Postingan

Gejayan Memanggil

Gambar
Empat belas tahun menjadi mahasiswa di Yogyakarta dan baru kemarin saya merasakan salah satu kebanggaan sebagai mahasiswa, ikutan demo. #GejayanMemanggil yang tiba-tiba ramai di sosial media selama beberapa hari yang mengundang mahasiswa dan semua elemen masyarakat untuk turun ke jalan menyuarakan aspirasinya karena berbagai hal tidak jelas yang berturut-turut terjadi di Indonesia hanya dalam beberapa minggu saja. Permasalahan Papua, kebakaran hutan, berbagai undang-undang bermasalah yang beresiko mengkriminalisasi siapa saja, dan banyak hal lain yang saya sendiri tidak yakin saya paham. Berita berseliweran ke sana ke mari sejak Minggu malam. Saya sudah share poster Gejayan Memanggil dan berniat untuk datang dan melihat apa yang terjadi. Pagi harinya dua orang teman sudah mempertanyakan poster tersebut dan menanyakan apakah saya paham dengan apa yang terjadi, diikuti dengan imbauan dari hierarki bahwa gerakan tersebut bisa berakibat kekacauan. Belum lagi menyusul selebaran d...

(Masih) Menjadi Cina

Gambar
Hari ini, salah satu permasalahan dalam diri yang saya kira sudah selesai dan tidak lagi menjadi masalah, ternyata tidak demikian. Dalam percakapan dengan seorang kanca plek sore tadi, saya baru menyadari betapa menjadi Cina itu masih menjadi ketakutan dan beban yang belum bisa saya lepaskan. Ternyata ada banyak lapisan mengenai persekusi atau diskriminasi, atau apapun lah namanya dari menjadi Cina, dan akhir-akhir ini juga menjadi Kristen. Tidak saja mengenai diejek sipit atau pokil, tidak hanya mengenai kesempatan yang tidak sama, tetapi ternyata ini mengenai kelangsungan hidup dan kebebasan saya, keluarga saya, dan habitat yang saya kenal. Sesuatu yang sering kali saya bicarakan, terkadang dengan nada yang terasa begitu biasa saja. Bagaimana misalnya kalau kami berbicara salah kepada orang yang salah. Bagaimana kalau kami melewati garis yang ternyata digariskan oleh orang lain dan tidak boleh kami lewati. Menjadi Cina tidak bisa sembarangan menjawab, bertindak, atau melawan. Tar...

Milly & Mamet, ini Bukan Cinta dan Rangga (Spoiler)

Berada di lingkungan yang banyak orang-orang film, dari aktor layar lebar , film maker , sampai kritikus film , mau ngomongin film tu kok rasanya jadi gagu ya. Apalagi saya ini bukan orang yang getol-getol amat nonton filmnya, tapi berhubung ini salah satu orang yang karyanya saya ikuti sejak awal, jadi saya kali ini mau berbagi sedikit pengalaman menonton filmnya. Ernest Prakasa adalah salah satu sutradara Indonesia yang karya-karyanya dianggap berkualitas dan selain Ngenest, tiap filmnya pasti sudah dipastikan ditonton oleh lebih dari satu juta penonton, termasuk akuh . Film-film dari Ernest selalu mengambil genre drama komedi dengan latar belakang keluarga. Saya tidak banyak menonton atau memahami bagaimana teknis suatu pembuatan film, jadi saya hanya ingin sedikit berbagi mengenai pengalaman dan pendapat saya setelah menonton film terakhir dari Ernest Prakasa ini, Milliy dan Mamet (ini bukan Cinta dan Rangga). Film Milly dan Mamet ini sedikit berbeda dari film-film yang sebelu...

Dilema Menjadi Hijau

Setiap orang pasti memiliki ketakutan terhadap sesuatu, entah apapun itu. Salah satu ketakutan yang saya miliki adalah takut kalau bumi ini kehabisan sumber dayanya. Saya paling tidak suka melihat berita penebangan hutan, beruang kutub yang kelelahan karena kehabisan es yang mengapung di lautan. Atau di saat saya sedang berada di tengah mall dan penuh lampu, rasanya menakutkan ketika disadari berapa banyak listrik yang digunakan untuk menyalakan semua lampu, mesin kopi, AC, dan entah apa lagi. Walaupun saya pada akhirnya berusaha untuk mengabaikan karena suka dengan mall dan AC. Naaa... sebagai seorang yang punya ketakutan kehabisan sumber daya begini. Saya kemudian jadi suka dan memilih untuk mengambil gaya hidup yang cenderung hijau. Beberapa di antaranya seperti memakai pembalut kain, memakai tas belanja, membawa tempat minum, dan baru saja terjadi adalah membeli sedotan stainless dalam rangka mengurangi pemakaian sedotan plastik. Semua hal tersebut dengan catatan kalau ingat, ka...

Berusaha Menjadi Tidak Normal

Ambyar. Begitu kata Kalonggedhe mendefinisikan dirinya yang kehilangan arah setelah menyelesaikan penulisan tesisnya dan lulus dari kuliah Pascasarjana. Tesis memang membuat gelisah, tetapi lulus memberikan kegelisahan yang lain. Bagi beberapa orang yang bisa menjalani kehidupan normal, masa transisi mungkin bisa dilakukan dengan mudah. Lulus, melamar pekerjaan, diterima, lalu bekerja. Beberapa yang berada dalam ikatan dinas malahan sudah mendapatkan SK penugasan sebelum tesisnya sepenuhnya tuntas. Kegelisahan yang lain lagi, tapi paling tidak, mereka tidak mengalami fase hilang arah.  Menjadi merepotkan dan membuat ambyar adalah bagi orang-orang yang tidak suka dengan kehidupan normal. Seperti saya saja misalnya, tidak suka rutinitas, tidak suka terikat lokasi, melarikan diri dari rasa sepi, tidak suka birokrasi, tidak suka jadi subordinat, suka melawan, tidak suka sistem. Banyak sekali yang tidak saya sukai ya...  Atau seperti teman saya Kalonggedhe yang saya sebut di a...

Lulus

Gambar
Beberapa saat ini saya mulai berpikir bahwa saya sering salah paham dengan diri sendiri. Saya merasa bahwa saya merupakan seorang yang introvert, penyendiri, tidak suka dengan manusia, jika bertemu dengan manusia terus menerus dalam jangka waktu lama akan membuat diri saya kelelahan, yang dalam kenyataannya ternyata tidak demikian. Dalam waktu beberapa bulan terakhir ini, bersamaan dengan habisnya masa studi untuk angkatan di sekolah, beberapa teman mulai mondok di GAS University untuk menyelesaikan kewajiban penulisan mereka. Saya yang berperinsip ‘tidak penting ke mananya yang penting sama siapanya’ jadi ikutan berkumpul di rumah tersebut. Membacakan beberapa tulisan, melampiaskan marah-marah pada beberapa orang, atau sekadar numpang tidur siang, nonton bola bersama-sama, atau minta makan kalau sedang ada yang memasak. Tidak berguna sebenarnya keberadaan saya di situ itu selain ngerusuhi. Kumpul-kumpul kali ini adalah tempat di mana saya belajar ulang bahwa sebagai seoran...

Ketika Agoni Tidak Boleh Menyanyi

Gambar
Sore, 14 Februari 2018, di tengah ribetnya COD dagangan, saya tiba-tiba mendapat kabar bahwa pementasan Agoni yang rencananya akan diadakan di Galeri Lorong malam itu, harus dibatalkan. Pementasan yang bertajuk "Pameran Solidaritas Tanah Istimewa" ini dibatalkan karena Pak Dukuhnya menghubungi pihak Galeri setelah beliaunya juga dihubungi oleh pihak kepolisian untuk membatalkan acara tersebut. Alasan yang diajukan adalah karena acara ini tidak pro dengan program pemerintah dan dianggap meresahkan. Siapa sebenarnya yang resah ya? Setelah saya ingat kembali pembatalan pementasan kali ini bukanlah kali pertama bagi Agoni sejak saya terlibat dengan mereka, tapi pembatalan sebelumnya terjadi beberapa hari sebelum pementasan, kali ini, kabar datang dua jam sebelum jadwal tampil. Apalagi bagi para anggota Agoni yang lain, ini pastinya pembatalan pementasan yang kesekian kalinya bagi mereka. Pembatalan ini pastinya memunculkan beragam reaksi dari orang-orang yang terliba...