Postingan

Tubuh yang berubah dan bagaimana kita menerimanya

Gambar
Kemarin adalah untuk pertama kalinya aku menjalani prosedur suntik mata di RS Dr. Yap. Suntik mata itu ternyata beneran suntik, matanya ditusuk gitu. Walau ternyata proses sebenarnya tidak semenakutkan itu sih. Setelah antri di pendaftaran, lalu antri lagi di persiapan one day care. Di situ pasien di panggil bersama keluarga untuk tanda tangan inform consent, dilakukan pemeriksaan tekanan darah, tekanan mata, dan diberi gelang berwarna pink. Biar tidak tertukar sama orang lain. Di kening di atas mata yang akan dilakukan tindakan juga dikasih tanda biar tidak salah suntik nanti dokternya.  Kemudian setelah menunggu lama sekali dan baru dilakukan tindakan. Pasien dipanggil satu demi satu, diajak masuk ke ruang tunggu ruang operasi yang semi steril tulisannya. Sebelumnya semua pasian diminta melepaskan alas kaki di luar ruangan.  Kami sekitar 5 orang diminta duduk dulu dan diabsen satu demi satu. Ketika ada satu nama yang ternyata belum ada, semua perawat jadi bingung dan mencari ke mana

Membuat batas

Aku ini termasuk orang yang terbuka, terbuka banget malah sama apa yang sudah dialami dan terjadi dalam hidup. Apalagi untuk orang-orang yang sering main sama aku, pasti tahu bahkan tanpa diminta aku  akan update sendiri untuk kondisi kehidupan yang dialami. Termasuk juga untuk perkembangan terakhir kesehatan ini. Ke dokter aja aku bisa laporan ke beberapa orang, buat hiburan. Tapi yang bikin aku biasanya jadi malas dan menarik diri adalah reaksi dari orang-orang yang heboh, kaget, lalu menyarankan banyak hal. Walau terbuka, aku tu canggung menghadapi emosi, apalagi malah jadi aku yang perlu memberikan ketenangan ke orang lain. Respon ini menjadi salah satu alasanku enggan periksa gula ke apotek. Aku sudah tahu ni hasil pemeriksaan akan tinggi, yang aku engga siap adalah reaksi kaget dari orang yang memeriksa dan jadi merasa harus menjelaskan apa yang sudah aku lakukan, atau memang hal itu sudah terbiasa terjadi.  Mulai minum obat ini juga jadi perlu ancang-ancang kalau pergi makan sam

Jaring Pengaman Sosial

Gambar
Awal Juni adalah perayaan ulang tahun masal untuk lingkaran A1 pertemanan saya. Tiga hari berturut-turut tiga orang dari delapan anggota grup WhatsApp Gerombolan si Berat merayakan hari lahirnya. Ulang tahun yang berbeda kali ini karena kita sedang berada di tahun pandemi. Ulang tahun yang malah bisa jadi paling meriah daripada sebelum-sebelumnya.  Saya dan teman- teman dalam foto di atas, sebagian besarnya adalah teman dari masa perkuliahan. Kenal sejak masuk tahun 2005, mulai pisah-pisah kota setelah lulus sekitar tahun 2010. Dalam 15 tahun berteman ini baru pas ulang taunan itu aja kami melakukan video call, dan tidak pernah kami lakukan lagi sampai sekarang. Di masa yang tidak pasti begini, dengan kehidupan di luar pandemi yang menghantam tanpa bisa dihindari keberadaan orang-orang ini menjadi jaring pengaman sosial yang menyenangkan untuk menjaga diri ini tetap waras. Saat pulang dan pindah kota menjadi hal yang lumayan terlarang, menyenangkan untuk bisa pulang ke Kalasan dan kete

Tidak tahu bagaimana rasanya sehat

Dua bulan terakhir ini aku akhirnya memutuskan untuk melangkah menghadapi kewajiban kesehatan yang sudah tertunda sekian lama. Sejak 2021 sudah ada hutang merawat gigi yang tambalannya patah, dan baru akan aku urus di tahun ini. Dan tiba-tiba saja di tengah awal bulan Maret kemarin ada bercak di mata yang semakin lama semakin terasa mengganggu, dan inilah saatnya. Terima kasih kepada BPJS yang sudah membuat semuanya mudah dan gratis, maka aku mulai dengan mendatangi faskes satu untuk mengobati mata. Lalu datang lagi untuk rujukan gigi, lalu datang lagi untuk mengurus gula darah. Sesuatu yang sudah didesakkan oleh Daniel sejak dia juga mulai menjalani pengobatan.  Proses yang sudah disadari harus dijalani, tapi ada juga kaget-kagetnya dengan diagnosis yang diberikan dokter.  Saat akhirnya tes lab untuk gula kemarin, hasil labnya jauuhhh lebih tinggi dari yang biasanya aku cek di apotek. Hasil pemeriksaan mata juga membutuhkan tindakan, disuntik dan dilaser-laser karena tumbuh banyak pem

Menuju Shopia Latjuba 2024

Gambar
Hari yang aku tunggu-tunggu sekian lama akhirnya tiba. Angka di timbangan menunjukkan 68.90. Akhirnya aku ada di bobot 60-an. Berat teringan di masa dewasaku. Bahkan lebih ringan dari saat aku SD, karena aku ingat betul saat kelulusan ada profil yang harus aku isi, dan di situ berat badanku sudah 72 kg.  Perjalanan menurunkan berat badan ini merentang lebih dari 10 tahun. Awalnya tidak diniatkan untuk menurunkan berat badan sebenarnya. Di 2010, setelah ketidaknyamanan badan sedemikan rupa, setelah kondisi-kondisi yang aku tidak pahami sebabnya, akhirnya aku cek ke Prodia dan menemukan bahwa gula darah puasa saat itu ada di angka 285 dari yang seharusnya di bawah 100. Saat itu aku 23 tahun.  Perjalanan dimulai dari titik itu. Tidak berobat karena merasa mahal, dan bisa ditangani dengan cara tradisional. Resep dari guru Papahku adalah rebusan bunga lidah buaya selama periode tertentu tanpa terputus. Dan Papahku mencarikan berkuntum-kuntum bunga lidah buaya yang sebelum saat itu aku tidak

Ragusa dan Sepotong Cerita

Tulisan ini adalah tugas yang dibikin di kelas menulis karena ikut Prakerja dan sayang kalau cuma jadi tugas aja.  Ragusa pasti bukanlah nama yang asing bagi para penikmat kuliner di Indonesia. Salah satu icon di pusat kota Jakarta dengan es krim spaghetinya yang khas. Tentu saja ini menjadi tempat yang tidak saya lewatkan ketika berkunjung ke Ibu Kota. Di siang hari yang panas, tentu saja akan sangat menyenangkan untuk menikmati sepiring es krim spagheti atau sepotong es krim rum raisin yang terbuat dari susu segar. Memasuki ruangannya, kita akan disambut dengan ruangan yang tidak terlalu luas dengan pencahayaan yang temaram. Meja kursi lawas, dan beberapa foto hitam putih banyak menghiasi tembok-tembok di dalam resto. Kami bertiga beruntung bisa duduk di dalam dekat dengan meja kasir. Setelah memilih beberapa jenis es krim, kami berkesempatan mengobrol dengan Ibu pemilik resto. Seorang perempuan keturunan Tionghoa, yang mungkin berusia sekitar 60 tahun, saya tidak bertanya berapa

Tips Mencari Bantuan Psikolog

Dalam satu tahun terakhir setelah kekacauan yang terjadi dalam hidup, aku mulai dengan cukup rutin bertemu dengan psikolog. Alhamdulillahnya sebagai orang yang pernah kuliah di psikologi, aku jadi punya cukup banyak teman yang psikolog dan mengetahui faedahnya untuk berbicara dengan orang yang punya keahliannya. Pengalamanku sebelum waktu-waktu ini juga bertemu dengan psikolog itu membuat kepala bisa terasa lebih bening dan keluar dari pusaran pikiran yang sering kali susah kita selesaikan sendiri. Ada cukup banyak psikolog dengan berbagai versi yang aku temui. Satu orang laki-laki yang Pastor dan Psikolog Klinis, satu orang Suster yang Psikolog, satu orang ibu sepuh yang konselor feminis, satu psikolog perempuan dengan metode Kinesiology, dan terakhir yang aku temui dan masih meraba-raba adalah satu orang ibu dengan metode grafology dan hypnoterapi.  Aku jelas priviledge dengan banyaknya orang yang bisa aku akses selama ini, dan semuanya gratis. Aku jadi bisa membandingkan mana yang c