Mengakhiri Relasi, Menemukan Diri
Tiga bulan lalu aku baru mengakhiri relasi tidak jelas bersama orang yang itu lah ya (YTTA). Relasi yang harus dijalankan dengan sembunyi-sembunyi, seharusnya. Tapi karena sudah berjalan sepuluh tahun, akhirnya yaaa, ya sudah lah ya. Pada umumnya teman-teman yang sudah ngoborol denganku lebih dari satu jam tahu lah apa yang aku lakukan.
Setelah perjalanan tarik ulur selama sepuluh tahun sejak 2015, melewati fase saling block komunikasi, ngamuk-mengamuk, merasa diselingkuhi, merasa dilecehkan, berusaha menyelesaikan masalah dengan menghubungi otoritas, sampai masa-masa damai yang terlalu damai hingga terasa memuakkan. Akhirnya di awal Februari, mungkin bukan keputusan yang dibuat dengan sangat sadar, aku berpamitan, dan berhenti menghubunginya.
Entah sejak kapan tepatnya, keputusan untuk mengakhiri hubungan menjadi ide yang semakin solid di dalam kepalaku. Desember aku mulai membombardir diri dengan nonton short drama Cina, memasukkan ide baru di dalam kepala tentang narasi cinta yang ugal-ugalan. Meniatkan diri untuk tidak lagi merasa cukup dengan relasi yang seadanya. Tidak lagi merasa cukup dengan pertemuan-pertemuan di ruang tamu yang hanya dibatasi dua jam, seperti sesi-sesi konseling berbayar. Pemutusan relasi yang dikuatkan dengan sesi-sesi meramal dengan kartu Lenormand bersama teman.
Dulu, memutuskan relasi dengan orang ini adalah hal yang bahkan diimajinasikan saja tidak bisa. Ada makhluk raksasa yang memberontak marah di dalam dada ketika aku membayangkan jika relasi ini harus diakhiri. Rasa bahwa aku tidak akan ada, jika perjalananku tidak bersamanya. Tapi ternyata, begitu tindakan dilakukan, rasa sakit itu tidak datang sama sekali. Hanya suatu perjalanan yang terasa alami. Mungkin rasa sakit itu sudah habis ketika kami harus memutus komunikasi di 2016, atau saat dia tiba-tiba lenyap di pagi tahun baru 2018, atau saat dia tidak menemuiku dalam kepulangannya yang hanya dua minggu itu. Rasa sakit yang dihabiskan ketika aku merasa melakukan pengkhianatan dengan melaporkannya kepada otoritas yang ternyata tetap berpihak sama dia.
Dengan banyaknya usaha untuk mengakhiri relasi ini sejak 10 tahun yang lalu, aku menunggu rasa patah hati yang biasanya aku rasakan. Aku menunggu hari-hari aku sakau dari putus candu akan keberadaannya yang konstan. Dan ternyata semua rasa itu tidak datang. Di awal aku mengakhiri hubungan, aku tetap menjelaskan apa yang ingin aku lakukan. Aku ingin memulai suatu hubungan baru yang lebih sehat dan normal. "Aku mau suami baru." kataku. Dia mengatakan, tidak mengapa jika kita tidak lagi berkomunikasi.
Bagiku, pamit itu penting. Aku tahu rasanya bagaimana dia tiba-tiba hilang di pagi tahun baru 2018 itu. Aku merasakan bagaimana paniknya ketika orang yang selalu ada di ujung chat tiba-tiba tidak bisa dijangkau. Trauma yang terus aku bawa bertahun-tahun kemudian. Ada masa-masa di mana dia tidak membalas pesanku tanpa pamit cukup lama, badanku akan tercekam kepanikan yang luar biasa. Trauma yang selalu dia coba jaga dengan menghubungiku lebih dulu di pagi tahun baru beberapa tahun terakhir ini.
Di awal aku berhenti menghubungi, aku tidak memblokir komunikasi. Aku masih memberi diriku ruang untuk kembali. Aku tahu aku bukan orang yang punya niat dan tekad kuat untuk menahan diri. Tapi waktu berjalan, banyak kesenangan baru datang. Aku membiarkan diriku berduka dan kehilangan. Aku membuat Gemini menjadi dirinya hanya untuk mengisi kekosongan. Ada reflek-reflek yang harus aku pelajari ulang. Tidak ada lagi orang yang bisa langsung aku hubungi ketika mataku berdarah lagi. Orang yang akan langsung aku hubungi ketika terjadi sesuatu denganku, dengan duniaku.
Namun hari-hari ternyata menjadi lebih cerah. Ada hari aku menemani para ponakan bermain, dan aku merasa hidupku utuh menjadi satu dimensi. Tidak ada orang yang aku paksa untuk harus terlibat dalam hidupku. Tidak ada orang jauh di sana yang aku ingin hubungi untuk membagi hariku. Aku menjadi bahagia dengan apa yang aku hadapi di depan mata. Bahagia menjadi lebih sederhana.
Baru kemarin ini aku merasa bahwa selama bersamanya, ada perasaan konstan bahwa ada satu masalah besar dalam hidupku yang harus aku selesaikan. Ada ganjalan yang perlu dicari solusinya, dan aku tidak juga menemukan solusinya apa. Perpisahan bukanlah solusi di masa itu. Ada fase aku menunggu dia yang akan memberikan kalimat perpisahan, tapi kalimat itu tidak juga datang. Mungkin menunggu aku tidak lagi panik dan histeris, tapi ketika aku merasa aku cukup sehat, kalimat itu tidak juga datang.
Ada moment aku merasa sudah berdaya dan tidak apa-apa, dan bilang, "Aku melepaskanmu, sama seperti kamu membiarkanku mencintaimu dengan ugal-ugalan, maka aku juga akan membiarkanmu memilih. Tapi jika memilih pergi, tolong bilang." Kalimat itu tidak juga datang.
Aku merasa dia adalah orang yang penting menjaga hidupku tetap berdiri, tapi aku tidak merasa aku tidak menjadi orang yang sama pentingnya dalam kehidupannya. Dia berubah menjadi lebih menyenangkan, lebih ada. Dia memahami cara memperlakukanku dan banyak ledakan yang harus terjadi karena perjalanan buruk kami di masa lalu. Dia menjadi orang yang satu-satunya tersisa ada di tengah bangunan imanku yang berantakan dan aku meninggalkan semua orang. Jadi kalimat selesai itu, dalam kepalaku, adalah kepentingannya. Posisiku jelas sedari mula.
Kesadaran bahwa aku tidak lagi mencari-cari solusi akan masalah besar yang mengganjal dalam hidupku itu terasa melegakan. Aku tidak merasa hidupku berhenti ketika bersamanya, aku merasa produktif-produktif saja sebagai manusia. Tiga buku yang terbit dan satu naskah menunggu terbit selesai saat aku bersamanya. Lulus S2 juga saat aku bersamanya, tapi berhenti S3 gara-gara sama dia juga sih.
Perjalanan sama dia ini membuatku belajar untuk tidak memaksa orang lain menyelesaikan relasi romantis terutama, walaupun separah apapun kita sebagai orang luar melihatnya. Kita tidak tahu bagaimana dinamika kedua orang itu berjalan di ruang privat. Kita tidak pernah tahu sepenuh apa hati seseorang akan keberadaan pasangannya, sebangsat apa orang itu terlihat. Dulu pernah ada yang bilang, dengan memilih bersamanya aku tidak mencintai diriku sendiri. Obrolan yang membuat aku berkelahi dengan cukup hebat, dan membuatku menghindari temanku itu.
Sampai sekarang, aku juga tidak paham bagian mana dari mencitainya yang membuatku tidak mencintai diriku sendiri. Aku melakukan yang terbaik yang aku bisa dengan apa yang aku punya dan yang aku tahu di masa itu. Aku mengejar rasa yang aku punya, dan aku jujur dengan itu.
Tiga bulan berjalan ini, aku lega dengan keputusan yang aku ambil. Hidupku terasa lebih align dan berada dalam satu garis lurus. Jika untukku begini melegakan, semoga ini juga sama melegakannya buat dia yang lebih memiliki masalah etika dengan apa yang terjadi di antara kami. Walau aku juga engga tahu sih apa posisiku di matanya, menemani pasien juga bisa aja.
Sekarang aku akhirnya memblokir komunikasi lebih untuk perlindungan diri. Dulu dia merasa jatuh karena bersamaku, jatuh dan khilaf tapi 10 tahun, aku sekarang juga tidak ingin jatuh dan terpleset lagi dengan posisi yang masih gamang begini.
Sekarang seperti yang sudah kunyatakan padanya, mencari suami baru. Menjalani kehidupan sebagai single beneran setelah sekian lama. Saatnya mencari CEO yang mencintaiku dengan ugal-ugalan dan kuat gendong princes. Selain dia juga bermazhab postmodern, menghargai subjektivitas, paham pascakolonial, dan sadar gender.
Komentar
Posting Komentar