Postingan

Menampilkan postingan dengan label resistensi

Berusaha Menjadi Tidak Normal

Ambyar. Begitu kata Kalonggedhe mendefinisikan dirinya yang kehilangan arah setelah menyelesaikan penulisan tesisnya dan lulus dari kuliah Pascasarjana. Tesis memang membuat gelisah, tetapi lulus memberikan kegelisahan yang lain. Bagi beberapa orang yang bisa menjalani kehidupan normal, masa transisi mungkin bisa dilakukan dengan mudah. Lulus, melamar pekerjaan, diterima, lalu bekerja. Beberapa yang berada dalam ikatan dinas malahan sudah mendapatkan SK penugasan sebelum tesisnya sepenuhnya tuntas. Kegelisahan yang lain lagi, tapi paling tidak, mereka tidak mengalami fase hilang arah.  Menjadi merepotkan dan membuat ambyar adalah bagi orang-orang yang tidak suka dengan kehidupan normal. Seperti saya saja misalnya, tidak suka rutinitas, tidak suka terikat lokasi, melarikan diri dari rasa sepi, tidak suka birokrasi, tidak suka jadi subordinat, suka melawan, tidak suka sistem. Banyak sekali yang tidak saya sukai ya...  Atau seperti teman saya Kalonggedhe yang saya sebut di a...

Katanya pada Mulanya adalah Perlawanan…

Mulai sekolah di sekolahan yang saya jalani ini, pada mula pelajaran saya sudah dihadapkan pada artikel yang berjudul demikian, “Pada Mulanya adalah Perlawanan…” Ceritanya, kalau saya nggak salah inget dan gagal pahan, tulisan ini menunjukkan bahwa pada awal mula pembentukan kajian budaya adalah adanya perlawanan atau resistensi dari kelompok-kelompok budaya tertentu. Di mana ada suatu hegemoni atau kekuasaan maka disitulah kajian budaya akan ada dan bersuara. Di mana ada ketertindasan di situlah seharusnya orang yang bisa bersuara menyuarakan suaranya sendiri atau menyuarakan suara-suara orang lain yang tertindas. Suara orang yang mendapatkan double colonisation. Bahkan salah satu sarat yang harus dipenuhi dalam membuat tema penelitian tesis salah satunya adalah adanya perlawanan dari tema yang diangkat tersebut. Ada kaum yang dibela atau suaranya disuarakan dalam penelitian tersebut. Itu retorikanya.