Sakit, Nyeri, dan Trauma

Disclaimer: 

Nyeri: 

  1. berasa sakit (seperti ditusuk-tusuk jarum atau dijepit pada bagian tubuh); rasa yang menimbulkan penderitaan
  2. n Psi pengalaman fisik dan emosional yang diakibatkan karena luka pada jaringan

Sakit: 

Berasa tidak nyaman di tubuh atau bagian tubuh karena menderita sesuatu (demam, sakit perut, dan sebagainya)

Trauma: 

  1. keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani
  2. luka pada tubuh atau fisik

Sumber: KBBI VI Daring (kemdikbud.go.id)

Tulisan ini akan menggunakan pemahaman saya sendiri mengenai sakit, nyeri, dan trauma. Sakit saya maknai sebagai kondisi yang tidak seimbang di badan, bisa jadi kita tidak merasakan sesuatu yang signifikan dalam keseharian, seperti sakit diabetes misalnya. Tidak ada rasa nyeri yang dirasakan di situ, tapi tubuh juga tidak berada dalam kondisi seimbang. Bisa jadi kita tahu ada ketidakseimbangan itu dari hasil angka laboratorium, bukan apa yang kita rasakan. 

Nyeri adalah sesuatu yang membuat kita merasakan sakitnya di badan, rasa ketika ada yang luka, patah, radang, kejepit, salah urat, rasa yang seperti itu. Sedangkan trauma adalah sakit atau nyeri atau luka yang terjadi pada jiwa atau pikiran kita karena suatu hal yang sudah terjadi. 

Dan dalam beberapa waktu ke belakang ini saya sedang mengalami combo ketiganya dan ini tulisan mengenai pengalaman itu. 

 

Seperti dalam beberapa tulisan terakhir, saya sedang banyak berbicara mengenai pengalaman sakit, saya mulai mengurusi kesehatan saya dengan lebih benar, dan ya sakit itu lebih banyak ditunjukkan oleh angka hasil tes daripada apa yang saya rasakan.Walau mungkin saya tidak pernah tahu apa rasanya sehat, tapi tidak merasa ada yang salah juga dengan diri saya, hidup berjalan baik, bekerja berjalan walau mungkin tidak maksimal. 

Kondisi ini kadang membuat saya bingung ketika ada teman dekat yang bertanya, "Gimana kabarnya? Sehat?" Kalau dibilang sehat, ya rasanya sehat-sehat saja, hidup dan aktivitas berjalan dengan normal. Tapi di lain sisi rasanya ingin menjelaskan juga, aku masih minum obat untuk menjaga angka-angka tetap normal, janji dokterku masih mengantri untuk dipenuhi setiap minggunya. Hal yang sama terjadi ketika ada orang yang pernah tahu permasalahan hati yang pernah aku alami. Rasanya menjawab baik dan sehat saja, bukanlah jawaban yang layak. Rasanya ingin bilang, saat ini aku berfungsi dengan normal, tapi ya tidak senormal itu, begitu banyak residu yang masih tidak bersih, Ada beberapa hal yang dulu merupakan hal alami yang biasa saja kulakukan, sekarang tidak lagi bisa kulakukan. 

Baru beberapa minggu ini aku diingatkan lagi bahwa masih ada trauma, masih ada luka yang tersisa karena pengalaman tidak enak di masa lalu. Sejak 2018, melayat menjadi kejadian yang sangat-sangat traumatis. Kejadian yang mengingatkan aku akan rasa sakit yang tidak tertanggungkan. Kematian orang terdekat dari teman menjadi hal yang menakutkan untukku. Apakah aku bisa memahami kehilangan mereka? Apakah aku boleh menemani? Di mana seharusnya aku berdiri dalam kondisi seperti itu? Dan sampai kemarin, 6 tahun kemudian, aku masih mengalami ketakutan untuk melayat. Takut akan mengalami rasa sakit yang sama, takut akan bertemu kenalan lama yang akan membangkitkan rasa sakitnya. 

Malam ketika aku menimbang apakah aku akan melayat, dan ketika aku mendapatkan jawaban, "kalau takut, ya tidak usah berangkat." Saran teman yang menemaniku malam itu. 

Rasanya malah lukaku ditegaskan lagi. Rasanya aku diingatkan bahwa ternyata aku masih terluka ya, aku merasa cacat karena untuk melakukan hal yang sangat alami, lumrah, normal, normatif, aku tidak bisa. Aku harus bertarung seharian dengan diriku hanya untuk memutuskan apakah aku akan pergi melayat, siapa yang akan aku temui, bagaimana keadaan itu akan aku tanggapi, mengingat pengalaman sebelumnya aku bisa mental breakdance ketika menghadapi moment serupa. 

Aku akhirnya berangkat dengan memantapkan hati. Aku perlu merasa normal. Walau kejadiannya ketika sampai, bertemu dengan teman yang berduka, sedikit berbasa-basi, duduk sebentar, dan aku langsung pergi. Tidak sampai lima menit, aku hanya ingin merasa sudah melakukan hal yang sewajarnya sebagai anggota masyarakat. Lalu aku pulang dan makan bebek. Aku senang aku selamat hari itu. Aku tidak perlu merasakan rasa sakit yang kutakuti akan kurasakan. Namun aku juga menyadari bahwa ada bekas luka dalam hati dan kepala yang masih tersisa, ada batasan yang masih perlu aku lampaui. Ada ruang-ruang yang masih ingin aku datangi tanpa rasa takut. 

Di antara ketiga hal di atas, nyeri badan ternyata adalah hal yang paling tidak bisa aku abaikan. Beberapa minggu yang lalu, Bapak dan Simbok sakit yang menyebabkan mereka tidak bisa bangun selama beberapa hari. Pengalaman sakit yang lebih parah daripada terserang covid beberapa tahun yang lalu. Sakit yang ternyata menulariku dan sampai beberapa waktu kemarin, aku masih merasakan nyeri hilang timbul di kaki atau sendi-sendi lainnya. Ada obat yang sangat mujarab, tapi aku rada takut pakainya. Jadi kalau engga parah banget, aku tidak minum obat itu.  

Jadi selama beberapa waktu aku kesulitan bagun tidur, berjalan, jongkok di kamar mandi, bahkan ada masa-masa tidur saja sulit karena rasa nyeri di kaki, dan malam itu aku tidak menyimpan pereda sakit apapun. Rasanya dibandingkan sakit, nyeri ini membuat hari-hariku lebih tidak bahagia. Dia terus berdenyut dan mengingatkan ada yang tidak beres di badanku. Dia terus berteriak minta diperhatikan dan rasanya mendesak untuk diredakan. Kalau mengingat pengalaman orang yang mengalami nyeri sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur berhari-hari, aku jadi bertanya bagaimana menjaga agar pikirannya tetap berjalan dengan waras. Ketika rasa sakitnya mulai mereda, aku baru mulai bisa kembali merasakan happy-nya hidup.

Kedua faktor lain, sakit dan trauma, rasanya menjadi sesuatu yang ada masanya bisa dilupakan ketika hidup bisa berjalan dan berfungsi dengan cukup normal. Walau kelelahan mental itu juga bisa bikin tidak bahagia sih. Paling tidak, untukku, butuh dua tahun dari hari H kekacauan, sampai aku bisa merasa bisa berfungsi normal dan merasa bahagia dengan cukup konstan. 

Pastinya pengalaman-pengalaman ini membuatku merasa lebih murah hati dengan segala struggle yang dialami oleh orang-orang di sekitarku. Ketika kita tidak tahu rasa sakit, nyeri, atau trauma apa yang sedang ditanggung, ketika keputusan-keputusan yang mereka ambil tidak sesuai dengan apa yang kita duga, ketika mereka tidak berada sebagaimana yang kita inginkan, rasanya aku merasa lebih bisa memaklumi. Kupikir, semua orang sedang berada pada rasa sakit, nyeri, dan traumanya sendiri, atau sedang berusaha keluar dari situ. Dan pasti semuanya sedang melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan, dengan sumber daya dan pengetahuan yang dimiliki pada saat ini. 



Komentar

  1. Keep pushing it, sistah! I know you’ve got this. YOU ARE DOING GREAAT! 🩷

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Autoetnografi apaan sih?

Tes Rorschach: Antara Manual dan Kenyataan

The Geography of Faith