Postingan

Pembungkaman Media dan My Little Bolu Ketan

               Beberapa hari terakhir ini ketika saya scroll TikTok atau Instagram, ada satu lagu yang sering kali muncul, begini liriknya: MBG, Mas Bahlil Ganteng Buah apa yang paling manis? Buahlil! Tambah ganteng aja, my little bolu ketan. Lagu dengan suara imut hasil buatan AI dengan nada yang juga sangat easy listening ini jadi terngiang terus di telinga. Rasanya puas sekali ikut menyanyikan bagian lagu BUAHLIL! Selain lagu mengenai Menteri Bahlil ini juga ada konten lain yang sering kali muncul seperti orang-orang yang berbalas komen atau membuat video mengenai orang desa yang tidak menggunakan dolar. Dari konten nilai daun-daunan untuk membayar, juga teks-teks orang yang ingin melakukan barter barang-barang miliknya. Pesan yang disampaikan sama, kami memang tidak memakai dolar, kami masih bertransaksi dengan barter atau menggunakan daun sebagai alat pembayaran. Koten-koten ini benar-benar menjadi hiburan di tengah menegangkannya kehid...

Mengakhiri Relasi, Menemukan Diri

Tiga bulan lalu aku baru mengakhiri relasi tidak jelas bersama orang yang itu lah ya (YTTA). Relasi yang harus dijalankan dengan sembunyi-sembunyi, seharusnya. Tapi karena sudah berjalan sepuluh tahun, akhirnya yaaa, ya sudah lah ya. Pada umumnya teman-teman yang sudah ngoborol denganku lebih dari satu jam tahu lah apa yang aku lakukan.  Setelah perjalanan tarik ulur selama sepuluh tahun sejak 2015, melewati fase saling block komunikasi, ngamuk-mengamuk, merasa diselingkuhi, merasa dilecehkan, berusaha menyelesaikan masalah dengan menghubungi otoritas, sampai masa-masa damai yang terlalu damai hingga terasa memuakkan. Akhirnya di awal Februari, mungkin bukan keputusan yang dibuat dengan sangat sadar, aku berpamitan, dan berhenti menghubunginya. Entah sejak kapan tepatnya, keputusan untuk mengakhiri hubungan menjadi ide yang semakin solid di dalam kepalaku. Desember aku mulai membombardir diri dengan nonton short drama Cina, memasukkan ide baru di dalam kepala tentang narasi cinta y...

Tahun Apalah ini?

Gambar
Dua ribu duapuluh enam baru masuk bulan ketiga, tapi rasanya hidup begini amat ya... Berita kematian yang datang tidak habis-habisnya. Salah satu yang sangat mengejutkan adalah hilangnya Mas Sigit, tukang fotocopy kesayangan yang dikabarkan hilang saat mancing di tepi laut. Kabar yang datang seminggu setelah kejadian gegara aku mau pesan buku dan ga dibalas-balas, malah dapat berita mengejutkan.  Berita lain adalah PHK yang terjadi di lingkaran A1, lalu kasus KS yang menimpa teman satu komunitas. Untuk pertama kalinya aku melihat KS dari sisi pelaku. Melihat dan bahkan mengalami sendiri kekacauan yang terjadi karena satu kejadian yang dilakukan dengan tidak adanya pertimbangan. Memperbaiki beberapa kerusakan yang ditinggalkan, ikut merasakan khawatirnya akan masa depan beberapa orang yang aku kenal langsung manusianya.  Belum habis rasa terkejut ini, masih menyesuaikan diri dengan semua perubahan yang terjadi. Semalam satu lagi kabar kematian datang. Dab Supri bakso yang pergi...

Kecanduan Dracin, Merasa Sia-Sia Sudah Sekolah dan Belajar Berpikir Logis

          Akhir-akhir ini, nonton drama Cina atau dracin menjadi salah satu kegiatan doom scrolling yang paling sering saya lakukan. Biasanya potongan dracin vertikal ini akan lewat ketika melihat story-story di Instagram. Kalau menarik, saya akan mencari lanjutannya di Tiktok. Rasanya puas kalau bisa menemukan akun yang sudah buat playlist dan tinggal melanjutkan scrolling sampai habis. Biasanya drama Cina ini akan melibatkan hubungan cinta dan kekayaan yang luar biasa. Dua dracin yang saya tonton sampai akhir adalah tentang perempuan yang mempunyai guci ajaib yang membuat dia bisa berkomunikasi dan saling mengirimkan barang atau pesan dengan seorang perwira kerajaan di masa lalu. Pada awalnya yang dikirim masih dirasa umum dan “masuk akal” bisa dikirimkan dengan guci. Surat, air, makanan. Lama-lama yang dikirimkan semakin ekstrem. Handphone, tablet untuk mengambil foto di masa lalu, sampai mobil dan senapan untuk mengubah sejarah kekalahan perwira dari masa...

Catatan Harian Chindo-Agency

Jumat, 5 September 2025 Sudah seminggu sejak 28 Agustus kemarin. Situasi rasanya sudah berhasil dideeskalasi. Tidak lagi terdengar ada demo besar yang sampai membuat adanya kebakaran atau penjarahan. Rasanya semua pihak bekerja sama untuk menurunkan tensi. Netizen saling mengingatkan, DPR juga sudah mulai merespon berbagai tuntutan masyarakat, bahkan kemarin sudah secara resmi menerima perwakilan rakyat yang diwakilkan oleh beberapa influencer. Tentu keadaan tidak reda semudah itu. Masih ada beberapa anggota pemerintah yang melakukan blunder susulan dengan pernyataan kontroversial, lalu klarifikasi. Ada hoax dan isu baru di masyarakat, seperti isu penggunaan warna pink yang tiba-tiba saja jadi polemik. Sesuatu yang bukannya tidak diduga sebelumnya. Semakin berjalannya waktu, maka kondisi akan semakin terfragmentasi kupikir. Dari banyak hal yang terjadi, untukku yang menarik adalah pada beberapa demo terakhir, aparat melakukan pendekatan yang berbeda. Seperti di Jepara dan di Ka...

Catatan Harian Chindo-Demo

  Senin, 1 September 2025   Baru empat hari dari kejadian Affan yang dilindas oleh polisi, tapi rasanya sudah berlangsung lama sekali. Hari-hari setelahnya saya habiskan untuk memantau berita di internet. Setelah malam itu demo berlangsung di tengah hujan sampai pagi, lalu berlanjut ke keesokan harinya di semakin banyak tempat, lalu berlanjut lagi sampai hari ini. Hari ini sudah 7 orang yang tercatat pergi. Entah yang tidak tercatat. Satu mahasiswa dari Yogyakarta yang katanya lehernya patah dan tubuhnya penuh luka pukulan. Tidak bisa saya bayangkan menjadi orangtuanya dan menerima jasad anak mereka yang penuh luka. Banyak gedung sudah terbakar, mobil, halte. Museum dijarah. Rumah empat orang pejabat dijarah. Live Tiktok yang selama ini menjadi alat untuk merekam kenyataan di lapangan mati, fiturnya hilang dari aplikasi. Menariknya, suasana di Tiktok yang tadinya mencekam, langsung berubah total. Beranda jadi berisi konten-konten yang tidak lagi relevan dengan kondisi ...

Chindo dan Negara Hari Ini

Sejak semalam aku mengikuti postingan-postingan di media sosial tentang demo terakhir di Jakarta. Ada seorang pengemudi Ojol tewas dilindas mobil polisi. Jika aku tidak salah ingat, ini adalah korban tewas pertama sejak rangkaian demo Indonesia Gelap. Dan menurutku, ketika sudah ada korban tewas, maka ini bisa jadi akan menjadi titik di mana kita tidak lagi bisa kembali. Pagi tadi, berita komandan Brimob juga meninggal dunia. Kemarahan pasti sudah ada di dua sisi. Tiktok masih menyiarkan live orang berlarian di jalan dalam hujan sampai dini hari tadi, dan tampaknya tidak beristirahat sampai siang ini. Sosial media ramai, semua orang yang aku ikuti, bahkan influencer skin care yang tidak pernah berbicara politik dan demokrasi, pagi   ini ikut membicarakan Affan Kurniawan, nama yang bisa jadi akan seperti Wawan, atau Moses. Nama yang tewas saat memperjuangkan Demokrasi. Semua orang marah. Kemarahan yang pasti bukan saja terjadi karena satu kejadian ini. Kemarahan banyak orang yan...

300M yang Mengubah Hidup

Hampir semua orang kalau dapat 300M, pasti hidupnya berubah. Tapi kali ini uangnya tidak ada beneran, hanya khayalan gembel saya dengan seorang teman. Jika teman saya ini punya 7T yang entah dari mana, dia hanya Mbak-mbak pegawai Bank biasa tapi sedang mencoba trading, maka dia akan memberi saya 300M. Kami berencana akan membuat rumah atau ruangan buat menyimpan uang tersebut. Entah kenapa kami membayangkan uangnya akan berupa cash dan akan tumpah-tumpah gitu di simpannya. Jadi ruangan penyimpanan uang itu harus bisa dibuka dari atas biar uangnya engga mawut-mawut. Nah, jika punya uang sebanyak itu, mau ngapain terusan. Tentu saya dan teman saya yang biasa hidup ngepas ini akan berfoya-foya. Bayar-bayar hutang, beli-beli kebutuhan primer semacam rumah, dan mobil. Saya memilih untuk alokasi uang untuk perawatan kesehatan. Mungkin mencari alternatif pengobatan yang bukan BPJS untuk urusan mata. Mencari tahu apakah benar di Jepang ada suntikan yang bisa menumbuhkan gigi yang sudah tangg...

Menemukan Diri, Menjadi Penulis

Gajah dalam Ingatan

Gambar
Penyunting:        Sylvie Tanaga                              Irene Ossi W. Tata Letak:          Argha Yuda Pratama Cover:                 Yovi Sudjarwo   Link pembelian #beliGajah Scan barcode di bawah atau bisa langsung DM ke Instagram Neneshakka Dulu aku mikirnya cita-cita itu tercapai saat kita lulus kuliah, di umur 25 tahunan dan kalau tidak tercapai di saat itu, maka ya sudah, berarti cita-cita itu tidak tercapai. Ternyata hidup tidak berjalan selurus itu. Unya cita-cita untuk menulis sejak bisa baca novel-novel detektif dan mulai ingin menuliskan cerita petualanganku sendiri. Masih aku simpan buku tulis bekas buku anyaman di SD yang berisi tulisan cerita serombongan anak muda berklil...

Conclave dan aku yang suka mengamuk

Disclaimer: Bukan review film tapi spoiler. Sebagai orang yang senang sekali dengan film Spotlight, suka juga dengan Two Pope, saya penasaran dengan film Conclave. Apalagi setelah mendengar review dari Cine Crib, jadi langsung memantapkan diri untuk nonton walau mata masih burem banget waktu itu. Habis pendarahan. Jadinya nonton filmnya sama setengah burem dan tidak yakin teksnya kebaca. Ternyata sesuai dugaan, saya senang banget sama filmnya. Rasanya ada orang dengan posisi yang sama dengan saya dalam memandang gereja dan mempertontonkannya di layar lebar. Conclave yang menceritakan tentang bagaimana pemilihan Paus dengan semua intrik politiknya. Bagaimana ada Kardinal yang sudah menjadi calon kuat, ternyata sudah memiliki anak dengan seorang suster. Ada lagi Kardinal yang memiliki pandangan konservatif yang ingin memerangi Islam, apalagi ada pembomban yang dilakukan oleh teroris pada saat yang sama, dan tentu saja digambarkan dilakukan oleh teroris Islam. Kardinal lain memang ber...

Narasi dan Identitas

Sudah beberapa bulan ini saya kepikiran dengan bagaimana narasi terkait dengan identitas yang kita miliki. Hal ini terasa sekali ketika saya mengerjakan tulisan dan banyak membaca mengenai pembantaian orang keturunan Cina yang terjadi di tahun 1947 di Indonesia. Cerita-cerita itu rasanya memengaruhi saya secara pribadi. Apa yang terjadi pada orang-orang itu, bisa juga terjadi pada saya sebagai pemilik identitas yang sama, orang keturunan Cina. Apalagi sejarah di Indonesia selama ini melegitimasi bahwa hal itu berulang kali terjadi. Kegelisahan yang mirip terjadi lagi ketika membaca buku dari Ester Lianawati, Dari Rahim ini Aku Bicara. Dalam buku tersebut dijelaskan bagaimana wacana-wacana yang membentuk perempuan bisa terjadi sedemikian rupa sampai saat ini dan bagaimana seluruh perempuan menjadi korban dari wacana dominasi tersebut. Rasanya menyebalkan dan frustasi sekali kita membaca dan mengetahui adanya ketimpangan yang jelas terlihat, tapi terasa tidak ada tindakan yang bisa di...

Membaca Sejarah Cina di Indonesia

Beberapa bulan terakhir ini saya sedang banyak bergelut dengan kasus pembantaian massal orang keturunan Cina di Indonesia pada periode Agresi Militer Belanda di tahun 1946-1948. Dari salah satu sumber yang saya baca, TIonghoa dalam Pusaran Politik karya dari Benny G. Setiono, dia menceritakan bagaimana kejadian pembantaian tersebut dengan cukup mendetail. Tempat mana saja terjadi pembakaran pabrik, rumah, ataupun pemukiman penduduk sipil. Berapa perkiraan kerugian yang terjadi akibat keputusan untuk bumi hangus di masa itu. Berapa banyak orang Tionghoa yang tinggal di satu kota, dan apa yang terjadi pada mereka. Seperti di kota Salatiga, pada waktu itu ada 3000 orang keturunan Cina yang tinggal di kota tersebut, dan tersisa 12 orang. Sampai yang mengerikan adalah bagaimana penulis dari buku tersebut menceritakan dengan mendetail bagaimana pembunuhan yang terjadi.  Orang-orang tionghoa banyak yang dikumpulkan dan dibawa ke hutan, diminta untuk menggali lubang, dan dibunuh bersama di...

Duapuluh dua buku yang lalu

 "Ternyata aku sudah rewel bodo sama kamu sejak 22 buku yang lalu." Ketikku sambil tersenyum. Send!  Kukirimkan teks itu ke Adi, kekasihku sejak sembilan tahun yang lalu.  Sore tadi aku sedang sumpek di kamar yang sudah kutinggali sejak 30 tahun yang lalu. Rumah masa kecilku. Ya paling tidak aku mengusahakan untuk pulang satu bulan sekali untuk mengunjungi Mama dan Papa. Rasanya pulang menjadi berbeda ketika kita sudah semakin dewasa. Mungkin hanya untukku, tentu saja tidak bisa disamaratakan untuk semua orang. Untukku pulang tidak lagi karena aku rindu rumah, mencari tambahan uang saku atau perbaikan gizi. Di satu titik, kebutuhan giziku sudah bisa kuasup dengan berlebihan di tempat rantau ini.  Tapi pulang juga tidak menjadi kewajiban yang harus aku tunaikan. Memastikan kedua orang tua itu senang, sehat, dan hidup dengan baik. Membuat lebih mudah hari-hari mereka selama beberapa hari, atau malah membuat repot mereka dengan permintaan masakan yang sama sejak bertahu...