Postingan

Mencari Posisi dalam Seni

Perubahan bertubi-tubi beberapa minggu terakhir ini membuat saya mau tidak mau berhubungan dengan sesuatu yang bernama dengan seni. Seni yang secara sekilas pandang saya pahami sebagai suatu produk hasil dari orang-orang yang bergenre seniman, entah apakah itu musik, lukisan, atau suatu pertunjukan. Mungkin pemahaman yang terlalu mereduksi dan mengecilkan mengenai apa itu seni. Apa yang terjadi pada kehidupan sehari-hari saya dengan lingkungan tempat di mana saya berdiri sekarang ini membuat saya banyak kecemplung dengan seni bagian seni rupa. Saya walau tidak banyak jadi mengenal dan bergaul entah dengan seniman, kurator, atau pengkaji mengenai seni rupa. Hal ini mau tidak mau membuat saya jadi sedikit banyak ikut berkunjung melihat pameran yang dibuat oleh teman atau dikuratori oleh teman yang lain. Dalam imajinasi saya, dalam kehidupan ideal yang pernah ada dalam kepala saya, saya ada keinginan untuk berkunjung dalam pameran-pameran seni entah Artjog atau Bienalle misalnya, Sesu…

Hidup Senyatanya

Dalam satu atau dua bulan ini saya tiba-tiba mendapatkan pengalaman mengantarkan teman yang sakit dan kecelakaan ke IGD. Yang satu karena vertigo, yang lain karena kecelakaan dan dirujuk untuk rongsen karena dicurigai terjadi retakan di tangannya. Kedua kejadian yang di satu sisi saya sedikt banyak harus mengambil keputusan apakah saya harus membawa teman saya ke rumah sakit karena kondisinya yang memang sudah kesakitan, di sisi lain saya merasa tidak berdaya karena sulit untuk saya memutuskan membawa mereka ke rumah sakit karena kami sama-sama miskinnya. Keduanya akhirnya saya temani ke IGD di dua rumah sakit swasta yang berbeda di Jogja ini, keduanya menghabiskan sekitar tiga ratus ribu rupiah. Bagi orang dengan penghasilan UMR Jogja yang hanya sekitar satu juta, belum lagi salah satu teman saya itu adalah pekerja informal yang gajinya bahkan tidak sampai satu juta, tiga ratus ribu itu pastinya sudah memakan jatah hidup lebih dari satu minggu. Di lain pihak, tidak membawa ke rumah …

The Geography of Faith

Gambar
Eric Weiner Sebuah Catatan Autoetnografi


Melihat buku dari Eric Weiner ini dari awal sudah membuat saya merasa tertarik. Diawali dengan buku awalnya The Geography of Bliss, buku yang menceritakan tentang perjalanan Eric untuk mencari tempat-tempat yang paling bahagia di dunia. Saya tidak terlalu ingat isi detailnya karena membacanya sudah bertahun-tahun yang lalu. Tetapi kesan awal saya waktu itu tidak terlalu menyenangkan, isi dari bukunya rasanya tidak sesuai dengan apa yang saya bayangkan saat sebelum membacanya. Sampai kemudian saya menemukan edisi lain dari tulisan Weiner ini, The Geography of Genius dan The Geography of Faith, dan saya melupakan pengalaman pertama saya bersama Weiner dan ingin memberinya kesempatan kedua dan membacanya lagi. Setelah berbulan-bulan saya tidak membeli buku dari toko dan lebih menikmati mencari gratisan pdf dan mencetaknya, akhirnya saya setelah berjualan kastengel selama bulan Ramadhan dan mendapat sedikit selisih penjualan, saya memutuskan untu…

Takut akan Perbedaan

Hari-hari terakhir ini, rasa-rasanya banyak hal yang terjadi di sekitar saya adalah mengenai hal ini, ketakutan akan perbedaan. Mulai dari yang dekat ada Ahok dan semua permasalahannya yang masih belum selesai dan menjalar ke mana-mana, yang jauh ada Bapak Trump yang ingin memmbangun tembok di negaranya yang membatasi masuknya orang-orang Mexico, di Eropa sana, ada ketakutan akan banyaknya imigran Syria yang berbondong-bondong masuk ke Eropa mencari perlindungan. Saya merasakan ketakutan akan perbedaan atau dibedakan ini sudah sejak zaman dahulu kala. Takut dikucilkan di sekolah karena saya berbeda, takut tidak diterima dalam pergaulan karena saya berbeda. Ketakutan yang sebenarnya jika mau ditilik secara lebih dalam membawa banyak gangguan pada aspek-aspek lain dalam kehidupan. Sayangnya, saya hanya mengalami ketakutan ini dari sisi saya sebagai minoritas, dari sisi orang yang disingkirkan dan saya anggap termarjinalkan.  Hari-hari ini saya juga melihat banyak ketakutan dari orang-o…

Arisan dan Kedigdayaan Perempuan

Hari Kartini dan emansipasi pada perempuan adalah sesuatu yang sangat tidak terpisahkan di Indonesia ini. Bagaimana perempuan yang tadinya dianggap tidak memiliki hak untuk bersekolah atau melakukan kegiatan publik apapun, berkat rintisan dari Kartini seakan-akan sekarang perempuan Indonesia jadi bisa memiliki berbagai hak yang sama dengan para lelaki. Bahkan bagi beberapa orang, kata wanita sudah tabu untuk diucapkan dan memilih menggunakan kata perempuan, mungkin seperti istilah Cina dan Tionghoa ya... walaupun untuk terma perempuan ini, saya kurang begitu paham sebab musababnya. Bukankah menghina atau tidak, ada pada pengetahuan yang dipakai di baliknya, pada penandanya? Pembicaraan mengenai perempuan dan hak-haknya yang setara dengan lelaki, mengenai girl power atau yang saya terjemahkan menjadi kedigdayaan perempuan itu juga menjadi pembicaraan yang seksi di majalah-majalah. Saya ingat sekali, dulu saat masih muda dan berlangganan Majalah Gadis adalah hal yang sangat umum dilak…

Panda, Pedangang Perantara Anda!

Beberapa minggu belakangan ini, saya dan teman-teman selingkaran diskusi sedang membicarakan Henri Lefebvre. Beliau adalah seorang sosiolog dari dan filsuf dari Prancis yang secara umum dikategorikan beraliran Neo-Marxism (wikipedia.org). Tidak mau membahas orang ini ataupun karyanya sebenarnya. Hari ini kami baru saja selesai membaca kata pengantar dari bukunya yang Critique of Everyday Life dan itu saja sudah membuat kami terengah-engah kehabisan napas. Saya kemarin kebagian membaca salah satu bagian dari pengantar tersebut yang membuat saya tertarik dan ingin ngomong di sini. Bagian yang akhirnya hanya saya baca tiga halaman dan saya lemparkan ke teman yang lain (maaf Kak Nico...). Pada bagian itu, saya membaca mengenai pekerjaan yang mengalienasi. Lefebvre dalam tiga halaman yang saya baca itu berbicara mengenai bagaimana bekerja itu membuat kita sebagai manusia menjadi teralienasi atau terasing. Dengan bekerja dan melakukan proses produksi, kita akan menjadikan diri kita ini se…

Kekalahan Ahok dan Rasa yang Tersisa

Gambar
Jakarta baru saja menentukan pemimpin daerahnya hari ini. Walaupun masih dari versi hitung cepat, tetapi kekalahan dari Gubernur sebelumnya sudah terlihat dan tampaknya sudah diterima oleh berbagai pihak, baik dengan lapang dada maupun tidak. Proses Pilkada ini terasa sebagai proses yang sangat panjang dan melelahkan, tidak hanya bagi warga Jakarta, dengan kecanggihan media saat ini, rasanya seluruh Indonesia diajak ikut berperang bersama mereka. Saya sendiri melihat ini dari kejauhan, saya orang desa yang tinggal di Jogja, KTP Jogja saja tidak, apalagi KTP Jakarta. Dari logikanya, siapa yang terpilih di Ibukota sana, tidak ada hubungannya dengan kehidupan saya. Tetapi dari segi rasa, saya ikut merasakan imbasnya. Masa kampanye yang panjang dengan berbagai isu SARA yang diangkat di dalamnya ini, mau tidak mau menarik minat saya dan membuat saya juga merasa ikut terlibat. Ahok yang orang Cina dan Kristen. Saya juga Cina dan yah... sedikit Kristen. Atribut-atribut ini yang diperlawanka…