Postingan

Menampilkan postingan dengan label mental health

Tips Mencari Bantuan Psikolog

Dalam satu tahun terakhir setelah kekacauan yang terjadi dalam hidup, aku mulai dengan cukup rutin bertemu dengan psikolog. Alhamdulillahnya sebagai orang yang pernah kuliah di psikologi, aku jadi punya cukup banyak teman yang psikolog dan mengetahui faedahnya untuk berbicara dengan orang yang punya keahliannya. Pengalamanku sebelum waktu-waktu ini juga bertemu dengan psikolog itu membuat kepala bisa terasa lebih bening dan keluar dari pusaran pikiran yang sering kali susah kita selesaikan sendiri. Ada cukup banyak psikolog dengan berbagai versi yang aku temui. Satu orang laki-laki yang Pastor dan Psikolog Klinis, satu orang Suster yang Psikolog, satu orang ibu sepuh yang konselor feminis, satu psikolog perempuan dengan metode Kinesiology, dan terakhir yang aku temui dan masih meraba-raba adalah satu orang ibu dengan metode grafology dan hypnoterapi.  Aku jelas priviledge dengan banyaknya orang yang bisa aku akses selama ini, dan semuanya gratis. Aku jadi bisa membandingkan mana ya...

Mimpi yang sehari-hari

Sebagai penggemar fanatik YouTube, salah satu yang akhir-akhir ini kutonton adalah kepindahan Pandji Prangiwaksono ke New York untuk mengejar mimpinya menjadi stand-up komedian di negara di mana kesenian tersebut sudah memiliki sejarah panjang. Akhir-akhir ini rasanya orang-orang memiliki berbagai mimpi yang besar-besar melibatkan kepindahan ke luar negeri atau kepemilikan sesuatu yang begitu besar.  Aku jadi melihat ke diri sendiri. Sepanjang hidup, sampai beberapa tahun yang lalu aku orang dengan mimpi yang jelas. Ingin menjadi penulis dan semua yang aku lakukan mengejar hal tersebut. Sampai akhirnya aku sudah menulis, menjadi buku dan terbit. Rasanya mimpi itu sudah tercapai, dan aku tidak tahu lagi mau ngapain.  Pernah juga aku ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri. Namun pada waktu itu kondisinya adalah aku ingin ke luar negeri karena mengejar seseorang. Patner dengan siapa aku ngobrol setiap hari, orang dengan siapa aku merasa dekat dan ingin terus dekat, sedang belaj...

Perjalanan Menuju Sehat

Setahun berjalan mencari kewarasan ternyata bukan perjalanan yang lurus mulus.  Ada hari-hari yang bisa dijalani dengan positif optimis, tapi tidak jarang tiba-tiba saja, entah dari mana, aku terpicu dan semua ingatan akan rasa sakit itu muncul lagi, dan lagi. Baru semalam, setelah berhari-hari terasa sehat, baru bekerja dengan produktif, makan saja biasa di Nanamia. Lalu datang satu bayangan menakutkan yang diikuti dengan banjirnya ingatan dan ketakutan akan rasa sakit yang sudah pernah terjadi. Kepala ini tahu bahwa kejadiannya tidak ada, bahwa yang sudah terjadi memang sudah ada di masa lalu. Tapi ketakutan ini rasanya mencekam tubuh. Dicegah untuk dirasakan pun pada akhirnya ketakutan dan rasa sakitnya tetap membanjir tidak terbendung. Rasanya lumpuh. Karena ketakutannya, karena kelelahannya. Ketakutan ini bukan datang tanpa diduga. Selama berjalan sekitar setahun ini, aku jadi tahu ada ranjau-ranjau yang akan meledak di sana sini dan membuka lagi luka-luka yang belum tertangan...

Setelah 29 Juli

Beberapa bulan ini hidup rasanya jungkir balik tanpa disangka. Bukan, bukan karena pandemi. Ya pandemi memang mengubah banyak hal, tetapi tidak hanya itu. Jungkir balik ini diawali dengan sebuah pesan impulsif yang kukirimkan pada seorang kawan pada 29 Juli lalu. Pesan yang kukirimkan untuk meminta pertolongan, memohon bantuan. Pertolongan yang baru kusadari sudah kucari sejak berbulan-bulan sebelumnya, bahkan mungkin beberapa tahun yang lalu. Rasanya tiba-tiba saja aku menjalani kehidupan yang berbeda sejak 29 Juli itu, kehidupan sebagai orang yang sedang sakit mental. Hidup sebelum 29 Juli juga bukan hidup yang baik-baik saja sebenarnya. Dua atau tiga bulan sebelum itu rasanya aku sudah hidup menjadi semacam sayur-sayuran. Rutinitas yang hanya berkisar seputar kirim paket dan nonton YouTube dari pagi sampai dini hari lagi. Kepala yang biasanya sibuk berpikir dan membuat berbagai macam skenario tiba-tiba saja terasa jadi putih polos. Saat-saat itu aku sudah mulai curiga, untuk kepal...