Pos

Arisan, Nyah!

Gambar
Berbulan yang lalu saya dan salah satu teman saya sejak SMA mulai rerasan untuk melakukan sesuatu bersama-sama. Saat saya sudah menjelang selesai kuliah dan beliaunya sudah mulai ingin melakukan sesuatu yang baru setelah perusahaan yang sebelumnya didirikannya bersama suami mulai bisa berjalan tanpa campur tangannya lagi terus menerus. Pembicaraan ngalor ngidul, berbagai macam rencana usaha apa yang akan dilakukan, akhirnya pada satu titik, mulai mengerucut dan menemukan bentuknya. Kami ini dua orang perempuan yang sudah lebih dari separuh hidup kami habiskan di Jogja. Di sini kami berteman dan mulai mengenal banyak orang. Dari situ kami juga mengenal banyak teman-teman kami dari semasa SMP, SMA, sampai teman kuliah yang memulai usahanya. Ada yang mulai menjual beras organik, ada yang menjual aksesoris yang didesain atau dibuat sendiri, ada yang membuat sabun, pakaian, dan banyak lagi. Saya sendiri, saya melihat bahwa beberapa orang ini jika saling dipertemukan bisa saling membantu. …

Sekali Lagi, Terima Kasih

Akhirnya, perjalanan panjang yang dimulai 2013 lalu bisa diakhiri, dengan baik. Belum seluruhnya berakhir memang, masih ada perbaikan dan satu dua hal yang harus dilakukan sebelum bisa benar-benar selesai dari tempat ini, tapi boleh lah ya sombong dulu sekarang.Setelah ujian kemarin, beberapa teman menanyakan, bagaimana rasanya? Bagaimana ya... rasanya biasa saja sebenarnya. Sampai saat ini tidak ada perubahan yang besar dalam hidup saya, rutinitas juga masih sama saja, jualan keliling-keliling, ke kampus, ke sana dan kemari. Teman saya yang sudah lebih dahulu lulus juga menyatakan hal yang sama, biasa saja rasanya, hanya ada yang aneh karena apa yang biasanya dilakukan, sekarang tidak ada lagi. Bumi tetap berputar seperti biasa. Proses ujian yang terjadi pun rasanya tidak benar-benar saya alami. Melayang. Mungkin karena gugup dan tidak bisa tidur semalam sebelumnya. Walaupun saya sudah susah payah mengisolir diri dan mengalihkan perhatian, tetap saja serangan panik datang dan membuat…

Kamu Suci dan Aku Penuh Busa

Masih gelisahkah kamu? Aku di sini masih mencari. Entah kenapa begitu caraku menyembuhkan diiri. Ketika gelisah dan sakit masih terasa mengganggu, aku hanya bisa terus mencari. Bagiku, pemahaman adalah kesembuhan. Memahamiku, memahamimu, atau berdamai dengan pemahamanku tentangmu, memhami apa yang sudah terjadi. Aku tau kamu tidak suka dibicarakan, tapi kali ini aku harus berbicara. Berbicara membuat pikiranku ini tertata dan terkadang, bertemu dengan orang yang tepat, membuatku bisa menemukan cara baru untukku bisa melihat. Berbulan aku mencoba membaca apa yang kamu mau dan aku berjalan di atas imaji atas kehendakmu. Aku tidak berbicara, aku berjalan dalam diam, karena dalam benakku itu yang kamu suka. Sampai saat ini, ternyata masih tidak mudah untuk lepas dari garis yang aku buat. Kamu masih menjadi superego yang terasa menjerat kuat.  Di sisi lain, tidak mensyukurimu akan menjadi ketidakadilan yang aku jatuhkan pada diriku sendiri. Kehilangan ini menjadi suatu hal yang aku sesali…

Ada Ide?

Baru sekitar dua hari yang lalu saya dikirimi pesan dari seorang kawan yang berada jauh di ujung timur Indonesia sana. Pesan yang tidak biasanya datang. Pesan yang datang menjelang tengah malam yang berarti sudah dini hari di sana. Sebut saja Theresa, sama seperti seorang perempuan sederhana yang pernah hidup dan menjadi legenda di India sana. Dia malam itu bercerita akan pengalaman barunya yang ternyata kali ini menguji batasnya. Dia yang selalu penuh semangat dan bercerita tentang anak-anak yang diajarnya di sana dengan penuh optimisme kali ini tidak demikian. Malam itu dia bercerita akan kesedihan dan keputusasaan yang dia rasakan di tempat barunya. Tempat di mana dia tidak hanya menemukan anak-anak yang tidak bisa belajar dan bersekolah. Kali ini berbeda. Masalahnya tidak hanya tidak adanya guru yang mau mengajar, masalahnya ada pada anak-anak yang tidak bisa makan, anak-anak yang tidak bisa berlari-larian karena tubuhnya tidak cukup kuat karena kurang gizi. Dia bercerita tentan…

Apa Agama Saya?

Beberapa hari yang lalu saya sedang berada di sebuah tempat perawatan kecantikan dan berencana untuk melakukan pembersihan wajah di sana. Saat mendaftar ternyata untuk bisa melakukan perawatan di tempat itu harus tercatat sebagai anggota. Maka dimintalah kartu identitas yang saya miliki. Karena KTP saya saat itu sendang menjadi jaminan meminjam buku di perpustakaan, maka saya menyerahkan SIM. Saya juga dimina untuk mengisi formulir pendaftaran dan mengisikan data diri saya seperti alamat dan tempat tanggal lahir. Kemudian data tersebut dipindahkan ke komputer, saat itu saya kemudian ditanya, agama saya apa. Rasanya langsung ada suatu tombol yang menyala di kepala saya. Apa relevansinya menanyakan agama di salon kecantikan? Saya masih menanyakan relevansi tersebut dan teman saya akhirnya yang menjawabkan apa agama saya. Perdebatan yang kemudian masih saya panjang-panjangkan lagi di sosial media. Ada yang kemudian berkata agar saya tidak negatif thinking dahulu dengan pertanyaan terseb…

Sekolah untuk siapa?

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang nenek yang bertanya kepada saya apakah saya tahu seseorang atau suatu lembaga yang bisa membantu pembayaran sekolah cucunya yang duduk di bangku SMP. Nenek ini bercerita bahwa mereka membutuhkan bantuan untuk membayar sekolah itu. Beliau sudah mencari benatuan ke suatu lembaga, tetapi disyaratkan surat keterangan tidak mampu yang keluhnya tidak diberikan oleh RT dan RW setempat tempatnya tinggal. Dari sekolah mereka mendapatkan bantuan untuk potongan uang sekolah, tetapi juga tidak banyak dan masih terasa beratnya. Saya pun menanyakan lebih lanjut tentang sekolah si cucu ini. Ternyata si cucu ini bersekolah di sekolah swasta katolik dengan asrama, dan biaya yang harus dikeluarkan untuk uang sekolah setiap bulannya adalah sekitar satu juta tujuh ratus ribu rupiah. Saya cukup terkesan dengan angka itu, saya sendiri sekarang bersekolah dengan biaya dua juta satu semester, jadi angka yang disebutkan nenek itu memang mengesankan. Usulan…

Menerima itu Memberi

Gambar
Salah satu buku yang saya suka baca dan saya baca berulang-ulang adalah buku dengan judul 29 pemberian. Buku berwarna ungu yang pertama kali saya tau dari teman kos. Buku ini menceritakan tentang pengalaman penulisnya, Cami Walker yang menderita multiple skleriosis dan kecanduan obat-obatan penghilang sakit. Suatu hari dia bertemu dengan sorang teman yang juga merupakan penasihat spiritualnya bernama Mbali. Mbali kemudian menyarankan Cami untuk melakukan suatu ritual buang sial dan mulai melakukan pemberian selama 29 hari berturut-turut. Dalam penjelasannya, kalau tidak salah ingat, karena cuma pakai ingatan dan ngga ngadep buku, pemberian yang dilakukan ini tidak mementingkan apa yang diberikan dan sejumlah apa. Yang penting dari perilaku memberi yang dilakukan ini adalah kesadaran dalam memberi dan bagaimana energi yang terkumpul dari memberi itu dan bagaimana kita terhubung dengan orang lain dalam proses memberi tersebut.