Dear You dan diasporakah aku?
Beberapa hari ini beberapa teman Cindo memberi rekomendasi untuk menonton film Dear You yang disutradarai oleh Lan Hongchun. Berasa nama temennya Bapakku deh Hongchun. Film tentang Cina diaspora yang terpaksa mengungsi di tahun 40an ke Asia Tenggara dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah menghindari perang. Migrasi ini terutama dilakukan oleh laki-laki Cina dengan meninggalkan keluarganya di Cina Daratan.
Film ini berfokus pada kehidupan Den Bhagseng yang saat itu
tinggal di Thailand dan berada dalam satu komunitas Tiociu. Plot dari ceritanya
berkisar pada pengiriman Qiaopi 侨批,
surat-surat dan uang yang dikirimkan dari para Cina diaspora ini kepada
keluarganya di Cina daratan. Bagaimana kisah-kisah hidup dan rasa rindu
dipertukarkan lintas negara.
Ketika rekomendasi film ini datang, aku jadi penasaran
sekali karena semua orang bilang filmnya bagus. Sayangnya, saat rekomendasi
datang, aku sedang ada di desa nih, masih beberapa hari baru akan balik ke
Jogja. Dan yang bikin deg-degan adalah ini bukan film yang populer secara pasar
di Indonesia. Dari jadwal yang ada setiap hari hanya ada satu layar itu saja
cuma satu jam penayangan dan tidak di semua bioskop. Tambah deg-degan apakah
film ini masih akan bertahan sampai aku balik ke Jogja.
Selain dari rekomendasi teman, aku juga melihat beberapa
review di medsos. Dari review itu, banyak yang menyatakan kalau ini adalah
gambaran sesungguhnya dari pengalaman Cina diaspora di Asia Tenggara. Beberapa
juga menyatakan kalau saat melihat film ini, mereka teringat kisah dari Kakek
atau Nenek mereka di zaman dahulu yang hidup susah di tanah perantauan. Tambah penasaran
lah aku.
Pagi hari sebelum balik ke Jogja, aku sudah memeriksa jadwal
tayang dan langsung memesan satu tiket lewat online. Itu saja tidak disiarkan
di bioskop tempat biasanya aku menonton, harus ke mall dulu yang jauh dari
rumah. Tapi tidak apa-apa, demi rasa penasaran sebagai orang yang menulis dan
meneliti tentang Cina-cina di Indonesia.
Menontonlah aku akhirnya. Sepanjang menonton, aku malah jadi
bertanya-tanya. Ini relatenya denganku di mana ya?
Bahasa yang tidak aku kenal. Setelah berbulan-bulan terpapar dracin yang berbahasa Mandarin, aku tidak mengenali satu kata pun yang ada di film ini yang menggunakan bahasa Tiociu. Bahasa apa dialek ya? Kehidupan yang diceritakan juga bukan kehidupan yang terasa aku kenali juga. Sebagian besar film ini mengambil latar tahun 1950an akhir sampai tahun 1960 di Thailand.
Selain perasaan tidak relate yang aku cari-cari itu, aku
sendiri merasa kalau sebagai film dan caranya bercerita malah bagus banget.
Rasa relatenya malah muncul ketika di akhir film, muncul tulisan tentang
bagaimana qiaopi ini sudah diakui oleh UNESCO menjadi ingatan dunia yang bercerita
tentang bagaimana kehidupan para diaspora Cina ini di era tersebut. Pernyataan
itu disusul dengan menampilkan lembaran-lembaran surat dengan penjelasan apa
yang ada di dalamnya. Kabar pertama yang dikirim ke rumah dari luar negeri,
ucapan selamat ulang tahun dari cucu kepada neneknya, dan banyak kisah-kisah
lainnya.
Baru di sini aku jadi merasakan relate dan indahnya film
ini. Relate bukan sebagai Cina diaspora, tapi relate dengan aku yang adalah
seorang yang banyak melakukan penelitian. Ternyata ini adalah wujud
sebaik-baiknya penelitian arsip. Sesuatu yang sudah banyak dilakukan oleh
teman-temanku, tapi belum pernah di Indonesia mewujud dalam sebuah film yang
bisa dibilang populer.
Di perjalanan pulang, aku jadi menilik kembali diriku
sendiri. Apakah aku Cina diaspora? Atau aku hanya orang Jawa saja yang tumbuh
di lingkungan Jawa modern, dan kebetulan saja sipit. Apakah aku tertarik dengan
kehidupan Cina diaspora di negara lain? Atau apakah aku tertarik dengan sejara
Cindo atau Cina diaspora yang lain? Rasanya aku sudah terlalu jauh untuk dibilang sebagai seorang Cina diaspora karena keberakarannya sudah di tanah ini. Aku tidak ada keterhubungan sama sekali dengan kecinaan di Tiongkok jauh di sana. Tidak ada saudara, tidak ada nama yang dikenali, tidak ada budaya yang dilakukan. Pendekatanku dengan Cina yang ada sekarang adalah pendekatan budaya populer karena kebanyakan nonton dracin dan nontonin dedek-dedek ganteng yang mencintai perempuannya dengan ugal-ugalan itu.
Kedekatan yang malah lebih aku rasakan dengan tempat di mana aku hidup. Baru siang tadi aku dalam perjalanan ke Jogja banyak ngobrol
dengan Bapakku tentang bagaimana pengalamannya dulu pernah bekerja di Industri
tembakau di Temanggung. Bagaimana relasi kuasa antara pabrik, pemilik gudang,
bakul, dan petani. Bagaimana uang dipertukarkan dan gatekeeping dijalankan. Apa
bahasa-bahasa dan perilaku yang harus dimiliki dalam bisnis yang perputarannya
bisa bernilai miliaran di sebuah kota kecil dan sepi di lereng Sumbing itu. Obrolan
yang untukku menarik sekali melihat bagaimana budaya keseharian terbentuk dan
membentuk budaya suatu kota atau komunitas.
Apakah aku perlu mendefinisikan ulang kepakaranku akan
kecinaan yang sudah menjadi bahan penelitian dan tulisan selama beberapa tahun
ini? Karena rasanya bukan pada ras dan budayanya yang membuatku tertarik. Aku
tidak berencana juga untuk melestarikan budayanya? Preservasi arsip tertentu
iya, tapi rasanya bukan dalam semangat melestarikan budaya. Atau yang aku bilang tadi, aku lebih tertarik pada keseharian yang memengaruhi kehidupan seseorang secara lebih luas.
Pengalaman hari ini rasanya menajamkan kembali kesadaranku sebagai
individu yang selalu berada dalam posisi liminal, selalu berada di ambang. Ketika
aku masih tidak bisa mendefinisikan diriku siapa berdasarkan kotak ras atau
budaya yang “tradisional.” Untuk ras, rasanya aku masih bukan yang ini juga
bukan yang itu.
Di sisi lain, rasanya satu yang malah relate dan menempel
dengan identitasku. Jika Dear You terasa begitu tidak relatenya, aku malah
merasa sangat relate dengan Moana sejak pertama kali melihat versi kartunnya.
Aku sampai bertanya-tanya, apakah leluhurku berasal dari Pasifik atau lautan?
Rasanya ada sesuatu di dalam diriku yang tidak aku kenali yang terguncang
setiap melihat Moana. Suatu rasa rindu yang meremas jantung. Mungkin juga ini
bukan masalah lautannya, mungkin aku merasa didengarkan oleh Moana. Seorang
perempuan yang tidak bisa duduk diam di peran-peran tradisional normal yang
masyarakat rencanakan. Perempuan dengan impian anehnya berlayar menjelajahi
dunia (akademis). Impian yang belum juga sampai hingga sekarang.



Komentar
Posting Komentar