Rabu, 09 Juli 2014

Pertanyakan Sejarahmu!





Judul buku: The 100 Year Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared
Pengarang: Jonas Jonasson
Halaman: 508 halaman isi
Penerbit: Bentang Pustaka


Menarik! Itulah kata yang muncul saat saya melihat buku ini untuk pertama kalinya, apalagi setelah saya membaca sinopsis di bagian belakang buku hijau ini.
Jonas Jonasson dalam buku ini mengisahkan mengenai Allan Karlsson. Siapakah Allan ini? Sebenarnya Allan hanyalah seorang jompo yang tinggal di sebuah panti sosial di Swedia. Hari Senin, 2 Mei tahun 2005 itu adalah hari ulang tahunnya yang ke-100, dan dia begitu enggan untuk menghadirinya sehingga dia memilih untuk melompat dari jendela dan kabur.
Buku ini kemudian mengisahkan dua kisah Allan secara pararel. Di satu bagian Jonas mengisahkan kisah Allan selama masa pelariannya dari panti sosial, sedangkan di bagian lain, dikisahkan perjalanan hidup Allan sepanjang masa hidupnya. Kedua perjalanan itu sama-sama menariknya dan penuh gejolak, padahal Allan adalah orang yang begitu santai dan woles.
Allan adalah orang yang hanya mengikuti keinginannya sendiri, orang yang begitu anti dengan berbagai ideologi agama dan politik yang berseliweran di sekitarnya. Pemikirannya yang woles dan keberuntungannya inilah yang membuatnya selamat melalui berbagai peperangan dan yang membuatnya mendapatkan uang sebanyak lima puluh juta krona dalam pelariannya.
Saya tidak banyak melakukan pemeriksaan silang mengenai berbagai hal yang ada di dalam buku ini, tetapi buku ini menceritakan banyak tokoh yang memang pernah hidup bahkan menjadi tokoh besar dalam sejarah. Allan berjumpa dengan Kim Jong Il, Mao Tse-tung, Harry Truman, dan banyak tokoh lain. Lucunya, secara tidak sengaja, Allan menjadi orang yang ternyata memiliki peran besar dalam banyak peristiwa sejarah yang terkait dengan tokoh-tokoh besar tersebut.
Di sini saya melihat kecemerlangan dari Jonas Jonasson, ia mempertanyakan dan menulis kembali sejarah berdasarkan kacamatanya, kaca mata seorang Swedia yang anti ideologi bernama Allan. Salah satu bagian dalam buku ini yang membuat saya merasa yakin akan kecanggihan dari Jonas adalah cerita tentang Indonesia. Saya yakin Jonas sungguh-sungguh melakukan riset mengenai setiap peristiwa yang diceritakannya dalam buku ini.
Membaca bagian mengenai Indonesia, membuat saya merasa antara bangga tetapi juga ironis. Jonas menceritakan dengan begitu gamblangnya mengenai birokrasi yang ada di Indonesia. Betapa apa saja bisa dilakukan di Indonesia selama hal itu bisa dibeli dengan uang. Diceritakan seorang sahabat Allan bernama Amanda yang bisa membeli jabatan sebagai gubernur Bali. Diceritakan pula bagaimana Allan juga dengan mudahnya membawa seekor gajah seberat empat ton yang bernama Sonya masuk ke Indonesia, tanpa surat, tanpa izin, hanya dengan memberikan bayaran yang sesuai. Sesarkastik itu Jonas menggambarkan Indonesia, tetapi tidak dapat disangkal bahwa itulah gambaran Indonesia yang memang terjadi, dari zaman perang kemerdekaan sampai saat ini.
Jonas menuliskan kisah ini dengan begitu sarkastik dan penuh dengan ironi, tetapi di sisi lain kita juga bisa belajar dari betapa woles-nya si Allan ini. Apa yang memang seharusnya terjadi, pasti akan terjadi, jadi ya nikmati saja. Selama mendapatkan tempat tinggal, makanan, pekerjaan, dan vodka, itu sudah cukup bagi Allan. Jonas juga mempertanyakan lagi mengenai sejarah yang terjadi sepanjang abad dua puluh ini. Apakah memang tokoh-tokoh besar itu yang sungguh-sungguh mengubah arah sejarah, atau ada Allan-Allan lain? Orang-orang yang tidak terlihat, orang-orang biasa, yang entah dengan cara bagaimana, berada di tempat dan waktu yang tepat sehingga memberi perubahan besar dalam sejarah manusia.

Baca di kasur
 
 

Rabu, 02 Juli 2014

Panjang Usia Mbah Jan


Renta usianya, entah berapa pastinya aku tidak pernah bertanya. Wajah legamnya sudah penuh keriput, pendengarannya pun sudah banyak berkurang, tetapi pijatannya masih mantap terasa, pijatan yang sering diberikannya secara cuma-cuma kepada kami. Mbah Jan namanya, semua orang memanggilnya begitu. Aku tidak tahu siapa nama lengkapnya, untuk ini aku juga tidak pernah bertanya. Mungkin aku tidak cukup peduli dengan keberadaanya, hingga aku tidak cukup ingin tahu siapa dirinya, tapi aku tahu beberapa hal mengenai dirinya.
Beberapa hari yang lalu aku main lagi ke Pingit. Awal tahun ajaran seperti ini selalu memberi kegiatan ekstra untuk kulakukan di Pingit. Ada beberapa administrasi yang harus diselesaikan, mungkin juga ada beberapa anak yang harus didaftarkan masuk sekolah. Kegiatan yang sudah kulakukan selama beberpa tahun belakangan ini. Dan siang kemarin aku datang lagi ke Pingit. Siang hari di awal puasa yang panas.

Ayo Nyoblos!

Pemilu tinggal hitungan hari lagi dan saya sudah tidak sabar lagi menanti tanggal 9 Juli ini datang. Bukan kenapa-kenapa, tapi saya sudah mulai muak dengan semua perdebatan dan perselisihan yang menyertai semua pemilu ini. Sepanjang ingatan, ini adalah pemilu yang paling heboh yang pernah saya rasakan. Semua orang membicarakan pemilu, dari media yang terlihat jelas memihak, sinetron yang menyelipkan kampanye pada dialognya, semua surat terbuka yang balas membalas di media sosial, sampai berbagai media kampanye yang tersebar di segala sudut. Kreatif memang, tapi tetap saja bikin muak.
Di sisi lain, saya juga ikut deg-degan dan harap-harap cemas dengan hasil pemilunya. Bagaimana pemilu nanti akan berlangsung? Siapa yang menang? Apakah akan ada kekacauan nanti setelah Pemilu selesai, melihat proses perjalanannya saja sudah begini panas. Dan semakin mendekat ke tanggal sembilan, ketakutan yang saya rasakan semakin terasa jelas.

Jumat, 13 Juni 2014

Berteman yang Begitu Menyenangkan

Sudah lama banget saya pingin nulis dengan tema ini, tapi entah kenapa tidak jadi-jadi juga sampai sekarang. Pernah dulu jadi satu tulisan tapi urung saya terbitkan. Dua hari ini tema ini balik lagi di kepala saya, dan saya putuskan untuk mencoba menuliskannya dan mempublikasikannya.
Dulu saya adalah seorang yang takut dengan manusia lain. Teman-teman yang mengenal saya lebih dari tiga tahun pasti ingat bagaimana saya dulu. Saya tidak suka menyapa orang lain, apa lagi dengan tipikal wajah yang cenderung galak membuat orang-oarang juga tampaknya jadi enggan buat duluan menyapa saya. Jadi tambah anti sosiallah saya kala itu. Rumah saya itu toko, dan selama bertahun-tahun saya tidak pernah berdiri di toko untuk membantu Mamah saya. Menjadi pusat perhatian di toko itu begitu menakutkan buat saya. Saya juga akan memilih menghindar kalau berpapasan dengan orang yang saya kenal dengan tanggung. Saya bisa berlangganan di suatu warung atau rental dan tidak pernah bertukar percakapan dengan penjaganya, walaupun saya bertemu setiap hari dengan orang tersebut. Setakut itulah saya dengan orang lain, setakut itu saya dengan pendapat orang lain tentang diri saya.
Lalu entah kenapa saya mulai memiliki pandangan yang lain, dan sekarang saya tergila-gila dengan berteman. Berteman menjadi suatu kegiatan yang saat ini begitu saya nikmati, dan dengan berteman itu saya mulai ingin menghubungan teman-teman saya.
Diawali dari dulu saya di Pingit dan membutuhkan seorang untuk memural tembok-tembok di Pingit. Saya kemudian berkenalan dengan seorang guru yang sanggat nyeni. Beliau sangat pintar menggambar dan memfokuskan diri dalam mengolah sampah menjadi media untuk belajar anak-anak. Di tempat lain saya mengenal seorang guru yang bekerja di desa dan ia berhasil melatih anak-anak bermein musik dengan barang bekas.
Saya juga mengenal seorang wanita super yang sangat peduli dengan pendidikan anak-anak di pedalaman. Ia pernah mengumpulkan buku dari seluruh Indonesia dan mengatarkannya ke Manusela, Maluku. Ia berjalan menggendong seribu buku bersama beberapa orang lainnya selama empat hari. Epic. Saya selalu merinding membaca kisahnya. Saya kemudian hari juga mengenal seorang teman yang membuat film untuk anak-anak. Film pendek yang mendapatkan penghargaan di beberapa festival film Indonesia.
Di sisi lain saya mengenal orang dengan passon yang sama besarnya akan pendidikan, tetapi tidak memiliki waktu untuk bertemu langsung dengan anak-anak. Orang-orang yang ingin membantu, tetapi memiliki kehidupan yang menyita waktu.
Beberapa berhasil saya pertemukan. Beberapa berhasil bisa saling membantu. Tetapi kadang saya ingin mempertemukan mereka agar anak-anak Pingit juga bisa belajar bermusik, agar para guru di sekolah teman saya itu juga bisa belajar mengolah sampah menjadi media ajar, agar Satu Buku juga bisa mendirikan perpustakaan di tempat-tempat itu, agar anak-anak juga bisa terjangkau film dari Sanggar Cantrik. Saya ingin begitu...
Dan kemudian kecenderungan ini melebar. Seiring dengan semaki jarangnya saya ke Pingit, saya juga semakin jauh dengan dunia pendidikan dan anak-anak. Tetapi kemudian saya berteman dengan seorang fotografer, pemilik warung makan, editor dan layouter, seorang psikolog,dan beberapa orang lain.
Jika sedang berkumpul dengan orang-orang ini, ide saya jadi berloncatan tidak karuan, dan banyak hal yang jadi ingin saya lakukan dengan teman-teman saya.
Sekali saya memperkenalkan teman saya yang fotografer dengan teman saya yang akan menikah. Sekali saya berhasil memperkenalkan teman saya yang layouter dengan teman saya yang punya penerbitan. Sekali saya memperkenalkan teman saya yang fotografer dengan teman saya yang pemilik rumah makan yang menjual dessert khas Asia. Saya ingin membuat EO untuk ulang tahun anak-anak dengan teman saya yang guru TK dan kakak saya yang MC. Saya dan teman saya yang psikolog mencoba membuat komunitas dan biro psikologi. Saya membuatkan blog untuk warung teman saya.
Saya senang dan menikmati berbicara dengan banyak orang. Berbagi ide dan antusiasme. Tidak semua bisa terlaksana, tidak semua yang saya pertemukan berhasil menjadi sesuatu. Kadang hanya ide dan pembicaraan penuh semangat saja yang saya dapatkan. Tapi ternyata saya sangat menikmati itu. Berteman. Saya baru menyadari bahwa berteman itu semenyenangkan ini.

Selasa, 20 Mei 2014

Dilemanya Warga Budaya Konsumsi

Seminar
Seminar “Dilema Warga Budaya (Konsumsi) & Ruang Publik” yang diadakan sama IRB baru saja selesai. Rasanya masih heboh dalam ingatan bagaimana rempongnya mempersiapkan itu. Dari bahan-bahan publikasinya, pendaftarannya, pembicaranya, sampai materinya. Sebenarnya saya nggak ngapa-ngapain lo dengan semua itu. Yang bikin TOR, poster, sertifikat, backdrop, daftar peserta, dan materi semuanya bukan saya. Saya cuma ikut mbingungi aja sebenarnya…
Naaa… tapi saya bukan mau cerita soal seminarnya kok kali ini. Saya cuma mau cerita kalau saya tadi habis jalan-jalan ke Amplaz dan saya langsung ingat sama materi seminar yang membahas warga budaya konsumsi itu. Selain itu, saya sebagai warga IRB yang baru saja belajar mengenai Baudrillard tentang teori konsumsi dan segala macam mengenai analisis wacana kritis, rasanya itu sudah jagoan.