Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

Menggenggam Bilah

Gambar
Ini adalah minggu yang heboh buat saya. Ada sahabat yang akan pindah, ada seorang adik yang sakit, ada berita yang mencemaskan, dan yang paling menggegerkan ada seorang teman yang tanpa disangka malakukan tidakan drastis dalam kegalauan. Dan terbawa g alaulah saya dengan semua yang terjadi. Saya sebagai orang yang hobi galau dan gundah jadi tidak dapat menyalurkan hobi saya menggalau ke temen-temen saya, karena semuanya lebih susah dibanding saya sendiri. Konselor saya juga lagi ujian, jadi lagi galau juga. Mau galau sama sahabat saya yang mau mengungsi, rasanya dia yang pastinya lebih galau dengan kepindahannya. Dibanding saya yang hanya akan kehilangan dia, dia akan kehilangan semua yang dia kenal di sini dan memulai hidup baru di tempat yang baru. Jadi ya di sinilah saya akan menggalau malam ini. Dalam segala keadaan gundah yang sedang dan sudah terjadi, saya melihat bahwa banyak orang termasuk saya sendiri sangat menikmati berada dan bertahan dalam posisi di mana mereka bisa terus

Untukmu

Gambar
Adalah suatu kebodohan yang kutemukan ketika kutuliskan ini. Maka dalam sudut tersembunyi ini kutuliskan. Ingin kau temukan tapi tidak juga rasanya. Bukannya tanpa disangka bahwa rasa ini pada akhirnya ada. Aku sudah melihatmu sejak malam pertama di ruangan itu. Tapi itulah kamu, selalu antara ada dan tiada. Berada dekat yang terasa tidak bisa dijangkau. Tidak ada salah melangkah di sini, hanya otakku yang membacamu sebagai orang yang terlalu sempurna. Mungkin otakku inilah yang buta huruf dalam membaca, mungkin logikaku ini tidak berjalan dengan benar pada jalurnya. Karena rasanya hanya aku yang melihatmu sempurna. Yang menikmati setiap kebodohan dan sarkasmemu. Mungkin hanya aku yang menterjemahkan bahwa hal kecil seperti membuka dan menutup jendela mobil waktu itu adalah ungkapan perhatian yang kamu berikan pada orang di sampingmu yang kedinginan kemudian kepanasan. Mendapatimu sebagai orang yang selalu ada, tahu bahwa di ujung sana kamu akan menyempatkan diri membalas semua sms yan

I Have a dream

Seperti malam-malam sebelum hari ini di mana aku berkutat mencoba menemukan tulisan yang layak untuk dipaparkan di depan seorang bapak yang disebut dosen. Dan seperti malam sebelumnya aku menjebak diriku dalam menuliskan hal-hal yang tidak berhubungan dengan kata Identitas Sosial, diskriminasi, in-group, out-group dan seputar itu. Aku ingin menulis seputar mimpi. Mimpi yang datang tiba-tiba setelah Nasional. is. me. Pernah terlintas sebelumnya, mengapa di Indonesia tidak ada (atau aku yang ga tahu) buku anak yang ringan ajah tapi keren seperti buku karangan Enid Bylton. Masih ingat dan beberapa saat lalu berbagi ingatan dengan seorang teman, betapa menyenangkannya membaca buku-buku karangan Enid. Salah satu yang kami bahas saat itu adalah bagaimana semua makanan yang diceritakan dalam buku-bukunya terasa sangat enak dan menggiurkan. Bahkan tulang buat Timmy aja kayanya enaaakkk banget. Masih ingat dengan Minggat edisi Lima Sekawan, dimana anak-anak Lima Sekawan melarikan diri ke Pu

Rindu. Rindu dari balik selubung

Rindu sering didefinisian sebagai keinginginan yang amat sangat untuk bertemu dengan seseorang, apalagi dengan orang-orang yang sudah lama tidak ditemui. Dan definisi yang kubuat sendiri ini rasanya sering juga tidak berlaku untukku. Rindu terasa paling mengigit ketika di akhir hari seperti malam ini. Setelah sepanjang hari tertawa, setelah sepanjang hari bersama. Setelah menikmati nyamannya bersama semua orang. Dan aku semakin haus akan semua kebersamaan ini. Rasa ingin bertemu dengan sangat. Rasa ingin mengulur hari menjadi sepanjang mungkin, memaksa badan hingga batas kelelahannya. Rasa yang akan menghilang perlahan ketika semakin lama tidak bertemu, rasa yang semakin menghilang ketika suara tawa itu mulai menghilang gaungnya. Hingga aku mempertanyakan rasa ini. Kadang terasa ini adalah segala yang kupaksakan untuk ada. rasa samar dari balik selubung yang kutarik ke permukaan dan kupelihara hanya demi menikmati rasa nyeri tapi enaknya. Apapun itu, semua kebersamaan yang kurasakan,

Sempu

Gambar
Berawal dari greneng-greneg dan karena lama sudah tidak bermain ke luar kota, maka kusambarlah kesempatan pertama saat terlihat sedikit kesempatan untuk bisa kemping, di pantai pula. Tujuannya adalah Pulau Sempu. Tidak tahu seperti apa tempatnya, bahkan keluargaku tidak tahu pulau ini eksis ketika kupamiti mau berkunjung ke pulau ini. Hanya pernah mendengar pembicaraan teman-teman tentang betapa kerennya tempat ini. Persiapan yang penuh keraguan apakah perjalanan ini akan terlaksana. Sedikitnya member yang akan berangkat, jauhnya Malang dari Yogyakarta, sampai tertundanya perjalanan sampai lebih dari 12 jam karena banyaknya pekerjaan yang belum diselesaikan. Dan akhirnya, Sabtu, 9 Juli 2011 pukul 9 malam, berangkatlah aku bersama 4 orang teman menembus malam menuju ke Malang . Menjelang siang, setelah perjalanan non stop selama 12 jam, melalui jalan menembus pegunungan yang berkelok-kelok dan naik turun, sampailah kami di Pantai Sendang Biru. Teluk dengan air yang tenang dan bersih

Pagi ini

Gambar
Dan pagi ini ketika aku melihatmu, hancur luluh lantak sudahlah pertahananku. Usaha berhari-hari untuk tidak merindukanmu, usaha berhari-hari menahan kesakitan yang serasa meremas jantungku. Setelah dengan segenap upaya aku berhenti untuk mencoba menguhubungimu. Dan hancur sudahlah... Kamu yang bahkan tidak tahu aku ada. Jadi untuk apa sebenarnya semua rasa sakit ini. Rasa sakit yang menyisakan rasa manis yang membuatku mencandu.Hingga menginginkanmu lebih dan lebih lagi. Dan ketika aku tahu kamu hanyalah candu. Candu yang hanya akan menyakiti hidup ini. Mengapa aku tidak berlari pergi?? Aku semakin ingin menemukanmu, semakin mata ini terus mencarimu. Hingga kuputar duniaku agar aku tidak melewatkan satu kesempatan pun untuk menemukan keberadaanmu.

Pedih yang diciptakan

Gambar
8 Februari 2011. Hari yang dimulai dengan biasa saja. Pagi yang malas dan panas. Ada sedikit kehawatiran, tapi tak mengapa lah... Dan kabar itu datang melalui telpon, kabar bahwa sudah terjadi perusakan dan pembakaran gereja di rumah. Masih setengah percaya, dan kekhawatiran itu menjadi gelembung besar yang menyesaki dada. Hanya bangunan memang yang rusak, ada seorang korban yang kutahu dan tidak diakui. Mungkin karena pencitraan, mungkin menghindari kekacauan, mungkin ada ancaman. tapi kabar yang tersembunyi itu malahan menimbulkan kabar gelap yang simpang siur. Dan entah bagaimana menggambarkannya. Rasanya pedih dan menyakitkan. Otak ini mengerti bahwa hanya banguannya yang rusak. Tapi rasa sakit ini ada dan menimbulkan ketidakberdayaan. Ada kemarahan mengapa bisa sampai terjadi, ada ketakutan ketika melihat masih banyak penjagaan yang dilakukan, masih ada ancaman akan terulangnya hal yang sama. Kehilangan ini besar rasanya. Aku tidak mengerti apa yang hilang, tapi setiap kenang