Tahun Apalah ini?

Dua ribu duapuluh enam baru masuk bulan ketiga, tapi rasanya hidup begini amat ya...

Berita kematian yang datang tidak habis-habisnya. Salah satu yang sangat mengejutkan adalah hilangnya Mas Sigit, tukang fotocopy kesayangan yang dikabarkan hilang saat mancing di tepi laut. Kabar yang datang seminggu setelah kejadian gegara aku mau pesan buku dan ga dibalas-balas, malah dapat berita mengejutkan. 

Berita lain adalah PHK yang terjadi di lingkaran A1, lalu kasus KS yang menimpa teman satu komunitas. Untuk pertama kalinya aku melihat KS dari sisi pelaku. Melihat dan bahkan mengalami sendiri kekacauan yang terjadi karena satu kejadian yang dilakukan dengan tidak adanya pertimbangan. Memperbaiki beberapa kerusakan yang ditinggalkan, ikut merasakan khawatirnya akan masa depan beberapa orang yang aku kenal langsung manusianya. 

Belum habis rasa terkejut ini, masih menyesuaikan diri dengan semua perubahan yang terjadi. Semalam satu lagi kabar kematian datang. Dab Supri bakso yang pergi. Beliau memang sudah tampak sakit beberapa waktu terakhir. Ada yang bilang sejak putrinya meninggal pandemi lalu, beliau tidak lagi sama. Aku pun merasakan demikian. Badannya mengurus, kakinya menghitam, tapi keramahannya tidak pernah hilang. Selalu menyapa dan menggoda semua pengunjungnya. Menghapalkan setiap nama, pesanan, siapa sedang berpacaran dengan siapa. Bahkan yang tidak berpacaran pun bisa jadi muncul berita berpacaran kalau sama Dab Supri.

Aku baru kenal dan akur sekali sama beliau sejak pindah menjadi mahasiswa Mrican di Beringin. Dab Supri adalah kunjungan wajib setiap hari selama hampir 10 tahun aku studi dan lanjut studi dan lanjut lagi ke kampus entah ngapain. Beliau yang sudah hapal pesanan-pesananku. Jika mie ayam, maka baksonya dobel, jika bakso mie putih berarti tanpa bakso goreng. Minumnya dulu nutrisari anggur waktu masih merasa muda, sekarang sudah ganti jadi es teh tawar. 

Waktu pandemi dan kampus harus tutup, aku mengikuti perpindahan Dab Supri ke warung-warung di sekitar kampus. Aku juga kenal baik dengan Putrinya Mbak Wati yang sama ramahnya. Sambutan yang sama, keramahan yang sama. Mungkin dibandingkan Romo Rektor, Dab Supri mengenal dan menyentuh lebih banyak mahasiswa Sanata Dharma sepanjang dia berjualan di kantin. Ada yang bilang di salah satu komentar, ini adalah perwujudan dari cura personalis yang sebenarnya. 

Berasa Dab Supri kita dilihat dan dikenali satu demi satu sebagai individu. Kita diperhatikan dengan dipanggil namanya, dihapalkan apa isi mangkok bakso favorit kita. Kita selalu disambut dan merasa pulang ketika kembali ke kantin. Sosok yang begitu berkesan dan aku abadikan menjadi salah satu tokoh dalam cerita Maria Kirana. Dab Supri yang menggoda Kirana. 

Beberapa waktu lalu, sudah ada berita ada Pak Supri tukang bakso yang meninggal dunia, kami semua sudah geger karena mengira itu beliau, dan ternyata bukan. Sekarang pada akhirnya, Dab Supri sudah beneran pergi, 

Tahun macam apa ini, Gusti? 


Dab Pri, Selamat jualan bakso ke Vidi Aldiano






Komentar

  1. Kalo jajan disana tanpamu selalu nanya, cantik kok ga sama anne... :(

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gajah dalam Ingatan

300M yang Mengubah Hidup