Rabu, 03 Desember 2014

Dinamika Psikologis dalam Latihan Kerja Ilmiah

Pagi tadi dengan enggan saya beranjak keluar dari kamar untuk berangkat kuliah. Jam delapan pagi dan gerimis sisa hujan dini hari masih masih belum mau beranjak pergi. Dan berkumpulah kami, tidak lebih dari sepuluh orang yang berkumpul pada awalnya. Orang-orang yang masih menyeret luka yang dibawa setelah peperangan dalam ujian proposal kemarin.
Kelas dimulai, dan ternyata Romo Dosen tidak memulainya seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya. Beliau tidak menanyakan bagaimana tulisannya, bagaimana tema-temanya. bagaimana rumusan masalahnya. Ditanyanya bagaimana perasaan kami. Apa yang kami rasakan setelah proses penulisan dan ujian berlangsung?

Kamis, 13 November 2014

Mimpi untuk Mapan


Akhir-akhir ini rumah dan ingin mapan sedang menjadi isu penting dalam hidup saya selain proposal yang deadlinya semakin mendekat. Bapak Kos mengaku bahwa dia baru menyadari bahwa kamar saya yang seluam 5x7m itu seharusmnya menjadi dua kamar dan untuk ditinggali dua orang juga. Dari kesadaran yang baru tumbuh tersebutlah Bapak Kos berencana membongkar kamar saya menjadi dua kamar.
Baiklah sebenarnya, ini rumah beliau dan ini kamar beliau, saya menghargai hak kepemilikannya itu. Tetapi caranya yang membuat saya begitu frustasi. Ahh… sebelumnya beerapa aturannya juga juga membuat saya frustasi.
Pada awalnya kos ini baik-baik saja, teman-teman saya bisa main dengan bebas, teman-teman perempuan saya juga bisa menginap dengan nyaman dan senang. Dulu malah beberapa orang ada yang menginap jangka panjang di kosan ini. Ada pula yang bawa kulkas, tv, komputer, tanpa ada kesepakatan untuk menambah biaya listrik. Tidak ada kesepakatan sodara-sodara.

Rabu, 01 Oktober 2014

Semester Neraka

Ahhh... bagaimanapun juga ini terasa sebagai semester neraka buat saya dan mungkin buat teman-teman saya yang lain juga. Neraka dengan nama proposal tesis. 
Semester ini ada tiga mata kuliah yang isi mata kuliahnya hanya mengublek-ublek proposal kami masing-masing. Mengumpulkan tulisan, membaca, mendiskusikan, dicecar dan dibongkar lagi idenya, dibongkar lagi tulisannya, membaca buku lain lagi, rasanya siklusnya seperti itu terus menerus. Baik bagi yang sudah mendapatkan pertanyaan penelitian yang sudah pasti, tetapi bagi yang masih mbingungi kaya saya ini, kuliah ini jadi mulai terasa menyiksa. Satu jam dicecar di kelas, dibolak-balik logikanya itu lelah, Sodara.
Kami ini sudah mulai merasa terkuras. Banyak dari kami yang mulai membolos karena kelelahan dan ketakutan pastinya. Saya juga. Mulai ada yang menghilangkan dompet, melupakan kunci motor, dan yang pasti jam tidur kami mulai bertambah panjang. Withdrawl mungkin ya kalau menurut mekanisme pertahanan diri psikologi.
Kemudian apa yang kami tuliskan juga harus mengikuti dosen-dosen yang membimbing kami, dengan gaya dan dasar pemikiran mereka masing-masing juga pastinya. Ada dosen yang mengarahkan pada ketertarikan dulu, yang membuat hasrat kita sebagai peneliti mengawang ke mana-mana. Di kubu yang lain ada dosen yang menekankan pada literatur yang kami baca, bahwa penelitian itu ya hanya dalam tataran akademis, belumlah masuk ke lapangan dan menyelesaikan masalah. Jadi tugasnya adalah bagaimana kami menyatukan semuanya dalam sebuah proposal penelitian.
Masih juga buat saya ada tambahan kuliah pilihan yang belum ditempuh semester-semester yang lalu. Kuliah yang jelas menuntut tugasnya masing-masing. Tampaknya ada yang akan berakhir dengan seminar, ada yang satu semester ini harus membaca (teorinya) 17 buku. Satu buku setiap minggu yang harus diberi review.
Melihat tumpukan ini malah membuat saya freeze. Saya membeku dan tidak bisa berkutik. Membaca juga tidak selesai-selesai rasanya, menulis juga masih belum bisa memutuskan akan menulis apa. Dan melihat teman-teman yang sudah maju, saya tambah galau. Hicks...
Intinya saya galau akademis.....

Minggu, 07 September 2014

Kalo Bosen, Enaknya Ngapain Eeaaa???

 Akhir-akhir ini saya sering mendapat curhat teman-teman yang temanya mirip-mirip lah. Paling banyak adalah bosan dengan hidup dan kerjaannya. Ya bukan berarti si teman ini bosen dan pengen pindah dari hidup yang sekarang ke hidup yang lain sih. Tapi lebih bosen dengan apa yang dilakukan sekarang ini. Bosen dengan rutinitas dan hidup sehari-hari yang dirasa begitu-gitu melulu. Bangun pagi, ngantor, pulang, persiapan buat ngator, tidur, dan begitu terus. Masih mending kalau ada kegiatan yang lain di luar kantor. Paling nggak ada kegiatan yang bikin hidup terasa lebih berwarna. Masih mendingan kalau gajinya besar di kantor, paling ngga bosennya nggak sia-sia, dan kalau luang ada kesibukan buat menghabiskan uang yang didapat. Tragisnya kalau udah bosen, terus kerja lembur terus nggak sempet ngapa-ngapain lagi, terus gajinya ngepas pulak. Plus di kator dapet abuse dari atasan, sudahlah…

Senin, 25 Agustus 2014

TK Kyai Mojo

Pendidikan di Indonesia ini memang memiliki beragam rupa. Saya secara kebetulan bergaul dan kecempung dalam lingkungan yang nggak jauh-jauh dari masalah pendidikan dan perkembangan anak-anak ini. Terutama anak-anak di taman kanak-kanak dan pendidikan dasar. Dari pergaulan saya ini saya jadi akrab dan cukup tau dengan beberapa macam pendidikan yang berkembang atau tidak berkembang saat ini. 
Beberapa sekolah menjual kurikulum impor, inklusi, bilingual atau trilingual, dan memiliki berbagai fasilitas yang kelas satu. Beberapa sekolah lain masih berjibaku dengan jumlah murid yang semakin menipis, dan kondisi keuangan yang juga tipis. Kali ini saya berdiri di sisi TK Kyai Mojo, sekolah dengan murid dan keadaan yang begitulah...