Pembungkaman Media dan My Little Bolu Ketan
Beberapa hari terakhir ini ketika saya scroll TikTok atau Instagram, ada satu lagu yang sering kali muncul, begini liriknya:
MBG, Mas Bahlil Ganteng
Buah apa yang paling manis? Buahlil!
Tambah ganteng aja, my little bolu ketan.
Lagu dengan suara imut hasil buatan AI dengan nada yang juga sangat easy listening ini jadi terngiang terus di telinga. Rasanya puas sekali ikut menyanyikan bagian lagu BUAHLIL!
Selain lagu mengenai Menteri Bahlil ini juga ada konten lain yang sering kali muncul seperti orang-orang yang berbalas komen atau membuat video mengenai orang desa yang tidak menggunakan dolar. Dari konten nilai daun-daunan untuk membayar, juga teks-teks orang yang ingin melakukan barter barang-barang miliknya. Pesan yang disampaikan sama, kami memang tidak memakai dolar, kami masih bertransaksi dengan barter atau menggunakan daun sebagai alat pembayaran.
Koten-koten ini benar-benar menjadi hiburan di tengah menegangkannya kehidupan menjadi WNI dengan nilai tukar rupiah yang semakin melemah terhadap dolar. Ada berita-berita yang menyebar di mana rupiah sudah menjadi mata uang terlemah ke lima di dunia, atau nilai rupiah ternyata lebih lemah daripada mata uang Zimbabwe yang terkenal tidak ada nilainya itu. Saya sendiri sudah berhenti terlalu memedulikan berita-berita seperti itu di Indonesia. Sekilas saya juga melihat bagaimana Prof. Rhenald Kasali yang menyematkan video orang yang membela kenapa rupiah itu malah dengan sengaja dibuat lemah untuk menjadi negara maju. Sekali lagi, konten ini juga tidak saya tonton. Mules!
Membicarakan konten my little bolu ketan, Mikhail Bakhtin seorang filsuf asal Rusia mencetuskan konsep carnivalesque, tentang bagaimana budaya karnaval ini menciptakan suatu ruang yang unik di mana hierarki sosial yang biasanya kaku, sejenak akan diputarbalikkan. Dalam karnaval ini, rakyat akan bisa mengejek otoritas dan bisa mengekspresikan diri mereka dengan lebih bebas. Bahlil yang digambarkan sebagai my little bolu ketan ini tidak pernah gagal membuat saya tertawa dan rasanya berefek sama kepada banyak orang lain. Ada banyak sekali konten creator yang membuat video dengan lagu tersebut dan menunjukkan ekspresi yang sama di bagian my little bolu ketan. Menteri Bahlil yang biasanya dianggap sebagai sosok yang garang, kali ini tiba-tiba terasa imut dan empuk seperti bolu ketan. Kata teman saya, lagu ini adalah hiburan di tengah ancaman resesi.
Membuat dan menikmati konten-konten yang lucu ini rasanya adalah satu-satunya jalan bagi rakyat Indonesia untuk bisa tetap waras ya. Tidak hanya kedua konten yang sudah saya sebutkan di atas, tapi masih banyak konten lainnya. Ada satu konten belajar bahasa Mandarin yang setiap hari setor hafalan dalam bahasa Mandarin jargon-jargon yang banyak diucapkan, salah satu yang banyak muncul adalah “Saya akan lawan!” yang diucapkan oleh mantan presiden Jokowi.
Apa lagi yang bisa kita lakukan dalam kondisi yang menekan seperti sekarang? Media-media besar sudah tidak lagi memberitakan demo seperti yang terjadi akhir Mei yang lalu. Berita mengenai demo tersebar di akun-akun personal di sosial media dengan narasi yang sama. Mengapa tidak ada media arus utama yang membicarakan demo yang terjadi di hari itu. Rupiah yang nilai tukarnya terus merosot dan pemerintah yang terus menerus menganggap masyarakat sebagai orang bodoh dengan kebijakan yang ngawur, ketidakadilan di depan mata, dan pembungkaman yang semakin terang-terangan. Akhirnya yang bisa kita lakukan sebagai netizen adalah berharap pada lantai kamar mandi, ubin basah di pinggir kolam renang, atau tangga pesawat.
Rasa tidak berdaya dan frustasi itu nyata. Frustasi yang berjalan berbulan-bulan tanpa kita temukan bagaimana cara mengatasinya. Keadaan di lapangan sendiri rasanya semakin hari semakin berbahaya. Belum tuntas kasus penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus. Jangankan kasus yang terjadi tahun ini, kasus kematian Affan Kurniawan di Agustus lalu saja rasanya belum jelas menjadi seperti apa, dan para anggota DPR yang membuat terjadinya demo besar waktu itu, sudah kembali bekerja dari hukuman nonaktif yang mereka terima.
Rasa frustasi akan kondisi negara ini ternyata juga menembus batas negara. Banyak konten kreator muda berbasis di Asia Tenggara yang membuat konten tentang nilai rupiah yang melemah atau tentang bagaimana orang desa tidak pakai dollar. Ejekan-ejekan itu yang malah mendapatkan dukungan dari orang Indonesia bahkan menambahkan usulan lain yang bisa dibahas mengenai kebobrokan negara.
Dari apa yang terjadi di sekitar kita sekarang, rasanya kita bisa melihat bagaimana kondisi struktur negara yang terasa semakin tidak peduli dan tidak mau mendengar apa yang disuarakan di bawah, sampai harus meminta dukungan dari negara tetangga. Masyarakat sendiri semakin cemas dengan apa yang mereka lihat. Harga-harga yang semakin mahal, dan ini dirasakan dengan sangat nyata di dapur-dapur seluruh Indonesia—kecuali dapur MBG. Kanal-kanal dan orang-orang yang biasanya menyuarakan dibungkam, terbungkam, atau membungkam diri. Entah karena transaksi atau karena ancaman yang terasa semakin dekat. Rasa frustasi ini yang saya pikir akhirnya muncul dalam bentuk rangkaian konten yang sangat kreatif dan imajinatif.
Masyarakat selalu memiliki agensi atau strateginya sendiri untuk mengungkapkan frustasi yang mereka rasakan. Ketika protes terang-terangan tidak lagi bisa dilakukan, bahkan bisa jadi mengancam kebebasan bahkan nyawa, mencari celah-celah kecil dengan membuat pemerintah ini menjadi bahan tertawaan adalah cara yang sah untuk dilakukan.
Saya sendiri sebagai penikmat, merasa apa yang saya khawatirkan sudah terwakili dan disuarakan dalam berbagai konten ini. Banyaknya orang yang membuat konten ini, entah demi view karena mengejar algoritma trending, sekadar lucu, atau memang memiliki kesadaran mengenai kondisi sekarang, bagi saya ini adalah harapan akan Indonesia yang lebih berkesadaran. Semakin banyak anak muda yang peduli tentang apa yang terjadi di negara ini. Para netizen di TikTok ternyata tidak sebuta itu akan politik di Indonesia. Banyak anak muda yang ternyata memang peduli.
Saya tidak tahu tumpukan imajinasi dan kreativitas para kreator ini akan bermuara ke mana, tapi bagi saya ini sebuah harapan. Saat suara-suara yang lucu ini terus menerus diproduksi dan direproduksi, membangun kesadaran yang lebih luas akan apa yang terjadi di sekitar kita, saya harap, entah dalam bentuk apa, kegembiraan menertawakan my little bolu ketan ini akan membawa Indonesia keluar dari kegelapan.
Daftar Sumber:
Mikhail Bakhtin’s Carnivalesque: Meaning, Features, Grotesque Body & UGC NET Notes
Komentar
Posting Komentar