Postingan

Gong Xi Fat Cai, pa?

Gambar
Kalau biasanya Dewi Lestari atau Dee memberikan nukilan bukunya yang akan terbit di buku-bukunya yang lama, maka ini juga nukilan cerita dari tulisan yang saya harap akan jadi segera. Belum tentu untuk diterbitkan sih, tapi paling tidak akan diujikan. Entah kapan, jangan ditanya! Karena penelitian saya adalah autoetnografi, maka data pribadi menjadi isi dari bab 2 penelitian saya ini, dan ini adalah sepenggal darinya. Ini adalah pengalaman saya di malam Imlek kemarin, karena pengalaman ini masih segar dan ternyata masih terasa emosi dan ketidaksenangannya, kalau tidak mau dibilang marah, jadi sama Bu Dosen disuruh mengevaluasi lagi setelah bisa ambil jarak. Jadi daripada dibuang sia-sia, maka saya taruh sini saja.

Tes Rorschach: Antara Manual dan Kenyataan

Gambar
Bagi orang-orang yang sudah mengenal ilmu psikologi, tes kepribadian yang satu ini bisa jadi merupakan sesuatu yang sudah akrab di telinga, walaupun mungkin tidak semuanya tahu bagaimana cara mengadministrasikan tes ini. Tes ini merupakan salah satu jenis tes proyektif yang dimaksudkan untuk mengungkap aspek-aspek kepribadian seseorang. Seperti kemampuan intelegensi, fungsi efo, dan aspek afeksi dari orang tersebut. Tes ini menggunakan stimulus berupa bercak tinta. Bagaimana bercak tinta itu dibuat? Ya seperti ketika kita masih di TK dan main-main dengan tinta yang diteteskan di kertas dan kertasnya dilipat dan kemudian akan muncul pola di kertas tersebut. Seperti itulah kira-kira stimulus dalam tes Rorschach ini. Tes Rorschach atau sebelumnya dikenal sebagai tes bercak tinta sendiri pertama kali dikenal di Tubingen, Jerman oleh seorang yang bernama Justinus Kerner pada tahun 1857. Kerner menyadari bahwa dia dapat melihat berbagai objek dalam bercak tinta tersebut. Kemudian pada t...

Manusia Tidak Dapat Hidup Hanya dari Ayam Penyet Saja

Gambar
Tahun ini adalah tahun ke-13 saya hidup merantau dan menjadi anak kos di Jogjakarta yang walaupun sering macet hebat tetapi masih saya rasa menjadi rumah yang nyaman bagi saya. Salah satu hal yang sangat menjadi pertanyaan setiap harinya sebagai anak kos adalah, “Mau makan apa hari ini?”

Standarisasi dan Akreditasi dalam Pendidikan Tinggi

Gambar
Sabtu, 11 April 2015 adalah salah satu hari bersejarah di Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya (IRB) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Hari itu IRB mendapat kunjungan dari dua orang assesor dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Seorang dari Universitas Hasannudin, Makasar; dan seorang lagi dari Universitas Indonesia Jakarta. Kunjungan yang menghebohkan seluruh fakultas dari hari Rabu, hari di mana pemberitahuan akan visitasi tersebut datang. Tiga hari sejak hari pemberitahuan itu datang, IRB jadi penuh dengan keriuhan. Semua mahasiswa, dosen, dan karyawan berbondong-bondong mempersiapkan diri untuk kunjungan tersebut. Mulai dari memeriksa ulang borang akreditasi yang sudah dibuat pada bulan November 2014, menata kelas yang akan digunakan untuk pertemuan, mempersiapkan berkas-berkas administrasi dan bukti-bukti yang dibutuhakan, sampai mencari hotel dan mobil untuk mobilitas kedua assesor yang akan datang tersebut.

Tesis Hari ini

Sudah beberapa lama ini jari-jari saya membisu. Tidak ada tulisan yang saya hasilkan, baik yang seriusan apalagi yang hanya galau-galau beginian. Untuk orang yang gaya-gayanya hidup dengan dan dari menulis, sudah terlalu lama saya tidak menghidupi diri saya sendiri. Rasa-rasanya begitu mampet dan buntet.  Hari-hari saya terasa begitu letoy, seakan saya terus menerus tertidur dan melesak di kasur dengan banyak bantal yang bertebaran. Otak saya mampet... Seharusnya saat ini, atau mungkin bukan seharusnya ya... sebaiknya, atau yang baik bagi saya saat ini sebenarnya adalah menyelesaikan kewajiban  utama sebagai seorang mahasiswa yaitu menulis sesuatu yang bernama tesis. Tetapi dalam waktu sekiranya dua bulan ini, saya selalu menemukan banyak hal yang bisa saya lakukan selain menulis untuk tesis itu.

Kemarahan-kemarahan ini

Marah-marah sebenarnya bukan problem baru dalam hidup saya. Bagi banyak orang yang mengenal dan mengikuti kehidupan saya sampai sekarang, pasti banyak yang sudah pernah melihat saya marah atau menjadi sasaran kemarahan saya. Sekarang hal ini mulai terasa menggangu saya dan saya perlu berbicara untuk memahami ini dan berharap menyelesaikannya. Banyak hal yang membuat saya marah dan menaikkan darah ke kepala dan membuat saya menaikkan nada bicara saya dan melontarkan banyak kata-kata yang menyerang orang lain. Percayalah, saya ahli dengan hal itu. Salah satu hal yang paling membuat saya marah adalah ketika ada orang yang memaksa saya melakukan sesuatu dengan alasan demi kebaikan saya, dan ketika saya menolak, saya masih dipaksa juga. Ada satu kejadian yang sampai sekarang kalau saya mengingatnya saya masih merasakan tercekat di tenggorokan ini karena masih pengen marah juga. Ketika itu seorang teman memaksa saya untuk ke Bali dan memaksa saya dengan ancaman. Saya sudah menolak dengan ...

Berbicara Autoetnografi

Ini adalah tugas kuliah Penulisan Artikel Ilmiah yang ternyata hasilnya menurut saya tidak terlalu ilmiah dan masih juga dalam proses revisi untuk proyek metodologi penelitian. Saya mah emang nanggung gitu orangnya (ternyata)... Belum selesai udah dipublish aja. Metode penelitian menggunakan autoetnografi adalah suatu metode penelitian yang masih terbilang cukup baru untuk digunakan dalam penelitian sosial terutama di Indonesia. Masih banyak perdebatan dan kritik yang ditujukan pada metode ini, antara lain adalah subjektifitasnya yang sangat tinggi, permasalahan mengenai kode etik dalam penelitian, kurang analitis, dan peneliti tidak perlu turun ke lapangan sebagaimana lazimnya suatu penelitian. Tulisan ini merupakan suatu argumentasi mengenai metode autoetnografi sebagai suatu metode penelitian yang akademis, valid, dan analitis dalam penelitian sosial, terutama dalam kajian budaya. Kata kunci: autoetnografi, metode penelitian Autoetnografi adalah salah satu metode peneli...