Laman

Minggu, 20 November 2016

Kamu Suci dan Aku Penuh Busa

Masih gelisahkah kamu? Aku di sini masih mencari. Entah kenapa begitu caraku menyembuhkan diiri. Ketika gelisah dan sakit masih terasa mengganggu, aku hanya bisa terus mencari. Bagiku, pemahaman adalah kesembuhan. Memahamiku, memahamimu, atau berdamai dengan pemahamanku tentangmu, memhami apa yang sudah terjadi.
Aku tau kamu tidak suka dibicarakan, tapi kali ini aku harus berbicara. Berbicara membuat pikiranku ini tertata dan terkadang, bertemu dengan orang yang tepat, membuatku bisa menemukan cara baru untukku bisa melihat.
Berbulan aku mencoba membaca apa yang kamu mau dan aku berjalan di atas imaji atas kehendakmu. Aku tidak berbicara, aku berjalan dalam diam, karena dalam benakku itu yang kamu suka. Sampai saat ini, ternyata masih tidak mudah untuk lepas dari garis yang aku buat. Kamu masih menjadi superego yang terasa menjerat kuat. 
Di sisi lain, tidak mensyukurimu akan menjadi ketidakadilan yang aku jatuhkan pada diriku sendiri. Kehilangan ini menjadi suatu hal yang aku sesali. Kehilangan teman dengan siapa aku bisa berbicara berjam-jam akan banyak hal yang menyenangkan. Berbicara denganmu yang selalu bisa membuatku tertawa. Becanda denganmu itu terasa becanda pada titik yang tidak aku bayangkan akan bisa aku dapatkan dengan orang lain. Kita, dulu, bisa sekadar menertawakan huruf dalam kata. Namun denganmu pula, aku bisa berdiri, sendiri. Tidak ada lagi rewel dan mencari-cari obat penenang di luar sana. Yah... itu memang apa yang kamu lakukan kan? Membentuk manusia.
Aku tidak pecah seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Entah kenapa, hidupku bisa terus berjalan dengan kualitas yang sama baiknya, bahkan mungkin lebih baik di beberapa sisi. Namun, dibilang mulus tanpa masalah, itu juga tidak. 
Kehilanganmu membawa akibat lebih luas dari yang bisa kubayangkan. Ada kemarahan yang tidak bisa kupahami pada awalnya, dan aku marah pada banyak orang. Marah pada setiap orang yang kurasa membawa kemunafikan. Menyatakan kebenaran, tapi apa kenyataan yang kutemukan di baliknya. Dan aku... masih berada di tempat di mana aku seharusnya percaya. Berdiri untuk mendengarkan kalian, masih membawa rasa muak dan keputusasaan. Aku belum bisa berdamai dengan itu.
Aku masih bertanya, setidak paham apa kamu dengan apa yang sudah terjadi. Aku, dalam diriku, sudah menghadapimu dengan semua kesungguhan yang aku punya. Semua yang sudah terjadi, adalah kesungguhan dari diriku. Apa yang aku katakan, apa yang aku lakukan, mengikuti aturan-aturan yang kamu tetapkan, membuka apa yang seharusnya aku sembunyikan, ya... itu kesungguhanku menghadapimu. Itu saja...
Hingga dalam perjalanan ini, seorang teman berkata bahwa kalimat yang sudah kamu nyatakan itu adalah kalimat yang dari seorang yang hidupnya setengah-setengah. begini kutipannya, "le donga kurang akeh, le nakal kurang jero, le bajing kurang nandes, le kekancan kurang tulus, le urip kurang tenan."
Mau tidak mau, aku kembali mengingatmu. Mengingat semua sumpah serapah yang kamu jatuhkan pada dirimu sendiri, kamu yang bedebah, kamu yang bajingan. Rasanya adalah salahku jika pada akhirnya ada apa-apa, toh aku seharusnya tau kamu bajingan sejak awal. Tapi bajinganmu itu memang kurang nandes. Aku hidup dengan lebih banyak bajingan sebelumnya, daripada mereka, kamu suci, bahkan setelah apa yang kamu minta, kamu masih suci.
Di sisi lain, aku ini merasa hidupmu juga kurang tenan. Tau seberapa banyak keluhan dan ketidaknyamanan yang aku dengar tentang kehidupan yang kamu jalani? Tau bahwa caramu berbicara itu terasa menggapai-gapai, seakan kamu terjerat dan mencari jalan keluar? Yah... seperti yang kamu pernah bilang, pikiranku itu urusanku kan tapinya... Jadi ya biarkan ini menjadi urusanku, walau dalam mengatakan ini rasanya masih ingin meledak marah.
Jadi begitu, aku masih belajar memahami, aku masih masih menenangkan diriku sendiri. Mencari di mana benarku dan mencari di mana salahku. Aku masih mencari jalan untuk menyalahkanmu. Ingat, di sini kamu yang suci dan aku penuh busa. Masih berdoa dan berharap kemarahan, kesedihan, dan kehilangan ini mencapai ujungnya. Dan baru saja ketika blogmu pun sudah tidak bisa aku akses, ternyata masih sesedih ini.

Kamis, 20 Oktober 2016

Ada Ide?

Baru sekitar dua hari yang lalu saya dikirimi pesan dari seorang kawan yang berada jauh di ujung timur Indonesia sana. Pesan yang tidak biasanya datang. Pesan yang datang menjelang tengah malam yang berarti sudah dini hari di sana. Sebut saja Theresa, sama seperti seorang perempuan sederhana yang pernah hidup dan menjadi legenda di India sana. Dia malam itu bercerita akan pengalaman barunya yang ternyata kali ini menguji batasnya. Dia yang selalu penuh semangat dan bercerita tentang anak-anak yang diajarnya di sana dengan penuh optimisme kali ini tidak demikian.
Malam itu dia bercerita akan kesedihan dan keputusasaan yang dia rasakan di tempat barunya. Tempat di mana dia tidak hanya menemukan anak-anak yang tidak bisa belajar dan bersekolah. Kali ini berbeda. Masalahnya tidak hanya tidak adanya guru yang mau mengajar, masalahnya ada pada anak-anak yang tidak bisa makan, anak-anak yang tidak bisa berlari-larian karena tubuhnya tidak cukup kuat karena kurang gizi. Dia bercerita tentang penyakit kulit, TBC, malaria, dan kusta. Penyakit yang tidak pernah saya lihat wujudnya, yang hanya saya kenal di Alkitab dan di berita. Penyakit yang pastinya tidak bisa dihindari oleh tubuh manusianya.
Saya yang saat ini sedang berada di lingkungan yang mengajari saya mempertanyakan dan menganalisis berbagai hal, membuat saya langsung ingin bertanya dan menganalisis banyak hal. Mungkin bukan itu yang sebenarnya Theresa butuhkan. Maaf, tapi itu reflek. Saya bertanya bagaimana keadaan di sana, apakah memang tidak ada apapun untuk dimakan hingga banyak anak dan orang yang sakit di sana? Apakah tidak ada perawatan kesehatan? Apakah dia juga kesulitan makan?
Ternyata teman saya ini tetap bisa makan. Pasokan bahan makanan ada, tapi mungkin kemampuan membelinya yang tidak ada. Tapi katanya lagi, masyarakat di sana masih mencari makan dengan beburu atau mengumpulkan makanan di hutan. Pikiran saya kemudian ada pada kerusakan hutan hingga tidak lagi bisa mencukupi kebutuhan. Namun ternyata tidak juga, hutan masih memberikan apa yang mereka butuhkan dengan cukup, bahkan lebih. Analisis sementaranya adalah karena mereka sudah terbiasa menerima bantuan dan itu membuat mereka tidak memiliki kemauan untuk berupaya.
Kondisi yang jauh lebih besar dan kompleks daripada hanya membutuhkan seorang guru sukarela untuk mengajar anak-anak di sana. Kondisi yang juga menyayat hatinya ketika harus merawat seorang anak yang penuh luka dan hanya tersisa tulang terbalut kulit karena gizi buruk. Melihat anak-anak yang membuatnya jadi tidak doyan makan dan ambruk lagi karena malaria. Saya yang di kamar kos di tengah kota dengan mini market yang buka 24 jam dan di atas kasur ini bisa bilang apa…
Saya hanya bisa mengulang apa yang pernah seorang liyan signifikan katakan kepada saya ketika anak yang saya sekolahkan keluar dari sekolah begitu saja. Saat di mana saya datang ke kampus dengan menahan tangis karena begitu gelanya, saya yang waktu itu merasa begitu kecewa. Di tengah ledakan tangis saya, signifikan liyan ini berkata begini, “Pekerjaan sosial itu adalah pekerjaan yang kering. Kita kadang tidak bisa melihat perubahannya. Bahkan sering kali kita akan kecewa karenanya.” Kalimat yang saya terjemahkan kepada Theresa, “Pekerjaan sosial itu emang bikin nggerus, Ndhuk.” Keesokan harinya, saya membaca kalimat itu terpampang di dinding facebooknya. Dan saya yang merasa tidak bisa membantu apa-apa ini, dibuat menjadi pengen menangis karenanya.
Percakapan malam itu membuat saya memiliki pemikiran ingin membantunya, paling tidak saya ingin memberikan support group untuknya. Volunteer for volunteer. Saya sekarang sedang tidak berada di lapangan, entah jika nanti Tuhan mengirimkan SK yang berbeda. Jika bantuan berupa uang atau barang, rasanya teman saya ini yang punya jaringan sampai bisa mengirimkan ribuan buku ke berbagai penjuru Indonesia pasti sudah ada yang membantu. Saya ingin membantu dalam bentuk yang lain.
Saya sekarang sedang berada di bidang kajian bersama dengan teman-teman di sini. Kadang kalau lagi sela lan bolong, kami akan banyak berdiskusi mengenai pendidikan dan berbagai kompleksitasnya. Saya juga punya teman psikolog yang banyak bergelut di bidang pendidikan. Bayangan abstraknya adalah, di sini kami—jika boleh saya katakan demikan, optimis mau pada terlibat—meringankan apa yang Theresa lakukan di sana. Entah berupa mengolahkan teori pedagogis yang rumit hingga bisa langsung diterapkan. Entah menyediakan tim hore-hore yang memberinya semangat untuk menjalani hari-harinya di sana. Sesuatu yang bisa dipertukarkan lewat jaringan internet (FYI saja, mengirim satu lembar surat ke Papua melalui PT. Pos Indonesia bisa menembus angka Rp153.000,-, otak konspirasi saya berpikir apakah memang akses informasi ke sana dipersulit).
Saya belum berbicara lagi dengan Theresa apakah yang dia butuhkan ataukah bantuan seperti yang saya bayangkan ini akan memberi dia manfaat, atau jangan-jangan malah merepotkan? Orang yang tidak tau lapangan sok-sokan ngomong tentang apa yang bisa dilakukan. Saya juga jadi memendam keinginan untuk ngomong sama Mbak Psikolog tapi belum sempat berjumpa juga. Apakah ada ide untuk membantu? Jadi tulisan ini sekaligus proposal untuk teman-teman. Bagaimana? Ada ide?


Selasa, 06 September 2016

Apa Agama Saya?

Beberapa hari yang lalu saya sedang berada di sebuah tempat perawatan kecantikan dan berencana untuk melakukan pembersihan wajah di sana. Saat mendaftar ternyata untuk bisa melakukan perawatan di tempat itu harus tercatat sebagai anggota. Maka dimintalah kartu identitas yang saya miliki. Karena KTP saya saat itu sendang menjadi jaminan meminjam buku di perpustakaan, maka saya menyerahkan SIM. Saya juga dimina untuk mengisi formulir pendaftaran dan mengisikan data diri saya seperti alamat dan tempat tanggal lahir. Kemudian data tersebut dipindahkan ke komputer, saat itu saya kemudian ditanya, agama saya apa.
Rasanya langsung ada suatu tombol yang menyala di kepala saya. Apa relevansinya menanyakan agama di salon kecantikan? Saya masih menanyakan relevansi tersebut dan teman saya akhirnya yang menjawabkan apa agama saya. Perdebatan yang kemudian masih saya panjang-panjangkan lagi di sosial media. Ada yang kemudian berkata agar saya tidak negatif thinking dahulu dengan pertanyaan tersebut, nanti saya tidak cantik katanya, karena kecantikan itu berasal dari dalam diri.
Saya kemudian memikirkan apa yang saya rasakan mengenai pertanyaan ini. Ada ketidakterimaan dalam diri saya mengenai pertanyaan tentang agama di sebuah salon kecantikan. Saya heran dan penasaran mengenai apa relevansi dan dan kepentingan dari salon tersebut akan data agama ini. Apakah akan ada pembedaan perlakuan, ataukah akan ada promo yang terkait dengan agama? Dalam benak saya, ya hanya itu pentingnya data agama di salon kecantikan.
Beda urusan jika tempat itu adalah kantor pemerintahan, sekolah, atau rumah sakit. Agama menjadi faktor penting untuk tempat-tempat ini. Sekolah sebagai sarana penyalur ideologi, dan rumah sakit menjadi tempat di mana banyak negosiasi dengan Tuhan dilakukan. Maka tahu agama dari para penggunanya adalah suatu faktor yang perlu diperhitungkan.
Saya ini orang yang memang berada di sekolahan yang mempermasalahkan hal-hal yang lumrah semacam memasukkan data agama di KTP. Saya belajar untuk mempertanyakan itu. Jika data agama dibutuhkan untuk mengisi KTP, maka adalah lumrah untuk menanyakan apa agama seseorang di salon kecantikan. Tidak. Buat saya itu tidak lumrah.
KTP di Indonesia pernah menjadi sarana jahat untuk menandai seseorang dan melakukan diskriminasi pelayanan. Pada suatu masa KTP itu menjadi penanda apakah seseorang itu seorang ekstapol atau orang keturunan Cina. Efeknya, ada yang membayar lebih mahal untuk jasa tertentu, ada pelayanan yang tidak bisa diberikan untuk orang dengan kode tertentu, ada tempat-tempat atau posisi yang tidak bisa diperoleh dengan KTP bertanda tersebut.
Lebih jauh lagi saya kemudian memertimbangkan diri saya ini, jika tahun 1965 itu tidak pernah ada, dan kemudian pemerintah tidak memberikan undang-undang agar semua warga negaranya memeluk agama dari lima agama yang diakui negara, bisa jadi, saat ini saya beragama Kong Hu Chu. Bisa jadi akan ada banyak agama lain yang beragam dan mewarnai Indonesia. Bisa jadi juga akan terjadi perpecahan yang lebih semarak, bisa jadi.
Ternyata apa yang menjadi pilihan dari diri kita itu tidak bisa benar-benar bebas kita pilih begitu saja. Ada banyak faktor tidak langsung yang ternyata berpengaruh besar dalam menentukan jalan hidup saya. Segbagai contoh dalam hal agama ini, saya menjadi Katolik ya karena agama orangtua saya Katolik. Orangtua saya Katolik karena Kong Hu Chu dilarang waktu itu yang kemudian semua warga negara harus mencantumkan apa agamanya dari lima agama yang diakui itu. Bagaimana jika misalnya ada yang bersikeras untuk tidak memilih satu dari kelima agama tersebut? Efeknya akan panjang pastinya.
Jika tidak beragama atau memilih agama yang diakui, maka KTP tidak bisa diisi, atau diisi dengan kebohongan. Jika menikah tidak sesuai dengan lembaga-lembaga yang diakui tersebut, maka pernikahan yang dilakukan tidak akan diakui negara. Itu berarti tidak akan mendapatkan surat nikah, itu juga berarti anak yang lahir akan lebih sulit dalam mendapatkan akte kelahiran, jika bisa dapat setatusnya adalah anak yang lahir di luar pernikahan. Jika tidak punya akte maka sekolah akan lebih sulit lagi. Dan anak yang tanpa agama pasti akan menjadi rebutan para Ideological State Aparatus untuk mengajaknya bergabung dengan salah satu lembaga tersebut. Tanpa agama, seseorang akan dianggap tersesat dalam perjalanannya di dunia ini. Mmm… mungkin bukan di dunia, tapi di Indonesia.
Saya sendiri merasa bahwa agama yang saya jalani sekarang sudah menjadi pilihan bebas saya. Saya pernah menimbang lagi dan pilihan saya tidak berubah. Tapi apakah benar ini pilihan bebas saya? Terlalu banyak faktor yang terlibat, dari budaya dan gaya hidup yang sudah saya jalani selama ini, pandangan orang-orang dekat saya, pandangan orang-orang sekitar saya, pola pikir yang membentuk saya, sampai relasi saya pribadi dengan Tuhan dalam benak saya. Itu bukan suatu hal yang mudah untuk dilepaskan dari pertimbangan. Belum lagi minimnya akses pengetahuan untuk mempelajari ajaran yang lain. Saat saya sedikit belajar tentang ajaran Budha, saya merasakan papan-papan yang membuat kotak di kepala saya berderak-derak terpaksa membuka, dan itu bukan hal yang nyaman. Mengetahui ada konsep benar lain selain apa yang saya tau selama ini. Mengetahui bahwa ada superego jenis lain yang bisa dipilih dan itu juga benar.
Sampai saat ini, bagi saya sendiri, dengan semua pertarungannya, agama itu merupakan suatu hal yang penting dalam hidup saya, terlepas itu memilih atau dipilihkan. Tapi di sisi lain, saya sebagai orang yang sering diminoritas-minoritaskan ini merasakan betapa tidak enaknya dikotak-kotakkan karena sesuatu hal yang sulit kita ubah, karena suatu hal besar yang menjadi penanda identitas diri saya. Jadi bagi saya, selama tidak usah dikotakan, tidak perlulah menambah kotak dan golongan. Jadilah saja suatu tempat penanda gaya hidup yang kapitalis sajalah dan biarkan penanda-penanda itu menjadi urusan pribadi masing-masing.



Kamis, 25 Agustus 2016

Sekolah untuk siapa?

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang nenek yang bertanya kepada saya apakah saya tahu seseorang atau suatu lembaga yang bisa membantu pembayaran sekolah cucunya yang duduk di bangku SMP. Nenek ini bercerita bahwa mereka membutuhkan bantuan untuk membayar sekolah itu. Beliau sudah mencari benatuan ke suatu lembaga, tetapi disyaratkan surat keterangan tidak mampu yang keluhnya tidak diberikan oleh RT dan RW setempat tempatnya tinggal. Dari sekolah mereka mendapatkan bantuan untuk potongan uang sekolah, tetapi juga tidak banyak dan masih terasa beratnya.
Saya pun menanyakan lebih lanjut tentang sekolah si cucu ini. Ternyata si cucu ini bersekolah di sekolah swasta katolik dengan asrama, dan biaya yang harus dikeluarkan untuk uang sekolah setiap bulannya adalah sekitar satu juta tujuh ratus ribu rupiah. Saya cukup terkesan dengan angka itu, saya sendiri sekarang bersekolah dengan biaya dua juta satu semester, jadi angka yang disebutkan nenek itu memang mengesankan.
Usulan pertama saya mendengar hal tersebut adalah, pindahkan sekolahnya atau keluarkan dari asrama. Toh mereka juga tinggal di satu kota dan di Jogja ini saya yakin ada lebih banyak sekolah dengan harga yang lebih murah. Tetapi nenek tersebut menolak usulan tersebut karena dia merasa sangat disayangkan jika cucunya harus dikeluarkan dari sekolah itu, dan tinggal di asrama membuat cucunya itu belajar dengan lebih baik. 
Saya kemudian menyatakan demikian ke si Nenek: 
"Akan sangat sulit mendapatkan bantuan jika cucu si nenek tetap bersekolah di tempat itu dan tinggal di asrama. Terutama jika beasiswanya untuk anak yang tidak mampu."
Selain itu ternyata si cucu ini juga sudah mendapatkab beasiswa tetapi turunnya empat bulan sekali dan hal itu dirasa tidak mencukupi juga. Kata Simbok saya ketika saya bercarita mengenai hal ini, ini hanya mengenai masalah gengsi dan bukan masalah pendidikan si anak. Sedikit banyak saya menyetujui hal ini juga, apalagi jika saya pikirkan lebih lanjut, memang lebih banyak sekolah dengan prestasi yang lebih baik dari sekolah si cucu di Jogja ini.
Pemikiran saya ini kemudian mengejutkan diri saya sendiri. Saya ini termasuk orang yang 'merasa' berpihak pada kesetaraan pendidikan bagi semua orang. Saya ini merasa saya 'memperjuangkan' pendidikan bagi semua orang termasuk orang yang tidak bisa memperolehnya, ternyata saya tidak demikian.
Dari apa yang saya bicarakan dan saya pikirkan dengan si nenek ini, ternyata ada pemikiran bahwa pendidikan yang baik itu adalah pendidikan yang bisa dijangkau dengan membayar sesuai yang disyaratkan sekolah, dan jika tidak mampu ya tidak usah bersekolah di tempat itu. Bersekolahlah di tempat yang lebih murah, dan itu bagi saya saat itu langsung terpikir bahwa sekolah itu pasti sekolah yang lebih buruk dari sekolah si cucu sekarang, walaupun ternyata belum tentu demikian. Saya sendiri ternyata masih belum memercayai akan kesetaraan dalam pendidikan bagi semua orang.
Jadi saya cuma mau bilang, saya masih perlu belajar untuk menjadi adil sejak dalam pikiran.

Senin, 08 Agustus 2016

Menerima itu Memberi

Salah satu buku yang saya suka baca dan saya baca berulang-ulang adalah buku dengan judul 29 pemberian. Buku berwarna ungu yang pertama kali saya tau dari teman kos. Buku ini menceritakan tentang pengalaman penulisnya, Cami Walker yang menderita multiple skleriosis dan kecanduan obat-obatan penghilang sakit. Suatu hari dia bertemu dengan sorang teman yang juga merupakan penasihat spiritualnya bernama Mbali. Mbali kemudian menyarankan Cami untuk melakukan suatu ritual buang sial dan mulai melakukan pemberian selama 29 hari berturut-turut. Dalam penjelasannya, kalau tidak salah ingat, karena cuma pakai ingatan dan ngga ngadep buku, pemberian yang dilakukan ini tidak mementingkan apa yang diberikan dan sejumlah apa. Yang penting dari perilaku memberi yang dilakukan ini adalah kesadaran dalam memberi dan bagaimana energi yang terkumpul dari memberi itu dan bagaimana kita terhubung dengan orang lain dalam proses memberi tersebut.