Perjalanan Menuju Sehat

Setahun berjalan mencari kewarasan ternyata bukan perjalanan yang lurus mulus.  Ada hari-hari yang bisa dijalani dengan positif optimis, tapi tidak jarang tiba-tiba saja, entah dari mana, aku terpicu dan semua ingatan akan rasa sakit itu muncul lagi, dan lagi.

Baru semalam, setelah berhari-hari terasa sehat, baru bekerja dengan produktif, makan saja biasa di Nanamia. Lalu datang satu bayangan menakutkan yang diikuti dengan banjirnya ingatan dan ketakutan akan rasa sakit yang sudah pernah terjadi. Kepala ini tahu bahwa kejadiannya tidak ada, bahwa yang sudah terjadi memang sudah ada di masa lalu. Tapi ketakutan ini rasanya mencekam tubuh. Dicegah untuk dirasakan pun pada akhirnya ketakutan dan rasa sakitnya tetap membanjir tidak terbendung.

Rasanya lumpuh. Karena ketakutannya, karena kelelahannya. Ketakutan ini bukan datang tanpa diduga. Selama berjalan sekitar setahun ini, aku jadi tahu ada ranjau-ranjau yang akan meledak di sana sini dan membuka lagi luka-luka yang belum tertangani. Ranjau yang kalau sudah bisa aku duga letaknya, akan aku buru dan aku ledakkan duluan. Tapi seperti semalam, ada ranjau yang tidak aku duga tersimpan di balik sepiring pasta. 

Ya memang sudah tidak lagi menjadi kabut gelap dalam kepala seperti dulu. Rasa sakit ini sudah kusadari sebagai residu, tidak lagi akan menyeretku dalam sekenario lama yang sudah tidak bisa lagi diubah. Rasa sakit yang membuatku menjadi waspada, bagian mana yang masih menjadi monster gelap yang akan muncul lagi dan lagi jika tidak digarap.

Menyebalkannya adalah rasa lelah dan tidak berdaya yang terus-terusan aku rasakan. Semua orang berkata sabar, aku yang tidak sabaran. Aku melakukan semua cara agar ranjau-ranjau itu bisa kutemukan dan aku ledakkan lebih cepat. Tapi ternyata, sabar memang jawabannya. Semesta punya waktunya. Aku hanya tidak mau menjadi beban lebih lama, merepotkan lebih banyak orang. Di luar teman curhat yang biasa, aku sudah berjalan bersama 4 konselor/psikolog/terapis. Belum lagi plus-plus teman Pastur yang menemani. Dan ternyata masih ada hari seperti hari ini. Hari di mana semua energi yang rasanya terisap habis karena harus bertahan waras dan bergerak.  Akibatnya, sampai Solo dengan sandal selen.

Eniwe, terima kasih untuk masih ada menemani dan membantuku tetap berdiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Autoetnografi apaan sih?

Tes Rorschach: Antara Manual dan Kenyataan

Berbicara Autoetnografi