografi ini? 
Ambil dari sini http://doingautoethnography.org

Autoetnografi sendiri adalah suatu merode penelitian yang meneliti manusia tetapi fokusnya adalah pada diri sendiri. Pada kisah hidup penulisnya sendiri sesuai tema yang diangkat. Hal ini sebenarnya sudah terlihat dari asal katanya itu sendiri, penulisan autoetnografi adalah penulisan yang memberikan penekanan dalam proses penelitian (graphy), pada budaya (ethno), dan pada diri (auto) (Heewon Chang, 2008).
Lalu kemudian apa yang menjadi masalahnya dengan ini. Saya kurang begitu paham sebenarnya dengan maksud dibalik istilah-istilah ini, tapi begini kata teman-teman dan buku mengenai perdebatan seputar metode ini, 
"Bagi orang-orang yang beraliran positivistik, metode ini dianggap sebagai suatu metode yang tidak dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya karena sangat subjektif. Sangat sulit untuk membiarkan diri tetap netral dan berjarak ketika kita meneliti diri kita sendiri atau lingkungan di mana kita hidup selama ini. Singkat kata, penelitian ini tidak objektif." 
Salah satu kritik yang saya baca adalah kritik dari Sara Delamont dalam artikelnya yang berjudul Arguments againts Auto-Ethnography. Tulisan ini adalah tulisan yang pernah dipresentasikan oleh Delamont pada European Sociological Association conference; ‘Advance in Qualitative Research Practice’ pada September 2006. Tulisan ini juga diterbitkan kembali di Qualiti (halaman 2-4), suatu terbitan mengenai penelitian kualitatif dari Cardiff University pada 4 Februari 2007 (artikel saya unduh pada Kamis, 12 Maret 2015 dari sini). Dalam artikel ini Delamont melakukan kritik yang cukup keras terhadap metode autoetnografi ini, dia mengatakan bahwa metode ini adalah metode yang malas, malas membaca dan malas meneliti (literally lazy and also intellectually lazy). Metode ini juga dikatakannya sebagai metode yang mengambil kewajiban para peneliti karena peneliti itu seharusnya terjun ke lapangan dan bukan malah meneliti diri sendiri di rumah saja. Ya tidak saya kutip dengan tepat di sini, tapi kira-kira begitulah isinya.
Lalu kemudian saya yang tadinya hanya sekadar ingin menggunakan metode ini, mau tidak mau harus mulai memelajarinya dengan lebih sungguh-sungguh agar saya bisa mempertanggungjawabkannya di depan publik. Bahkan dosen pembimbing dua saya saja tidak menyetujui penggunaan metode ini. Main-main sekali kan ya hidup saya ini. Tapi untuk mendebat pernyataan mbak Delamont ini, atau mbak-mbak dan mas-mas yang lain, saya merasa tidak sanggup. Ya... siapalah saya ini. Saya belum lama belajar mengenai metode ini, saya belum pernah menggunakan metode ini untuk melakukan penelitian. Baru saya mau pakai sekali ini saja, saya diperdebatkan. Tapi ya sutralah, maju terus saja. Kata Mbak Katrin, Ibu Dosen Pembimbing, karena sudah dinyatakan dengan eksplisit dalam proposal dan sudah diloloskan, berarti boleh. Alhamdulilah ya...

Naaa... lalu beginilah kira-kira penelusuran saya, tapi untuk tulisan kali ini saya akan lebih banyak refleksinya, soalnya ini blog curhat bukan blog yang ngilmiah.

Saya tidak tau ada masalah apa antara orang-orang yang positivis dengan orang-orang postmodernisme, yang pasti, ketika katanya orang-orang positivis menentang penggunaan metode yang dianggap menye-menye dan emosional ini, metode autoetnografi malah tumbuh di atmosfer postmodernisme. Begini katanya Chang (2008) Perkembangan dari autoetnografi tidak terlepas dari trend di mana subjektivitas dan refleksifitas dari peneliti mulai dihargai dalam pandangan postmoderenisme (Chang, 2008; Wall, 2008). Nah! Saya ini kan cuma mahasiswa ndeso yang nggak tau apa-apa dan harus terseret-seret dalam pertentangan kedua kubu ini. Kubu yang eksistesinya saja tidak saya pahami dan tidak saya ketahui. 
Omongan mengenai tulisan itu subjektif juga diamini oleh Paula Saukko. Semua tulisan itu ya subjektif, nggak ada yang objektif, pasti punya agendanya sendiri, punya sudut pandangnya sendiri (Saukko, 2003: 3). Saukko sendiri pernah menulis pengalaman pribadinya mengenai dirinya sebagai orang yang menderita anorexia, judulnya adalah The Anorexic Self. Tapi saya nggak berani ngomong soal buku ini soalnya saya bacanya belum beneran. 
Tetapi ya, mengenai masalah subjektifitas ini saya juga setuju sebenarnya. Coba beberapa orang diberi masalah penelitian yang sama dan suru mengerjakan sendiri-sendiri, pasti hasilnya akan berbeda. Saya dan teman saya Mas Alwi itu sama-sama meneliti mengenai orang Cina di Indonesia, tetapi apa yang saya baca tidak sama dengan apa yang dia baca. Sudut pandang dia yang bukan orang Cina, dengan sudut pandang saya yang Cina, juga pasti akan membuat perbedaan di tulisan. Minat dia yang sastra dan minat saya yang suka makan, pasti juga akan membuat penelitian dengan tema yang sama ini akan bermuara di tempat yang berbeda. Kata Saukko dalam bukunya Doing Research in Cultural Studies perbedaan-perbedaan dan pengetahuan yang sudah kita bawa itu namanya sosial baggage.
Lalu kemarin ketika saya melihat pertunjukan teater dari Tony Broer yang sepemahaman saya, pertunjukan itu merupakan bahan dari desertasinya, saya jadi bertanya, bukankah itu juga auto? Entah pakai kata etnografi apa bukan tapi autonya. Mas Tony, dan mungkin juga penelitian dalam bidang seni lainnya, dituntut untuk menghasilkan karya dalam tugas ilmiah yang mereka lakukan. Dan selain produk pertunjukkan atau karya, juga pasti ada produk tertulisnya kan ya? Lalu apakah itu juga dipertanyakan keilmiahannya? Kan itu malah bikin karya sendiri, dianalisis sendiri. Iya bukan sih? Apa saya yang gagal paham ya? Apakah kita bisa bilang itu ilmiah jika di dunia seni tetapi tidak ilmiah dari sudut pandang yang lain? Kalau gitu berarti autoetnografi juga pasti memiliki ruang ilmiahnya sendiri kan ya kalau pandangannya begitu. Mungkin tidak ilmiah di sudut pandang antropologi tapi ilmiah di astronomi, siapa juga yang menentukan kan ya? Lalu ilmiah itu yang kaya apa sih sebenarnya? Saya juga ga yakin...
Hal lain yang diangkat adalah izin penelitian atau publikasi (informed consent) dari orang yang kisahnya kita masukkan dalam cerita. Sebagai contoh yang diangkat Mbak Delamont (2007) adalah jika penulis menceritakan tentang ibunya yang mengalami gangguan mental, pasti penulis itu tidak meminta izin terlebih dahulu sama ibunya kalau dirinya akan dimasukkan dalam penelitian. Tapi, sejauh yang saya ketahui, jika saya mewawancara seseorang, sebut saja Bunga, maka saya akan meminta izin dan memberikan informed consent itu pada si Bunga. Perkara di situ nanti Bunga menceritakan tentang ibunya, neneknya, tetangganya, atau pacarnya kan itu termasuk data dari si Bunga kan ya? Saya nggak usah meminta izin juga pada neneknya atau pacarnya karena mereka ada dalam kehidupan Bunga. Tapi itu saya juga nggak yakin, itu cuma pikiran saya semata, belum ada bukti tertulisnya, makanya saya nulisnya di sini bukan di Artikel Ilmiah yang saya tulis.
Lalu kemudian kalau ada yang bilang metode ini malas, pasti para pelakunya sangat tidak setuju dengan hal ini. Ini memang kisah hidup, tetapi kisah hidup ini tidak hanya kita sajikan dan tidak kita apa-apakan lagi. Beberapa penelitian akan mencari apa wacana yang ada di balik kisah hidupnya. Beberapa menggunakan pengalaman prbadinya untuk menentang wacana dominan yang ada. Sebagai contoh penelitian mengenai jilbab pada akhirnya sampai pada permasalahan gender dan feminisme, tidak hanya bagaimana orang tersebut mendapatkan hidayah lalu memakai jilbabnya begitu saja. Dan kesulitannya adalah sama seperti yang banyak diperdebatkan selama ini, bagaimana caranya kita bisa menganalisis itu semua dan mengambil jarak dari apa yang terjadi. Kami sadar kami ini nyemplung dalam permasalahan dan kondisi yang seperti apa. Kami harus terus menerus menyadari bahwa ada jarak yang harus diambil. Bahwa ketika analisa dimulai, data adalah data. Bisakah? Saya belum mencoba...
Autoetnografi ini memang bukan metode penelitian yang pas untuk semua tema. Sama dengan statistik yang tidak bisa untuk mengungkap ideologi, atau metode wawancara untuk membuktikan pertumbuhan mikroba. Tema-tema apa saja yang pas? Na itu saya juga belum yakin, kalau saya tau saya sudah akan melakukan revisi di bab 1 saya. Yang pasti beberapa masalah mengenai religiusitas, relasi, pengalaman kebertubuhan, gangguan mental, dan permasalahan ras sudah banyak diteliti dalam metode ini. Dan datanya sejauh yang saya tau adalah berupa kisah atau narasi. Boleh hanya diri penulis, boleh juga dibandingkan dengan pengalaman yang sama dari pihak lainnya. Ilmiah atau tidak, Carolyn Ellis sudah jadi profesor dengan penelitian model ini dan mengajarkannya ke mana-mana. Mungkin beliau bisa membantu saya berargumen mengenai masalah ini. Yang pasti, Ellis (2004), menyatakan bahwa metode ini juga memiliki efek menyembuhkan bagi penulisnya. Pernyataan yang diamini beberapa pelaku penelitian autoetnografi lainnya. Dan sosial baggage yang saya miliki adalah saya orang psikologi, saya peduli dengan kesehatan mental, baik mental saya yang tidak baik, maupun mental orang-orang lain. Saya ingin ini bisa dipakai sebagai salah satu alternatif metode penelitian di bidang psikologi, walaupun orang-orang psikologi lebih suka mencari hubungan dan perbedaan dengan uji t. Tapi apa salahnya kan ya jika kita mencoba. Lebih Mudah Dikatakan daripada Dilakukan, begitu kata Sarah Wall seperti yang bisa kita lihat di bawah ini.





Selasa, 06 Januari 2015

Dispensasi Pengingat Merapi

Beberapa waktu ini saya sedang mengurus dispensasi pembayaran uang kuliah saya. Karena saya tiba-tiba harus pindah kos dan pembayaran yang di kos lama biasanya bulanan tiba-tiba harus berubah menjadi pembayaran enam bulan di depan, membuat Orangtua Foundation yang membiayai kuliah saya selama ini cukup kaget dengan pengeluaran yang tiba-tiba banyak tersebut. Dan tidak beruntungnya bagi saya dan bagu universitas tempat saya kuliah adalah pembayaran kos ini sebulan sebelum batas waktu pembayaran kuliah saya.
Oke, sebagai anak yang tidak berpenghasilan, salah satu cara yang bisa saya lakukan adalah meminta dispensasi agar saya bisa mundur membayar uang kuliah tanpa mendapatkan denda. Jangan kalian berpikir bahwa karena saya Cina dan punya toko maka saya akan dengan mudah membayar uang kuliah.