Postingan

Berteman yang Begitu Menyenangkan

Sudah lama banget saya pingin nulis dengan tema ini, tapi entah kenapa tidak jadi-jadi juga sampai sekarang. Pernah dulu jadi satu tulisan tapi urung saya terbitkan. Dua hari ini tema ini balik lagi di kepala saya, dan saya putuskan untuk mencoba menuliskannya dan mempublikasikannya. Dulu saya adalah seorang yang takut dengan manusia lain. Teman-teman yang mengenal saya lebih dari tiga tahun pasti ingat bagaimana saya dulu. Saya tidak suka menyapa orang lain, apa lagi dengan tipikal wajah yang cenderung galak membuat orang-oarang juga tampaknya jadi enggan buat duluan menyapa saya. Jadi tambah anti sosiallah saya kala itu. Rumah saya itu toko, dan selama bertahun-tahun saya tidak pernah berdiri di toko untuk membantu Mamah saya. Menjadi pusat perhatian di toko itu begitu menakutkan buat saya. Saya juga akan memilih menghindar kalau berpapasan dengan orang yang saya kenal dengan tanggung. Saya bisa berlangganan di suatu warung atau rental dan tidak pernah bertukar percakapan dengan pen...

Dilemanya Warga Budaya Konsumsi

Gambar
Seminar Seminar “Dilema Warga Budaya (Konsumsi) & Ruang Publik” yang diadakan sama IRB baru saja selesai. Rasanya masih heboh dalam ingatan bagaimana rempongnya mempersiapkan itu. Dari bahan-bahan publikasinya, pendaftarannya, pembicaranya, sampai materinya. Sebenarnya saya nggak ngapa-ngapain lo dengan semua itu. Yang bikin TOR, poster, sertifikat, backdrop, daftar peserta, dan materi semuanya bukan saya. Saya cuma ikut mbingungi aja sebenarnya… Naaa… tapi saya bukan mau cerita soal seminarnya kok kali ini. Saya cuma mau cerita kalau saya tadi habis jalan-jalan ke Amplaz dan saya langsung ingat sama materi seminar yang membahas warga budaya konsumsi itu. Selain itu, saya sebagai warga IRB yang baru saja belajar mengenai Baudrillard tentang teori konsumsi dan segala macam mengenai analisis wacana kritis, rasanya itu sudah jagoan.

Para Sahabat...

Bagaimana menggambarkan ini ya.... Ini adalah saat-saat kacau yang terjadi dalam hidup saya. Kuliah dan beberapa masalah lain yang datang dalam waktu yang bersamaan. Keadaan yang membuat kondisi diri saya menjadi terasa begitu kacau. Rasanya semuanya menumpuk dan tidak ada yang bisa saya selesaikan. Saya tidak paham apa yang saya baca, saya harus menolak permintaan simbok saya untuk menemani beliau ke Jakarta dan mengalihkan kegiatan itu pada kakak saya. Penolakan yang mengambyarkan diri saya sendiri... Yang agak parah saya jadi beberapa kali mendapatkan serangan tangis yang sporadis, sewaktu-waktu, di mana saja dan kapan saja. Itu membuat saya agak repot memang. Kondisi ini membuat saya harus belajar untuk mengisolasi afek agar saya tetap bisa berfungsi dengan cukup normal lah minimal. Paling nggak saya tidak mungkin menangis heboh di tengah-tengah kuliah. Saya belajar untuk menggurung emosi saya agar bisa meledak di waktu yang saya inginkan. Bisa saya lakukan, tapi itu membuat tubu...

Kuliah yang Menyekaratkan

Gambar
Gila aku tidak bisa, waras aku tidak pantas Bisaku hanya neurotik -Status Facebook Felomena Joni Sema- Semester dua kuliah kali ini sudah berjalan setengahnya dan saya mulai merasakan atmosfer yang begitu menyesakkan di kampus. Pembicaraan-pembicaraan yang semakin berbau materi dan teori—becanda pun pakainya teori (tensor, suprastruktur, sublim, objek a, opoh jaalll?), status-status yang mulai curhat dari merasa tidak memahami materi sampai merasa mulai gila dan sekarat, seperti status teman sekelas saya di atas. Orang-orang yang mulai kuliah dengan mata yang mengantuk dan lingkaran mata yang hitam pekat. Sampai kelelahan akut dan histeria yang mulai terjadi di sana sini. Beberapa sudah mulai tampak seperti tubuh tanpa nyawa dan tanpa ekspresi, mati rasa katanya. Ada apakah gerangan? Kenapa keadaannya jadi tampak begitu menggalaukan?

Tuhan, Terima Kasih Sudah Menciptakan Jesuit

Sebenarnya saya isin banget mau nulis tulisan ini. Ya… teman-teman juga pasti tahu kalau saya itu isinan. Tapi karena baru tadi pagi saya belajar metode penelitian yang berbicara mengenai menjadi peneliti yang baik maka saya nekat untuk menulis ini. Sebuah penelitian yang baik itu harus mempunyai refleksifitas dari peneliti, menjadi lebih otentik terhadap pengalaman hidup, dan menentukan posisionalitas, jadi dalam tulisan ini saya mencoba untuk melakukan itu. Ya nggak yakin juga sebenarnya apakah ada hubungannya antara metode penelitian dengan tulisan saya kali ini. Hari ini saya disadarkan betapa banyak peran para Jesuit dan karya-karya Jesuit dalam hidup saya dalam empat tahun belakangan ini. Dan pengalaman saya hari ini yaitu dibantu bikin presentasi dan diajakin nonton film sama para Jesuit, membuat saya merunut kembali sejarah hidup saya ke belakang. Awal perkenalan saya secara langsung dengan manusia yang berlabel Jesuit ini

Manusia Berkarakter

Gambar
"Karakter yang kuat membuat seseorang menjadi pribadi yang utuh dan tangguh. Mereka tidak tergantung pada lingkungan, tetapi menjadi pemimpin dan pembaru bagi lingkungannya. Karakter merupakan inti dari manusia yang unggul dan bermartabat. Dengan karakter yang kuat, anak-anak akan mampu mengatasi berbagai tantangan hidup ini."  http://sanggarcantrik.org/tentang-kami/muatan-sanggar/ Sebagai seorang yang pernah bergumul di bidang pendidikan anak-anak, visi dan harapan seperti di atas adalah hal yang sangat akrab untuk saya. Di Pingit kami, para volunteer, juga memiliki harapan dan keinginan agar anak-anak menjadi seorang yang memiliki karakter yang baik. Namun karena Pingit merupakan salah satu kasus khusus, jangankan menjadi pemimpin dan membuat perubahan untuk lingkungan, pada satu titik kami hanya ingin anak-anak itu bisa bersikap baik dan sopan terhadap orang lain.  Masalah pendidikan karakter ini sendiri

Setelah Sebungkus Lotek

Hanya sebuah catatan galau... Kemarin, siang-siang, panas-panas, saya baru pulang kuliah dan jajan lotek di dekat perempatan, dan dalam perjalanan pulang bersama sebungkus lotek itu tiba-tiba muncul pertanyaan yang nggak jelas dalam kepala saya. Hidup itu ngapain sih sebenarnya? Saya kemudian melihat lagi sehari-hari saya ngapain ya... Pada umumnya dalam beberapa bulan terakhir ini aktivitas saya adalah kuliah, dolan, cari makan, bekerja kadang-kadang. Ya hanya seputar-putar itu saja kegiatan saya. Kegiatan simbok saya di rumah malah lebih tidak variatif lagi. Bangun, buka toko, tutup toko, buka toko lagi, tutup toko lagi, nonton TV, terus bobo. Ya diselingi mandi, makan, dan berkebun sesekali. Tapi ya hanya begitu-begitu saja tampaknya. Terus ngapain sebenarnya saya ini jalan-jalan di dunia ini, menghabiskan tempat dan oksigen?